Rabu, 26 Maret 2014

Abu-abu

Chapter 1
Seharusnya pagi ini tidak pernah terjadi. Pagi yang cerah, dengan mentari ceria dan penuh kebahagiaan ini tak pernah sekalipun terpikirkan akan berubah menjadi kabut mendung dalam kehidupan beberapa manusia. Dari sinilah semua cerita kepedihan itu berawal.
Di antara serpihan lembut angin pagi, Mario bersama teman-temannya Jimmy, Han, dan Miko, sedang bergerombol duduk di taman kampus, ketika seorang gadis berlari-lari menghampiri temannya yang tengah duduk dibangku dekat kolam. Dia memanggil gadis yang duduk itu dengan nama, Anggie. Pandangan Mario pun tertuju pada gadis manis yang mengenakan blues warna biru laut yang membuatanya terlihat semakin anggun itu. Gadis yang dipanggil Anggie itu, mampu membuat Mario beberapa detik tak berkedip. Ternyata teman-teman Mario menyadari, jika sahabatnya sedang terpesona oleh seorang gadis yang tengah duduk dibangku dekat kolam bersama temannya itu.
“Wah, kayaknya ada yang lagi dapat target baru ni, Bro.” Celetuk Miko, teman Mario yang berambut kribo seperti penyanyi era-80an. Mereka pun tertawa dan saling bersautan menanggapi sikap Mario. Kemudian Jimmy, pria kurus yang sok playboy tapi setia kawan ini pun angkat bicara. “ Namanya Anggie, dia mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan internasional.”
“Dia anak politikus terkenal” Tambah Han dengan ekspresi wajah yang serius. Pria Chinest yang penampilannya mirip boyband ala Korea ini, kredibilitasnya tidak bisa disepelekan mengenai gossip dan informasi terbaru di kampus. Aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus membuatnya tak sulit untuk mendapatkan info dan gossip tersebut.
“Lo tahu dari mana?” Tanya Miko penasaran.
 “Apa sih yang nggak Han tahu? Tikus beranak di kampus ini aja dia tahu, apa lagi gossip besar kayak gitu. Ya nggak Han?” Kelakar Jimmy. Dan semua pun tertawa mendengar banyolan Jimmy, kecuali Han tentunya. Mukanya berubah cemberut mendengar ledekan Jimmy.
 “Dia kan demisioner BEM Fisip, jadi gw lumayan tahu lah tentang dia.”  Jelas Han menggebu-gebu.
“Emang bokapnya siapa sih?” Tanya Miko detail.
“Gw rada lupa namanya. Pokoknya dia ketua umum partai intregitas gitu lah.” Imbuh Han. Jimmy yang cukup mengikuti perkembangan dunia politik pun mulai menerka-nerka siapa yang dimaksud oleh Han.
“Partai Intregitas? Harlan Prawira maksud loh?” Tebak Jimmy.
“Bener-bener. Politisi yang terkenal frontal dan kritis itu loh.” Jawab Han membenarkan.
“Kalo nggak salah dia itu pernah jadi menteri tapi mengundurkan diri setelah 1 tahun masa jabatannya.” Tanya Jimmy yakin. Mendengar perbincangan sahabat-sahabatnya tentang Anggie itu pun membuat Miko semakin menjadi.
“Wah..mantab tuh. Beruntung banged kalo bisa pacaran sama dia. Udah cantik, anak pejabat lagi.”
“Udah jangan ngimpi..” Ledek Han.
“Ye, biarin. Namanya juga cita-cita. Kalo kita punya pacar anak orang berpengaruh kayak gitu, Kita bakalan lebih mudah dapat kerja. Syukur-syukur papanya rekrut kita disalah satu perusahaannya.” Khayal Miko berdalih.
“Adanya bukan kerja di kantornya tapi di rumahnya. Alias pembokat.” Ledek Han.
Semua pun tertawa dengan tingkah Miko yang terus berkhayal bisa menjadi kekasih gadis popular itu. Dan perbincangan mereka tentang gadis itu terus berlanjut dan semakin seru saja.
 “Masalahnya mana mungkin cewek sosialita kayak gitu mau pacaran sama cowok macam kita-kita gini. Cowok kere, yang sering nunggak uang SPP.” Ketus Jimmy.
“Menurut sumber yang gw dapet, anaknya tuh sederhana, ramah, baik, dan nggak pilih-pilih temen gitu.” Jelas Han.
“Wah, bener-bener Malaikat.” Kagum Miko.
“Nggak rugi emang kita punya temen biang gossip kayak lo Han.” Kembali Jimmy meledek Han.
Mereka pun saling meledek satu sama lain dengan asyiknya. Menyadari bahwa hanya Mario yang dari tadi tidak memberikan komentar, Jimmy pun heran.
“Eh, Mario..lo kenapa dari tadi diem aja.” Tanya Jimmy.
Dan semua pun ikut berkomentar tentang sikap Mario tersebut.
“Iye, neh..tadi dia yang liatin tu cewek, tapi dari tadi malah diem aja. Komentar dikit kek.” Imbuh Miko.
“Lo nggak serius mau jadiin dia target operasi lo kan?” Tanya Han dengan nada meledek.
Tapi berbagai komentar dari teman-temannya tak membuat Mario berbalik komentar, dia hanya tersenyum simpul dan menghabiskan minuman kalengnya.
“Ya…malah senyum ne bocah.” Celetuk Miko.
Tak ada yang yang tahu apa arti dari senyum Mario pagi itu. Dan tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan setelah pagi yang cerah itu.
----------
Di sudut taman, terlihat seorang gadis tengah duduk sendiri. Dengan wajah gusar, dan putus asa dia terdiam sambil memikirkan berbagai pertanyaan dalam hidupnya. Dan gadis itu bernama Anggie. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang tidak selamnya bisa kita dapatkan. Sesuatu yang dinamakan kebahagiaan. Tak selamanya uang bisa membeli segala-galanya, termasuk uang. Itulah yang terjadi pada Anggie. Materi yang berlimpah, juga strata sosial yang tinggi tak mampu memenuhi kemiskinanan hatinya. Jadi apakah uang masih bisa dibilang segala-galanya di dunia ini.
“Nggie…” Panggil seorang gadis yang berlari menghampiri Anggie yang tengah duduk sendiri di taman. Gadis itu nampak terengah-engah setelah berlari-lari.
“Gw nyariin elo dari tadi.”
Dengan heran Anggie melihat wajah gadis yang baru datang itu.
“Kenapa lo nggak bales sms gw?”
Anggie masih melihat dengan heran mulut gadis yang berdiri di depannya yang tak hentinya berbicara. Dia adalah sahabat Anggie, namanya Mona.
“Nggie…kenapa diem aja?”
Anggie tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Sejenak dia melupakan kesedihan batinnya.
 “Sorry ponselku lowbath.” Jelas Anggie.
Mona hanya mengangguk-anggukan kepala menanggapi alasan Anggie, tapi dia masih bingung melihat wajah sahabatnya itu nampak murung.
“Lo nggak lagi baik-baik aja kan?” Cemas Mona.
Anggie menghela nafas panjang panjang.
“Pasti lo lagi ada masalah kan?” Desak Mona.
“Papaku akan menikahi wanita itu.” Jawab Anggie lirih.
Mona terkejut mendengar cerita Anggie.
“Menikah?” Tanya Mona memperjelas.
Anggie hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Mona.
“Kapan?” Tanya Mona penasaran.
“Mungkin dalam waktu dekat ini. Aku juga kurang tahu” Jelas Anggie enggan.
“Terus lo setuju sama rencana pernikahan mereka?”
“Aku nggak ada pilihan lain. Dengan atau tanpa persetujuan aku mereka akan tetap menikah.” Jawab anggie pasrah.
Mona memahami perasaan Anggie, dia hanya memeluk sahabatnya itu untuk memberi dukungan.
“Udahlah nggak usah di bahas. By the way gimana skripsimu?” Tanya Anggie mengalihkan.
“Lancar dong. Lo?”
“Payah. Dosennya ngerjain aku melulu. Minta ini, minta itu. Pusing.” Keluh Anggie pada sahabatnya itu.
 “Hemm…kenapa elo nggak pake jasa konsultan aja?”
Anggie bingung dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu.
“Maksudnya?”
“Maksudnya elo pake jasa konsultan buat bantu lo ngerjain skripsi lo.”
“Konsultan skripsi?”
Anggie tidak tahu apa yang dimaksud oleh Mona, karena itu pertama kalinya dia mendengar istilah konsultan skripsi.
“Emang ada ya?” Tanya Anggie penasaran.
“Ada dong. Lo pikir selama ini skripsi gw lancar tanpa hambatan itu karena apa?” Sombong Mona.
Anggie semakin penasaran. Bagaimana sahabatnya itu bisa memakai jasa seperti itu.
“Mending kalo gw saranin lo pake Mario aja.” Bujuk Mona.
“Mario? Siapa dia?”
“Mario itu lulusan terbaik jurusan hukum di kampus kita. Gw jamin lo pasti langsung di acc sama pak Helmi.”
“Dia kan jurusan hukum, bagaimana dia bisa  ngerjain tugas akhir anak HI coba.”
“Emang lo pikir selama ini gw nggak pernah ngeluh-ngeluh soal skripsi gw itu berkat siapa? “
Anggie mulai mengingat kalau sahabatnya memang tak pernah mengeluh soal skripsinya, berbeda dengan dia yang selalu uring-uringan tiap selesai bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Berkat dia?” Tanya Anggie ragu.
“Ya berkat cowok yang namanya Mario itu.”
Anggie terkejut, mendengar jawaban Mona. Dia penasaran seperti apa orang yang namanya Mario itu? Bagaimana bisa dia sehebat itu. Mampu mengerjakan skripsi jurusan yang jelas-jelas bukan merupakan bidang studinya selama ini.
***
Jika manusia bisa memilih takdir dan nasibnya sendiri, semua orang di dunia akan bahagia. Tak akan ada yang namanya kesedihan, air mata, apalagi kemiskinan. Tapi hidup tak akan sesederhana itu, karena manusia mempunyai takdir dan nasibnya sendiri-sendiri. Jika takdir Tuhan yang menentukan bagaimana ceritanya, sedangkan nasib, kita sendiri yang menentukan bagaimana jalannya. Ada manusia yang sejak lahir diciptakan sudah bahagia, tapi ada juga yang sejak lahir hingga meninggal hidupnya biasa-biasa saja. Ada yang dari kecil hartanya berlimpah, tapi tak jarang manusia yang seumur hidupnya hanya menjadi seorang yang serba kekurangan. Pertanyaannya apakah itu termasuk takdir atau nasib manusia? Itulah yang sering menjadi pertanyaan Mario sejak dia lahir ke dunia ini. Dia tidak meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang sederhana dan penuh penderitaan seperti ini. Dia juga tidak bisa menolak ketika takdir mengambil ayahnya saat dia masih duduk dibangku SMA. Dia juga tidak mengeluh saat nasib merubah dia menjadi tulang punggung bagi ibu, dan kedua adiknya. Tapi meski begitu, jika sekarang dia diberi kesempatan dilahirkan kembali untuk memilih takdir dan nasibnya sendiri, dia tetap ingin menjadi Mario yang berjuang demi keluarganya. Karena Ibu dan kedua adiknyalah yang menjadi alasan dia tetap hidup hingga sampai saat ini. Hidup yang keras dan dunia yang penuh ketidakadilan ini wajar buatnya. Bagi orang-orang seperti Mario hidup adalah bagaimana dia harus banting tulang mencari uang, agar keluarganya bisa makan dan adik-adiknya bisa sekolah. Mimpinya sekarang adalah membuat dunia lebih adil baginya dan keluarganya. Agar kebahagiaan tak hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang ditakdirkan kaya sejak lahir, tapi juga bagi Ibu dan adik-adiknya yang menderita sejak Ayahnya meninggal. Dunia Politik yang keji dan penuh dengan intrik juga ketidak adilan membuat kejujuran Ayahnya menjadi boomerang. Dalam politik teman bisa jadi lawan, dan dengan uang hukum pun jadi abu-abu. Siapa yang tidak bisa beradaptasi dengan kebiasaan dan atmosfir politik seperti itu, maka dia akan jatuh dan tersingkir. Ditekan, dijatuhkan dan diinjak terus menerus membuat Ayah Mario menyerah, hingga akhirnya dia meninggal karena serangan jantung. Karena pengalaman pahit di masa lalunya itu lah ia berjanji akan mencari keadilan. Mimpinya untuk mencari keadilan dalam kehidupan Ibu dan adiknya, mendorong dia untuk berusaha keras mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengacara yang selalu mencari keadilan. Dengan cara apapun dia akan berusaha membawa Ibu dan adik-adiknya berada di tempat yang lebih layak dari sekarang.
“Kakak…” Panggil Marsya adik perempuan Mario, yang sekarang duduk dikelas 2 SMA. 
“Iya sayang, ada apa?” Jawab Mario sembari tersenyum hangat.
Marsya pun menghampiri kakaknya yang sedang menonton televisi.
“Ada apa adekku sayang..?” Tanya Mario kepada adiknya yang hanya terdiam dengan gelisah.
“Marsya belum bayar SPP bulan ini.” Jawab Marsya hati-hati sambil menundukkan kepalanya. Mario menghela nafas pendek, lalu tersenyum.
“Maafin kakak ya, hampir aja kakak lupa. Tapi kamu tenang ya, kakak udah siapin kok uang buat bayar SPP sekalian uang jajanmu satu bulan.”
“Makasih ya kak. Marsya sayang banged sama kakak.”
Marsya pun langsung memeluk kakak laki-lakinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Kakak juga sayang banged sama adek kakak ini.”
“Mama, di mana sih? Dari tadi kakak pulang nggak kelihatan.” Tanya Mario sambil celingukan mencari ibunya.
“Mama lagi ke tempat tetangga sebelah bantuin masak.” Jawab Marsya.
“Emang ada acara apa di sana?” Tanya Mario penasaran.
“Arisan. Mama bantu-bantu di sana.”
“Nino ikut?” Tanya Mario cemas.
“Hemm,..” Jawab Marsya sembari menganggukkan kepalanya.
“Kenapa mama pakai ngajak Nino segala”
“Paling bentar lagi pulang. Orang udah dari tadi sore kok.”
Mario mengangguk sambil tersenyum dengan senyum khasnya.
Mereka pun kembali fokus pada acara televisi yang mereka tonton. Ketika Marsya hendak mengganti saluran televisi, tiba-tiba Mario meminta agar tidak mengganti saluran televisinya.
“Tunggu..tunggu..jangan diganti, Dek!”
“Apaan sih?”
Marsya heran dengan sikap kakaknya yang mendadak tertarik melihat acara infotainment di televisi.
“Sejak kapan kakak suka nonton infotainment?”
“Sejak topik beritanya tentang Jenahara.” Ungkap Mario meringis.
“Apa bagusnya dia? Mukanya biasa aja ah..udah tua gitu.” Komen Marsya sinis.
“Ehm…3B. Brain, Beauty, and Behaviour.” Jelas Mario kagum.
“Aku juga bisa kayak gitu.” Sombong Marsya.
“Oya?” Ledek Mario kepada adiknya.
“Iya. Kita liat nanti, aku juga bisa terkenal kayak dia.”
Mario hanya mengangguk-angguk menanggapi ocehan adiknya sambil terus melihat berita tentang Jenahara, artis yang menjadi idola Mario sejak dinobatkan menjadi putri Indonesia di awal tahun 2000an. Artis 32 tahun yang sekarang menjadi politisi ini, kerap menjadi bahan pemberitaan yang ramai di media. Mulai dari berita perceraiannya beberapa tahun silam dengan mantan suaminya, hingga rumor terbaru tentang kedekatanya dengan sesama politisi yang belum diketahui identitasnya. Meski pun umurnya jauh lebih dewasa, dan statusnya yang seorang janda, tak membuat Mario berhenti memuja politikus wanita ini. Bagi Mario Jenahara adalah sosok wanita idamannya yang cantik, modern dan cerdas.
***
Banyak orang menilai bahwa kebahagiaan dimiliki kaum-kaum borjuis. Kebahagiaan dilihat dari seberapa banyak uang di rekening, seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, dan seberapa besar orang menghargai. Tapi apakah nilai suatu kebahagiaan hanya diukur dari hal-hal seperti itu. Pernahkan kita melihat cerita di balik kebahagiaan semua itu? Suatu kegelapan yang jauh dari yang namanya bahagia. Suatu kesepian yang jauh dari yang namanya damai. Dan suatu keterpaksaan yang jauh dari kata yang namanya puas. Inilah yang disebut adil. Tatkala kaum menengah ke bawah dengan keterbatasannya bisa tertawa lepas dengan hangatnya. Sedangkan kaum borjuis dengan hartanya tersudut dalam kesepian yang menghantuinya, dengan kekuasaan yang menggantung dalam kesombongan yang menggerogotinya, dan dengan materi yang tenggelam dalam ketidakpuasan yang membutakan hati nuraninya. Itulah kehidupan manusia yang sangat dekat dengan kehidupan Anggellina. Seorang putri tunggal dari seorang ayah yang bekerja sebagai politisi dan pengusaha sukses. Kehidupannya berubah sepi, ketika ayahnya sangat sibuk dengan profesinya dan tentu calon ibu tirinya. Waktu yang biasa dia lakukan untuk bermanja-manja pada ayahnya ketika malam tiba tak akan bisa dia rasakan lagi. Akhir pekan yang biasa mereka habiskan dengan memancing di kolam tak pernah ada cerita lagi.  Dan perayaan ulang tahun Anggie di malam pergantian tanggal rasanya sudah mulai terlupakan.
----------  
Tepat hari ini, tanggal 19 september aku berulang tahun ke 22. Tak ada yang aku inginkan dihari ulang tahunku ini kecuali kesempatan untuk bersama anda. Dari 364 hari dalam setahun, aku hanya meminta beberapa menit saja anda mau meluangkan waktu penting anda untuk menemaniku di hari terpentingku ini. Berkali ku lihat jam di tangan, tapi tetap tak ku lihat ada tanda-tanda kehadiran anda. Puluhan panggilan dan belasan pesan pendek sudah ku kirim tapi tak satu pun mendapat respon dari anda. Aku sengaja menunggu di tempat yang lokasinya dekat kantor anda, agar anda lebih mudah untuk datang. Ku habiskan waktu 3 jam ku dengan penuh harap dan asa bahwa anda akan datang. Sudahkah anda terima pesanku atau anda benar-benar lupa hari ulang tahunku? Atau memang anda sedang bersamanya? Wanita yang sedang anda cintai saat ini? “Aku cuma minta hari ini saja, pah…”
Ku pandangi kue tart yang mulai rusak karena lelehan lilin. Lalu tanpa sadar seseorang menghampiriku dan bertanya dengan nada kurang bersahabat.
“Sampai kapan kamu di sini?”
Dengan suasana hatiku yang sedang kacau, aku tidak begitu tertarik dengan kehadiran pria berstelan kemeja putih dan rompi hitamnya.
“Aku lagi nunggu orang.” Jawabku seadanya.
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.”
Pria yang berprofesi sebagai pelayan ini sepertinya mendesakku untuk segera meninggalkan restoran. Tapi, aku akan mencoba memohon kepada pelayan ini untuk memberiku waktu sedikit lagi.
“Sebentar lagiiii. Please..!”
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Dengan nada datar pelayan ini mencoba mengusir secara halus. Tapi, dengan sedikit harapan yang masih tersisa, aku tetap bersikeras untuk bertahan.
“Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…” Rengekku.
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia udah datang dari tadi.”
Dan benar apa yang dikatakan pelayan tersebut, kalau memang ayahku datang, dia pasti sudah datang sejak tadi.
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis.”
Aku menghela nafas panjang dan mengakhiri penantianku yang sia-sia ini. Tapi akan sangat tragis jika aku merayakan ulang tahunku sendiri tanpa ditemani seorang pun. Akhirnya aku putuskan untuk meminta pelayan ini menemaniku meniup lilin. Entah apa yang ada di pikiranku, tapi sekarang aku merasa hanya dia yang aku punya. Seorang pelayan restoran yang bahkan aku tidak tahu namanya.
“Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.” Pintaku.
Entah dia terkejut apa tidak mendengar permintaanku, tapi ekspresinya sangat datar.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
Itulah kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya.”
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya dia pun setuju untuk menemaniku marayakan ulang tahunku. Sebelumnya aku tak pernah berpikir akan merayakan ulang tahunku bersama seorang pelayan restoran yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi aku cukup bahagia, setidaknya masih ada orang yang peduli padaku.
 “Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.” Ucapku usai aku meniup lilin.
Dia mengangguk dan hanya tersenyum.
“Namaku Anggie.”
Aku pun mulai memperkenalkan diri, tapi entah kenapa pelayan itu hanya tersenyum lalu pergi. Sebelumnya dia sangat cerewet berusaha mengusirku pergi, tapi sekarang dia tak bicara sedikit pun bahkan untuk memperkenalkan diri, dan hanya tersenyum. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia menganggap aku gadis gila yang menyedihkan. Entahlah, tapi aku akui senyumnya sangat manis, dengan lesum pipit dan giginya yang rapi. Bagaimana mungkin dia hanya seorang pelayan restoran. Bahkan dia lebih tampan dari seorang model majalah atau anggota boyband. Aku tertawa sendiri dalam hati membayangkan wajah pelayan itu sepulang dari restoran. Hingga saat aku mulai terbaring di tempat tidurku, senyum pelayan itu terus melintas di otakku. Apa yang sedang aku pikirkan, apa aku mulai gila karena tidak diperhatikan oleh ayahku, atau aku sedang terkena virus cinta pada pandangan pertama. Oh Tuhan bagaimana ini bisa terjadi pada seorang Anggie.
----------
Malam itu seorang gadis berambut panjang sebahu dengan gaun berwarna putihnya sedang duduk gelisah menatap kue tart dengan lilin dihadapannya. Dia adalah tamu VIP di restoran tempat Mario bekerja. Wajahnya terlihat tidak asing bagi Mario. Beberapa kali Mario melihatnya di kampus. Dia adalah gadis yang sangat popular di kalangan mahasiswa di kampus tempatnya kuliah. Bukan karena wajahnya yang cantik, bukan juga karena dia adalah salah satu aktivis mahasiswa yang sangat lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa terhadap birokrasi kampus, tapi karena dia adalah putri dari seorang tokoh terkenal di negeri ini. Ayahnya seorang  politikus terkenal. pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dan ketua umum sebuah partai besar yang sekarang sedang mendominasi kursi di pemerintahan. Dan sekarang Mario heran, apa yang dilakukan gadis popular itu dengan kue tart dihadapannya. Wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang menyimpan begitu banyak kepedihan dan kekecewaan. Sudah berulang kali pelayan mengampirinya, tapi dia tidak memesan apa-apa. Dia hanya duduk terdiam dan berulang kali melihat jam ditangannya, terlihat dia sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sudah hampir tiga jam dia seperti itu, berapa lama lagi dia akan menunggu.
“Sampai kapan kamu di sini?”
Gadis yang sedari tadi hanya tertegun melihat kue tart itu tak menyadai kedatangan Mario. Dia pun melihat ke arah Mario, orang asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Aku lagi nunggu orang.”  Jawab gadis yang bersuara lembut ini.
 Tepat seperti dugaan Mario sebelumnya dia sedang menunggu seseorang. Dari kue tart yang ada di meja, Mario berpikir gadis ini sedang berulang tahun, dan dia sedang menunggu kekasihnya. Mario tidak habis pikir bagaimana bisa gadis ini menunggu kekasihnya hingga seperti ini.
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.”
“Sebentar lagiiii. Please..!”
Mario merasa kasian melihat kebodohan gadis ini.
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Mario mencoba untuk membuat gadis ini berhenti menunggu, karena itu hanya akan sia-sia.
 “Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…”
Tapi sepertinya gadis ini cukup keras kepala, dia terus merengek agar Mario memberikan  dia waktu lagi.
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia dah datang dari tadi.”
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis” Imbuh Mario.
Dan akhirnya Mario berhasil meyakinkannya untuk berhenti menunggu. Dia menghela nafas panjang, lalu tersenyum melihat Mario.
 “Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.”
Mario agak terkejut mendengar permintaan gadis itu. Bagaimana bisa dia meminta Mario untuk menemaninya meniup lilin ulang tahunnya.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya. Pless!”
Melihat ekspresinya yang tulus, Mario tidak sampai hati untuk menolaknya. Dia pasti sangat kesepian dan kecewa hingga meminta seorang pelayan yang tidak dia kenal seperti Mario untuk menemaninya di hari ulang tahunnya.
“ Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.”
Mario hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian dia mengulurkan tangannya sembari mengenalkan namanya.
“Namaku Anggie.”
Mario tersenyum datar melihat dia mengenalkan diri. Dia tidak tahu, jika Mario sudah tahu siapa dia sebelumnya. Mario meninggalkan dia dengan sebuah senyuman, dan perasaan penasarannya tentang sosok pelayan restoran ini. “Cukup sampai di sini untuk hari ini, Anggie. Masih banyak waktu untuk kita berkenalan.”
----------  
Setelah malam itu keduanya pun berpisah. Dengan kesan pertama mereka masing-masing. Dan setelah malam itu, yang pasti akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Tapi, apakah takdir atau nasib yang mempertemukan mereka kembali?
***
Di pagi yang cerah, dari sela-sela tirai jendela kamar Anggie, sinar mentari mulai masuk menerpa wajah Anggie, dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing karena semalam dia tidur sangat larut. Tapi tiba-tiba Anggie teringat kejadian malam sebelumnya, ketika dia merayakan ulang tahunnya bersama pelayan restoran yang tidak dia kenal.  Wajahnya yang tampan dan hangat membuat Anggie tak berhenti mengingatnya. Hal itu membuat dia terus tersenyum, seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari perutnya. Sehingga dia lupa dengan kekecewaannya terhadap ayahnya.
----------
Sejak semalam entah kenapa wajah pelayan restoran itu terus melekat dalam pikiranku. Bahkan di saat aku bangun tidur sekarang ini, dia terus tersenyum padaku. Bukankah senyumnya itu adalah senyum seorang antagonis, yang hanya menyunggingkan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang yang mempunyai senyum seperti itu, di dunia nyata. Biasanya aku hanya meihat senyum itu di sinetron-sinetron atau film drama. Senyum datar yang yang tak bisa ditebak artinya. Dingin dan tidak bersahabat. Tapi kenapa karena senyumnya itulah aku tak bisa melupakannya. Untuk beberapa saat aku masih disibukkan dengan bayangan pelayan itu, sampai aku melihat sebuah kotak berwarna merah yang di atasnya terdapat sebuah surat. Segera aku buka surat itu, dan ternyata ayahku lah yang menulis surat itu.
Dear my Anggel
Happy birthday my Angel. Maaf papa tidak bisa datang semalam. Papa ingin sekali datang, tapi ada urusan yang harus papa selesaikan. Cium sayang papa untuk putri papa tersayang. God bless you, my Angel.
Papa
Aku merasa sangat bahagia, membaca surat dari ayahku. Mataku pun mulai berkaca-kaca menahan haru. Apalagi setelah aku tahu isi kotak itu adalah sebuah kalung berbentuk bintang, air mataku pun tak kuasa lagi ku bendung. Aku merasa bahagia karena ternyata ayahku masih peduli dan perhatian kepadaku. Masih belum selesai ku nikmati keharuanku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku, lalu seorang wanita setengah baya pun muncul dari balik pintu. Dia adalah bibi, wanita yang mengurusi semua pekerjaan dan keperluan di rumahku. Sejak ibuku meninggal bibi juga lah yang mengurus semua kebutuhan dan keperluanku.
 “Nona, anda sudah bangun?”
“Bibi?” Sapaku dengan senyum.
Kemudian bibi pun masuk.
“Nona, ditunggu Tuan sarapan dibawah.” Tutur bibi sembari membuka tirai-tirai jendela kamarku. Aku terkejut mendengar ucapan yang di sampaikan bibi, karena tak biasanya ayahnya belum berangkat ke kantor, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8.
“Papa belum berangkat ke kantor?”
“Belum. Tuan sedang sarapan sekarang.”
Aku pun segera bergegas menuju ruang makan, untuk menemui ayahku. Dan benar, ku lihat ayah sedang duduk di meja makan sedang membaca koran. Dan ternyata ayah menyadari kehadiranku.
“Kamu sudah bangun?” Sapa ayah.
“Duduklah, temani papa sarapan.” Tambah ayahku memerintah.
Tanpa berkata apa-apa aku memeluknya dari belakang. Rindu, ituah yang aku rasakan sekarang. Meski pun kami tinggal dalam satu rumah yang sama, kami jarang bertemu. Apa lagi untuk sekedar berbincang dan makan bersama. Ayahku selalu berngkat ke kantor sebelum aku bangun tidur dan pulang saat aku sudah tidur. Dan saat akhir pekan, aku hanya bisa melihat dia duduk di ruang kerjanya, dengan setumpuk pekerjaannya. Hampir tak ada waktu kami untuk saling melepas rindu seperti saat ayah belum terjun ke dunia politik seperti 10 tahun terakhir ini. Dan terakhir kami bertemu adalah satu minggu yang lalu, saat ayah menyampaikan rencananya untuk menikahi wanita yang sedang dekat dengannya dua tahun terakhir ini, yang bernama Jenahara.
“Makasih, Pa.” Bisikku saat memeluknya erat.
”Anggie sayang banget sama papa.” Imbuhku.
“Papa juga.” Jawab ayahku.
Lalu aku pun duduk menemani ayahku sarapan.
“Oya, apa kamu mau membuat pesta untuk merayakan ulang tahunmu, Sayang?” Tanya ayahku sembari mengiris sandwich yang ada dipiringnya.
Mendengar tawaran ayahku, Aku pun berpikir sejenak.
 “Kalau Anggie butuh sesuatu untuk bikin pesta hubungi sekertaris papa ya.” Kata ayahku, sembari mengelap mulutnya dengan kain serbet. Aku hanya mengangguk menjawabnya.
“Papa berangkat dulu. Hati-hati di rumah.” Pamit ayahku, sembari mencium keningku, lalu berangkat.
Aku diam terpaku melihat ayahku pergi. Baru saja aku ingin merayakan ulang tahunku bersamanya yang sempat tertunda ayah sudah meninggalkanku dan memulai rutinitasnya lagi. Kecewa pasti, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah. Meski pun aku sudah biasa di perlakukan seperti ini, tapi air mataku tak pernah habis ku teteskan. Kemudian bibi datang menghampiriku. Dan aku pun segera menghapus air mataku. Melihat makanan dan segelas susu di hadapanku masih utuh bibi pun cemas.
“Nona, mau bibi buatkan sarapan lain?” Aku hanya menggelengkan kepalaku, meski pun sejak semalam tak ada secuil makanan yang masuk ke perutku tapi tak ada sedikit pun rasa lapar. Hatiku hancur, jangankan untuk menelan makanan, untuk bicara saja mulut ini sangat sulit. Lalu bibi kembali menawarkan kopi, yang tak pernah absen setiap pagi aku pesan dari bibi.
“Atau nona mau  saya buatkan kopi?”
 “Enggak, makasih bi. Aku mau tidur aja. Tolong jangan ganggu aku.”
Aku pun kembali ke kamarku, meninggalkan bibi dengan perasaan cemasnya terhadapkku. Ku baringkan tubuhku di atas tempat tidurku, dan  mulai meratapi kekecewaanku. Air mataku pun  mulai jatuh setetes demi setetes, hingga akhirnya mengalir sangat deras tak berhenti sampai aku tertidur.
***
Pertemuan antara dua orang manusia, bisa disebut itu sebuah kebetulan. Tapi apakah kebetulan itu sebuah takdir atau nasib manusia? Sehari setelah hari ulang tahunnya, Anggie merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya di sebuah cafe. Tak banyak memang yang diundang, hanya beberapa teman dekat dan teman kampusnya, kira-kira sekitar 40 orang. Semua nampak akrab, dan membaur dalam perbincangan, tapi siapa sangka si pemilik pesta sedang berpura-pura. Senyum, tawa, dan keceriaan itu hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kegundahan dan kegalauan hatinya, karena hal yang ingin di lakukan saat ini adalah bisa bersama ayahnya. Tapi, rasanya akan sulit untuk bisa mewujudkannya. Makanan yang sedari tadi hanya dibiarkan dingin, dan minuman yang hanya dipegangnya membuat dia semakin bosan. Sampai pandangannya terfokus pada seseorang yang sedang memainkan piano beraliran klasik, disudut cafe. Seseorang pria berkemeja hitam, dan berwajah sangat menarik itu, terasa sangat familiar bagi Anggie. Anggie sangat ingat siapa dia, karena kejadiannya belum lama terjadi. Dia adalah pelayang restoran yang menemani Anggie merayakan ulang tahunnya. Seketika suasana hatinya yang semula sedih galau, berubah menjadi  cerah. Tak berpikir panjang Anggie pun segera menghampiri pria di sudut cafĂ© itu itu.
“Hallo apa kabar?” Sapa Anggie.
Pria itu pun menghentikan permainan pianonya.
“Apa kamu ingat aku?” Tanyaku memastikan.
Ekspresinya yang misterius itu pun muncul lagi. Tak ada jawaban darinya, dan itu membuat Anggie ragu apakah pria di depannya ini masih mengingatnya. Anggie pun mulai menceritakan peristiwa yang terjadi kamarin malam di restoran tempat dia kerja.
"Apa kamu ingat ada seorang gadis yang datang ke restoran, dan memintamu menemaninya merayakan ulang tahunnya? Aku gadis itu, Anggie. Kamu inget kan?”
 “Iya, aku inget.” Jawabnya singkat.
Anggie merasa lega, karena pria di depannya ini masih mengingatnya.
“Syukurlah. Aku takut kamu nggak inget sama aku.”
“Lalu?” Tanyanya dengan wajah heran.
“Apa?”
Dan Anggie pun tiba-tiba terjebak dalam situasi yang canggung.
“Memang kenapa kalau ingat? Apa kamu butuh bantuan lagi?”
Anggie menyadari bahwa ternyata pria ini terganggu dengan kehadirannya. Tak ingin membuatnya semakin merasa malu lagi, Anggie pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Tidak ada. Aku cuma mau menyapamu. Ya sudah, kamu lanjutin aja mainnya. Aku mau gabung sama teman-temenku lagi. Sampai jumpa.”
 Anggie kembali bergabung dengan teman-temannya, sedangkan pria itu melanjutkan permainan pianonya. Sekitar 7 lagu dia mainkan, kemudian dia pun turun dan digantikan permainan sebuah band beraliran Jazz. Anggie sedikit kecewa dengan perlakuan yang baru saja dia dapatkan dari seorang pria yang notabennya adalah seorang pelayan restoran. Beberapa waktu di antara orang-orang yang tak membuatnya nyaman, Anggie mulai bosan, dia pun pergi ke toilet untuk merapikan dandanannya yang mulai berantakan. Tapi tanpa dia duga, Anggie melihat pria pelayan itu berjalan ke arah pintu keluar. Rasa penasaran Anggie pun mendorongnya untuk mengikuti ke mana arah pria itu pergi. Anggie terus berjalan mengikuti pria itu dari belakang. Entah sudah berapa lama mereka berjalan. Tapi ketika sampai di tikungan tiba-tiba pria itu menghilang.  Anggie berputar menyebarkan pandangannya ke semua sudut untuk mencari keberadaan pria pelayan itu.
“Ke mana menghilangnya dia, apakah dia masuk ke salah satu gedung ini? tapi kayaknya nggak mungkin. Buat apa dia masuk ke gedung tua yang kayaknya udah nggak pernah di buka.” Pikir Anggie.
 Tiba-tiba sesosok suara muncul dari belakangnya, dan membuat Anggie terkejut setengah mati. Dan ternyata suara itu adalah milik pria pelayan restoran itu yang sedari tadi  telah menyadari bahwa Anggie telah mengikutinya sejak dari cafĂ©.
 “Kenapa kamu ngikutin aku?” Tanya pria itu dengan nada ketus, tapi tetap dengan espresi wajahnya yang polos.
“Eee…a~ku, Cuma pingin kenalan aja.” Jawab Anggie gugup.
“Kenalan?” Tanyanya heran.
“Emmhh, maksud aku, aku cuma pingin tahu namamu. Tempo hari kamu belum kasih tahu siapa namamu kan?” Jawab Anggie malu-malu.
Pria itu pun tersenyum melihat Anggie, entah apa yang di pikirkannya sekarang terhadap situasi malam itu. Lalu sejenak dia terdiam dan menatap lekat-lekat mata Anggie, yang membuat jantung Anggie berdegub sangat kencang.
“Namaku Mario.” Ucapnya singkat.
Anggie terkejut pelayan itu memperkenalkan diri.
“Apa kamu mau minum kopi?” Ajak pria yang mengaku bernama Mario itu.
Tapi Anggie masih saja belum sadar dan sibuk dengan kekagumannya. Hingga akhirnya pria yang bernama Mario ini menggenggam tangannya dan membawanya berjalan mengikutinya. Mereka pun akhirnya duduk di sebuah taman dan meminum kopi kaleng yang mereka beli di mini market yang lokasinya tak jauh dari taman. Untuk beberapa menit awal mereka hanya terdiam, tanpa suara. Pandangan Mario lurus menatap langit-langit yang kebetulan tak berawan. Sedangkan Anggie malah sibuk memperhatikan wajah Mario dengan sangat serius. Mario lama-lama menyadari jika sedari tadi Anggie terus  memperhatikannya.
“Apa aku ganteng banget sampai kamu ngeliatin aku seperti itu?” Ledek Mario.
Anggie pun segera memalingkan wajahnya dari tatapan Mario. Wajahnya memerah, karena malu tertangkap basah oleh Mario sedang memperhatikannya.
“Emh..” Jawab Anggie sambil menganggukkan kepalanya.
Dan tanpa sadar semua hal yang melintas di otaknya pun keluar dari mulutnya.
“Kamu ganteng banged.” Mario tertawa kecil mendengar pujian Anggie yang tedengar tulus itu.
” Apa kamu sekarang sedang gombalin aku?” Gurau Mario.
Anggie pun hanya diam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menyadari kekonyolan yang baru saja dia lakukan.
“Oke, aku anggap itu pujian kalo gitu.”
Dan akhirnya mereka pun saling bertatapan  dan tertawa.
“Apa kamu kerja di sini juga?” Tanya Anggie penasaran.
Mario menganggukkan kepalanya.
“Dari jam 12  sampai jam 8 malam aku kerja di restoran. Kalo hari selasa, kamis, sabtu habis dari restoran aku  main piano dicafe sampai selesai.” Jelas Mario.
“Tapi bukannya jam segini kemaren kamu di restoran?” Sela Anggie.
“Karena kemarin ada pelanggan yang menyewa restoran kami untung ngerayain ulang tahunnya.”
Dengan nada menyindir Mario sepertinya berhasil membuat Anggie sadar siapa yang dia maksud dalam kalimat Mario.
 “Apa kamu nggak nanya, siapa sebenarnya yang aku tungguin?” Tanya Anggie penasaran.
Tapi tidak dengan jawaban Mario yang nampak cuek.
“Aku bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain.”
“Aku cuma nggak mau, kamu mikir aku lagi nunggu pacar atau seorang cowok aja.” Mario malah tersenyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kenapa kamu nggak mau aku berpikiran seperti itu?” Tanya Mario.
“Karena aku takut kamu mikir aku udah punya pacar.” 
 “Memangnya apa yang membuatmu takut aku berpikir kamu punya pacar? Apa kamu menyukaiku?”
Akhirnya mereka pun  terlibat dalam perbincangan yang makin serius.
”Belum. Tapi sepertinya tidak lama lagi aku akan menyukaimu. Jadi sebelum aku tahu, apakah aku benar-benar menyukaimu atau tidak, aku ingin memastikan jika kamu nggak berpikir aku sudah punya pacar.”
“Apa yang kamu lakukan jika kamu ternyata benar-benar menyukaiku?”
Pada pertanyaan Mario inilah Anggie agak kesulitan menjawabnya. Tapi perasaannya mulai memaksanya untuk menyatakan apa yang sedang Anggie rasakan. Dan akhirnya Anggie  pun menyatakannya.
“Aku akan memintamu jadi pacarku.”
“Bagaimana kalo aku tidak mau?”
“Aku akan mengikutimu terus sampai kamu mau sama aku.”
“Lalu, bagaimana jika ternyata kamu nggak suka sama aku?”
Anggie kembali terdiam sejenak mendengar pertanyaan Mario, lalu kembali dengan jawabannya yang meyakinkan.
“Itu tidak akan mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena sepertinya detik ini aku sudah jatuh cinta padamu.”
Mario terkejut mendengar pernyataan Anggie. Entah dari mana kata-kata itu  Anggie peroleh. Karena Anggie bukan tipe wanita yang gampang mengutarakan perasaannya dan ini adalah pertama kalinya dia mencoba untuk membuat suatu hubungan dengan seorang laki-laki, setelah 3 tahun lalu. Ada kekuatan yang begitu besar  yang mendorongnya untuk mengatakan bahwa dia memang jatuh cinta pada pria yang ada di hadapannya ini.
“Apa kamu percaya sama takdir?” Tanya Anggie.
“Memangnya kenapa?” Tanya Mario balik.
 “Menurutmu apakah pertemuan kita sebelumnya itu suatu kebetulan atau memang sudah takdir?”
“Di dunia ini tak ada yang kebetulan. “
“Berarti itu takdir?”
Anggie memalingkan wajahnya menghadap Mario.
“Tidak juga. Aku hanya percaya sama nasib. Apa yang akan terjadi sama manusia itu tergantung usaha manusia. Jadi nasib pun akan berubah.”
“Lalu pertemuan kita kedua kalinya ini namanya apa? Nasib seseorang?”
“Dari pada membahas nasib atau takdir, kenapa kamu tidak membahas kenapa kamu menyukaiku?”
Dengan wajah yang berseri-seri, Anggie mulai merangkai kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Mario. Dengan harapan agar Mario bisa mengerti perasaan Anggie.
“Kamu itu seperti matahari, yang membuat bulan bersinar dengan indahnya. Saat purnama bulan nampak cantik, padahal sebenarnya dia hanya batu di angkasa yang tidak bisa bersinar jika tidak ada matahari.” Jelas Anggie sambil memandang langit lekat-lekat.
“Jika aku matahari, apa bulan itu kamu?” Tanya Mario sambil melihatnya dengan serius.
“Hemm…seperti itulah” Angguk Anggie.
“Jadi aku bakal tergantung sama kamu.” Imbuhnya sembari tersenyum.
Mario terus memandang Anggie dengan wajah kebingungan dan berbagai pertanyaan tentang tingkah gadis yang ada di hadapannnya ini..
“Apa kamu tahu siapa aku?”
“Kenapa kamu bisa suka sama aku, padahal kamu belum tahu siapa aku?” Imbuh Mario dengan wajah yang serius saat mengatakannya. Mario pun melanjutkan kalimatnya, dengan ekspresi wajahnya yang datar.
“Bagaimana jika aku orang jahat yang cuma mau bohongin kamu? Matahari itu panas dan bisa menghancurkan apa saja di dekatnya.”
Anggie sedikit heran dengan apa yang Mario bicarakan.
“Biarpun matahari panas, tapi asalkan matahari dan bulan tetap berorbit pada lintasannya, semua akan baik-baik saja. Meski pun  aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Bagiku, kamu adalah matahari dalam kehidupanku. Jadi ijinkan aku akan mencari tahu orang seperti apa kamu, bagaimana perkerjaanmu, dan siapa orang tuamu.”
Mario hanya terdiam mendengar ucapan Anggie, sembari menatap lekat-lekat mata Anggie yang penuh ketulusan. Apakah memang cinta tulus itu ada? Cinta yang membutakan semuanya.
-----------
Anggie benar-benar tulus menyukai Mario, entah suka yang seperti apa. Apakah suka karena cinta atau hanya suatu kebutuhan. Tapi, yang penting bagi Anggie Mario selalu ada di dekatnya, karena tak ada yang dia butuhkan saat ini selain Mario. Sepulang dari pertemuannya dengan Mario, Anggie pun terus tersenyum membayangkan wajah Mario. Dia terlihat sangat bahagia, dan dimabuk kepaya. Sementara Mario masih disibukkan dengan pertanyaan di kepalanya tentang sikap Anggie.
Sepanjang jalan dari pertemuannya dengan Mario, Anggie terus tersenyum. Sesekali dia  menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena malu kepada dirinya sendiri. Sikapnya yang aneh membuat sopirnya heran.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” Tanya sopir Anggie pak Min.
Anggie kaget, merasa sikapnya yang memalukan diketahui oleh pak Min, dia pun berpura-pura tenang.
“Enggak ada apa-apa pak. Pak Min konsen nyetir aja.”
Anggie pun menahan gejolak hatinya yang terus menggebu dan makin tak karuan. Dan di dalam kamar, Anggie melakukan kebiasaannya melihat bintang dari balkon kamarnya dan bicara seolah bintang di langit itu adalah ibunya yang sudah meninggal. Dia sering melakukannya ketika dia sedang banyak masalah atau sedang rindu pada ibunya.
“Mama, hari ini aku bertemu dengannya lagi, Mario. Dia adalah pria terbaik yang pernah aku temui, dia juga tampan. Dan tadi aku udah menyatakan cinta padanya, Ma. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?”  
***
Cinta adalah sebuah perubahan dalam kehidupan manusia, yang membuat hal yang biasa menjadi luar biasa, membuat hal yang tak terbiasa, menjadi lebih terbiasa. Cinta juga suatu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, dari yang negatif menjadi positif, dari yang positif bisa menjadi negative. Bahkan cinta bisa memutar balikkan logika, dan membuat mata, dan hati kita menjadi buta.
Anggie sedang minum kopi dikantin, bersama Mona sahabatnya.
“Nggie…”
“Hemm..” Jawab Anggie cuek, sembari terus menyeruput secangkir kopi hangat.
“Dari mana lo kenal sama Mario?”
Seketika Anggie terkejut bagaimana Mona mengenal Mario. Anggie mengerutkan dahinya.
“Pria yang lo samperin di cafe semalem?” Jelas Mona.
“Kamu kenal sama Mario juga?” Heran Anggie.
“Gimana gw nggak kenal, dia kan konsultan skripsi gw.” Jelas Mona meyakinkan.
“Jadi Mario yang lo certain tempo hari itu, orang yang sama dengan Mario yang aku temuin semalem?” Tanya Anggie meyakinkan.
Mona hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Anggie. Anggie terkejut mendengar pernyataan-pertanyaan Mona. Dia bingung, lelucon apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Bagaimana dia tak tahu kalau Mario satu kampus dengannya. Berbagai pertanyaan pun muncul. Apakah Mario tidak tahu siapa Anggie, atau memang dia sudah sejak awal tahu siapa Anggie. Apa Mario adalah salah satu dari jutaan pria yang ingin memanfaatkan Anggie. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, siapa yang harus dia percaya. Apakah ketakutan dalam pikirannya atau hatinya yang sedang jatuh cinta? Dia terus saja berpikir, sampai langkah kakinya membawa dia berjalan menuju Mario berada. Dari jauh dia meihat Mario sedang duduk bersama seorang temannya di taman. Dia belum siap menemui Mario, karena dia masih belum menemukan jawaban dari kegundahannya. Untuk beberapa saat dia hanya melihat Mario dari jauh, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghampirinya. Mario nampak sedang menjelaskan beberapa materi pada pria di hadapannya.
“ Banyak banget sih pekerjaanmu.” Sela Anggie.
Mario nampak terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, yang ternyata adalah Anggie. Seperti biasa Mario hanya tersenyum datar dengan tenang.
“Untuk sementara sampai di sini dulu. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Mario pada pria di depannya tersebut. Pria itu pun setuju, lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario pada Anggie.
“Cukup lama, hingga aku puas melihatmu.”
Mario hanya tersenyum mendengar gurauan Anggie.
“Kemarilah. Duduklah di sini!” Ajak Mario, mempersilahkan Anggie duduk di sampingnya.
Anggie pun duduk di samping Mario. Untuk beberapa saat mereka hanya terjebak dalam kecanggungan, sampai akhirnya Anggie memecah keheningan.
“Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” Mario hanya menggeleng.
“Apa kamu sudah tahu sejak awal kalo aku kuliah di kampus yang sama denganmu?” Tanya Mario penasaran.
Anggie menggelengkan kepalanya, lalu dengan wajahnya yang terus tersenyum dia nampak sangat tenang. Begitu juga dengan Mario yang tetap tenang, seperti tidak sedang tertangkap basah.
“Aku baru tahu beberapa saat yang lalu. Kamu tahu Mona? Salah satu mahasiswa bimbingan skripsimu.”
“Hemm…mahasiswa hubungan international semester akhir, judul TA nya Solusi Memburuknya Hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia .”
“Benar. Dia adalah temanku.” Jawab Anggie ringan.
“Apa kamu nggak mau tanya apa aku kenal kamu sejak awal?” Tanya Mario menawarkan.
“Jika aku tanya, apa yang akan kamu jawab?”
Mario tak langsung menjawabnya, untuk beberapa detik dia terlihat sedang berpikir.
“Anggie mahasiswa hubungan international, putri dari politisi terkenal, dan aktivis mahasiswa yang penuh semangat, yang selalu menyerukan suara mahasiswa tentang ketidakadilan, aku sama sekali tidak tertarik. Tapi seorang gadis yang kesepian, sendiri dalam kedinginan, yang bahkan tak sanggup menangis, dan menyembunyikan semua itu di balik senyumnya. Aku selalu merasa ingin disampingnya, menjaganya, dan menghangatkannya dalam kedinginan, juga mewarnai kehidupannya yang penuh dengan keabu-abuan.”
Mendengar penjelasan Mario, Anggie semakin yakin tentang perasaannya terhadap Mario yang sempat ragu.
“Lalu sekarang, apa yang kamu pikirkan tentangku?” Tanya Mario menambahkan.
“Apa penilaianku tentangmu penting untukmu?”
“Terserah kamu kalau kamu nggak mau jawab.”
“Penilaianku tentangmu saat kamu menemaniku meniup lilin di malam pergantian tahunku, dengan penilaianku tentangmu detik ini tetap sama. Kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Bahkan jika benar kamu hanya memanfaatkanku sekalipun aku nggak akan keberatan. Aku sayang sama kamu, sebagai Mario si pelayan, pengiring musik cafĂ©, ataupun mahasiswa hukum.”
Mario tersenyum mendengar pengakuan Anggie, dia pun segera menarik Anggie ke dalam pelukkannya dengan lembut. Dan Anggie pun leleh dalam pelukkan Mario yang penuh kehangatan. tak pernah dia merasa senyaman ini dalam pelukan seorang pria. Setelah melepaskan pelukan hangatnya terhadap Anggie, Mario pun menggenggam erat jemari tangan Anggie sambil sesekali mengecupnya.
“Baru saja aku dapat bonus, karena salah satu mahasiswaku lulus pendadaran. Bagaimana kalau sekarang aku traktir kamu makan?” Ajak Mario.
“Apa baru saja kamu ngajak aku kencan?” Goda Anggie.
“Bisa dibilang begitu. Apa kamu bersedia kencan denganku?”
Anggie tersenyum geli melihat tingkah kekasih yang baru dimilikinya  kurang dari 24 jam itu. Mario pun membonceng Anggie dengan motor gedenya yang berwarna merah dan membawanya menuju restoran mewah di daerah kebayoran lama. Mario membantu Anggie membukakan helm di kepalanya.
“Rambutmu jadi berantakan.” Kata Mario sambil merapikan rambut Anggie yang teruari panjang.
“Nggak papa.” Jawab Anggie sembari tersenyum.
“Rokmu juga jadi kusut. Ini pasti pertama kalinya kamu naik motor ya?”
Anggie menggelengkan kepalanya.
“Dulu waktu kecil papaku juga sering boncengin aku naik motor kok.”
“ Benarkah? Ya sudah ayo kita masuk.”
Mereka pun masuk ke dalam restoran dan duduk selayaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Memesan dua porsi main course, desert, juga champagne.
“Lain kali kamu nggak perlu traktir aku di tempat semahal ini.” Mario terseyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kamu tenang aja, uangku nggak akan habis buat traktir kamu malam ini. Bonusku lumayan banyak.” Canda Mario.
“Hemm….baiklah. Lain kali aku akan minta traktir lagi.” Goda Anggie.
Mereka pun tertawa. Terlihat wajah keduanya sangat bahagia. Aura cinta tergambar jelas dari wajah Anggie. Tapi tiba-tiba suara handphone Mario berbunyi, dan dia pun segera mengangkatnya.
“Hallo,..mama?....apa Nino sakit? Ya udah mama tenang, aku segera ke sana.”
Terlihat raut penuh kecemasan di wajah Mario saat menjawab telephone tersebut.
“Ada apa?” Tanya Anggie penasaran.
“Nggie, aku minta ma’af, aku harus segera pergi. Adikku masuk rumah sakit. Kamu nggak papa kan pulang sendiri?”
“Nggak papa, kamu pergi aja, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Hemm..makasih ya. Secepatnya aku akan kabari kamu.”
Belum sempat Anggie mengucapkan salam perpisahan Mario sudah berlari meninggalkannya.
“Hati-hati.” Ucap Anggie lirih mengiringi kepergian Mario yang tergesa-gesa.
Anggie menghela nafas panjang, dia ikut cemas dengan keadaan adiknya juga Mario yang tergesa-gesa pergi. Anggie pun pulang dengan taxi, dan sepanjang perjalanan dia hanya diam melamun. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk kamar dan tertegun melihat handphonenya yang tak kunjung berdering. Anggie menunggu kabar dari Mario. Setelah hampir satu jam dia menunggu akhirnya handphonenya berbunyi. Akhirnya Mario menelphonenya.
“Hallo..” Jawab Anggie.
“Hallo, kamu belum tidur ?” Tanya Mario dari seberang telephone.
“Hemm,..aku agak susah tidur.” Jawab Anggie.
“Insomnia lagi?”
“Hemm…Oya, bagaimana adikmu?” Tanya Anggie hati-hati.
“Iyah dia sudah baikan. Dokter memberinya obat tidur, sekarang dia sedang tidur.”
“Syukurlah kalo begitu. Kalau boleh tahu dia sakit apa?”
“Asmanya kambuh.”
“Ohhwww…semoga keadaanya semakin membaik.”
“Iya, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Ya udah kamu istirahat aja. Udah malem, besok kamu ada bimbingan kan?”
“Emmhh, iya. Kamu juga jangan lupa istirahat yah.”
“Iya, selamat malam.”
“Selamat malam. I love you.”
“I love you too.”
Dan sambungan telephone pun di matikan oleh Mario. Anggie senang bisa mendengar ungkapan cinta Mario, meskipun hanya lewat telephone.
***
Manusia adalah sebuah robot yang dikendalikan oleh perasaan dan pikirannya. Tapi kadang manusia lebih dikendalikan oleh perasaan ketimbang pikirannya, sehingga apa yang kita lakukan tidak memakai logika dan masuk akal. Tak jarang manusia menutup logika mereka tentang suatu kenyataan, hanya karena kenyataan itu menyakitkan. Tak banyak manusia yang menggunakan akal pikirannya untuk memuaskan perasaan yang dikehendakinya. Dan dengan segala akal pikirannya dia berusaha untuk tetap bertahan dalam kehidupannya yang ingin dia tinggalkan.
“Mario…” Panggil seorang wanita setengah baya yang berjalan mendekati Mario yang sedang duduk tertunduk lesu di ruang tunggu rumah sakit.
“Mama…” Begitulah Mario memanggil wanita yang masih terlihat cantik itu.
“Ternyata kamu di sini?”
“Apa terjadi sesuatu?”  Cemas Mario.
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Mama hanya kuatir sama kamu.”
“Kuatir ? Kenapa mama kuatir sama Mario?”
“Mama takut kamu kenapa-kenapa. Sejak adikmu masuk rumah sakit sampai hari ini, kamu belum istirahat.”
“Seharusnya mama kuatir pada keadaan Nino, dan mama sendiri. Sebaiknya mama pulang saja. biar aku yang menjaga Nino di sini. Mario baik-baik saja kok. Mama tenang saja.”
“Kamu pasti capek, harus menggantikan papamu menjaga kami, harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menfkahi mama dan adik-adikmu. Belum di tambah dengan situasi seperti ini, Nino yang sakit-sakitan pasti menambahi beban dipikiranmu. Mama nggak tega melihatmu seperti ini.”
Ibu Mario pun meneteskan air matanya dan Mario pun memeluk ibunya.
“Mama jangan seperti ini, bagi Mario kebahagian Mario adalah bisa terus membuat Mama, Marsya, dan Nino bahagia. Mario akan melakukan apa saja, agar kalian semua bisa terus tersenyum seperti saat papa masih ada. Jadi Mario mohon, Mama jangan pernah beranggapan Mario akan capek melakukan semua ini.”
“Mama bahagia sekali, karena mama punya anak sepertimu sayang.”
Dalam keheningan rumah sakit, Nampak pemandangan hangat antara seorang ibu dan putranya. saling menyayangi, dan saling membutuhkan. Hal semacam itulah yang tak terlihat di rumah Anggie. Kesepian, kegundahan, dan kegelisahan yang hampir setiap malam dia rasakan dari balik tembok istana megahnya. Sesuatu yang terus menggerogoti hatinya, dan menyiksanya sepanjang waktu. Dan hanya karena ketakutannya yang belum tentu terbukti kebenaranya itulah, dia menghancurkan hidupnya sendiri.
------------
Ini adalah hari ketiga sejak makan malam itu, dan sejak malam itulah tak ada kabar berita dari Mario. Sehari aku masih bisa tenang, dua hari aku mulai bertanya-tanya, hari ketiga aku sudah mulai gelisah dengan berbagai pertanyaan yang ku munculkan sendiri.  Berulang kali ku lihat ponsel, tak satu pun pesan atau telfon itu darinya.
“Apa yang sedang dia lakukan, kenapa dia tak juga memberi kabar? Dengan siapa dia? di mana? Atau dia sedang berusaha menjauh dariku? meninggalkanku?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus timbul dalam pikiranku. Pertanyaan yang timbul karena ketakutanku tentang masa lalu, yang akan terulang lagi. Masa lalu yang sangat menyakitkan, dan tak bisa aku lupakan. Ketakutan yang membuat malam-malamku menjadi sangat berat dan membuatku menjadi ketergantungan akan obat penenang. Menurut dokter aku mengalami bipolar disorder sejenis depresi yang menyebabkan gangguan psikologis.  Semua ini berawal saat kehidupanku dihancurkan oleh seorang pria yang sangat aku cintai tiga tahun yang lalu. Dialah pacar pertamaku, sahabatku, juga kakak lelakiku yang selalu menjagaku, menemaniku dan memperhatikanku. Aku mengenalnya sejak kami masih duduk di bangku SMP. Di masa-masa tersulitku, saat ayahku tak lagi peduli padaku, atau di saat perutku sakit karena datang bulan, dia selalu ada. Karena itulah aku sangat tergantung padanya, dia berjanji akan selalu menjagaku, dan tak akan membiarkanku sedih apalagi menangis. Tapi, kenyataannya tak bisa berjalan seperti itu. Dengan sadisnya dia meninggalkanku di saat aku sedang mencoba merangkai mimpi bersama dengannya. Dia memilih mengejar mimpinya sendiri tanpa aku, dengan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Menurut dia aku hanya akan menjadi pengganggu dalam tujuannya meraih mimpi, jika aku terus berada disampingnya. Seburuk itukah aku dimatanya? Selepas dia pergi, hidupku benar-benar hancur. Aku seperti kehilangan sandaran, dan sangat kesepian. Tak ada lagi harapanku untuk melanjutkan hidupku. Setahun lebih aku menjalani perawatan dan pemulihan mental oleh seorang ahli kejiwaan dan otomatis semua aktifitasku pun berantakan, karena aku hanya mengurung diri di kamar. Hingga setahun terakhir ini, kondisiku mulai membaik dan stabil. Hanya saat stress karena skripsi, aku agak sedikit susah tidur di malam hari, selebihnya tak ada gejala lain yang muncul. Tapi entah kenapa, perasaan ini muncul lagi, trauma di masa lalu yang membuat aku ketakutan hingga hampir mati. Takut jika Mario juga melakukan hal yang sama padaku, meninggalkanku dan menyikiti hatiku lagi. Darahku mulai memanas, tubuhku menggigil gemetaran, jantungku berdetak sangat kencang, dan kepalaku seperti tertimpa batu besar. “Obat, aku butuh obat….” Segera aku beranjak mencari di mana obat penenang itu. Sudah lama aku tidak meminumnya, aku lupa di mana terakhir kali aku meletakkannya. Tapi aku tidak berhasil menemukannya, badanku pun mulai melemah. pikiranku mulai kacau. Aku pun roboh di sudut kamarku sambil terus meronta dan memukul-mukul kepalaku. Tapi tiba-tiba ku dengar ada suara bunyi telephone dari handphoneku. Aku pun segera berlari mengambil handphoneku yang aku letakkan di atas kasur. Seketika mataku terbelalak saat aku baca ternyata panggilan dari Mario.
“Hallo…?” Terdengar suara Mario yang ku tunggu-tunggu dari sebrang telephone. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Perasaan gelisah, gejala lainnya pun hilang seketika seusai mendengar suara sapa Mario.
“Anggie..?” Seru Mario yang tak mendapat jawaban dariku.
“Iyah…” Jawabku lirih
“Aku pikir kamu sudah tidur.”
“Emhh, aku belum tidur.”
“Benarkah?”
“Emhh..”
“Apa kamu mau bertemu denganku?”
“Hah?” Aku bingung kenapa Mario bertanya seperti itu.
“Coba kamu liat ke luar jendela.”
Mario memintaku melihat ke luar, tapi aku masih tidak mengerti apa sebenarnya maksud Mario. Sampai aku lihat dari balik jendela kamarku, seseorang sedang berdiri di depan pagar rumahku sambil melambaikan tangannya. Ternyata Mario sedang berada di depan rumahku. Aku pun segera berlari ke luar, dengan segala kekuatanku. Perasaanku yang hampir dibuat gila karena tak ada kabar darinya, akhirnya menemukan penawarnya. Orang yang aku tunggu-tunggu itu sekarang berdiri di hadapanku. Dengan nafas yang terengah-engah tanpa berkata-kata aku langsung memeluknya. Memeluk sangat erat dengan membawa sisa-sisa perasaan takutku. Untuk lima menit pertama kami terus berpelukan tanpa suara.
“Jangan seperti ini lagi.”
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan.
“Ada apa denganmu…?” Tanya Mario heran.
“Jangan hilang lagi, tak ada kabar…aku takut..aku benar-benar takut.”
Sambil terus menangis. Mario hanya diam, lalu memelukku semakin erat. Situasi itu bertahan hingga hampir tujuh menit. Lalu Mario melepaskan pelukannya, dan memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya sambil menatap mataku lekat-lekat.
“Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
Mendengar kalimat Mario air mataku pun terkumpul lalu jatuh. Mario pun mengecup keningku, lalu mengusap air mataku.
“Aku minta maaf karena membuatmu cemas. Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi. Jangan menangis lagi. yahhh…?!”
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum bertanda aku paham.
“Oya, aku bawakan kamu sesuatu.” Kata Mario sambil mengambil sesuatu dari dalam jaketnya.
“Karena kamu pernah bilang kamu sering insomnia, jadi aku bawakan itu untukmu.”
Ternyata dia memberikan aku sebuah kaset dvd, tapi aku masih bingung apa sebenarnya yang dia maksud.
“Four season, Antonio Vivaldi?” begitulah judul yang tertulis di sampul dvd tersebut.
“lagu instrumental klasik. Sangat manjur untuk pengantar tidur. Aku biasa melakukannya jika susah tidur, selain itu musik-musik itu sangat bagus untuk membuat suasana hati kita menjadi lebih rilaks.”
Aku semakin terharu, dengan sikapnya yang sangat baik padaku. jika memang aku mati, aku ingin mati dalam keadaan yang bahagia seperti ini. Mario apa kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau adalah pria terbaik yang pernah aku temui di dunia ini.
***  
Masa lalu adalah penyakit yang menakutkan bagi beberapa kelompok manusia. Buruknya suatu kenangan, membuat manusia hidup dipenuhi dengan ketakutan, kegelisahan, dan ketidakpercayaan. Tapi setitik cahaya memberi warna kembali dalam kehidupan seorang Anggie. Senyum ramah itu lebih hidup dan bahagia, seiring datangnya Mario dalam kehidupannya. Belum genap satu minggu memang, tapi Anggie sangat bahagia. Bahkan belum pernah dia merasa sesemangat ini menjalani hidup. Tak pernah lagi ada senyum palsu di bibirnya, tak pernah lagi ada gurat kegelisahan di keningnya. Setiap hari dia hanya menunggu saat-saat di mana dia akan bertemu dengan sang pujaan hatinya, Mario.
Seperti hari-hari biasanya, Anggie pergi ke kampus untuk melakukan konsultasi dengan dosen skripsinya. Meskipun Anggie sudah menjalin hubungan dengan seorang konsultan skripsi illegal, tapi dia masih belum menggunakan keahlian Mario untuk mengerjakan tugas akhirnya tersebut. Dia masih berkutat dengan berbagai permasalahan yang timbul dengan dosen pembimbingnya.
“Manyun betul mukanya mbak…?” Ledek Mona teman Anggie yang sedang duduk disampingnya.
“Hemmm…revisi lagi.” Keluh Anggie.
“Oya..?” Tanya Mona sinis.
Anggie menyadari bahwa sahabat yang ada di depannya ini sedang menatapnya sinis.
“Iya..kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Heran Anggie.                  
“Ada hubungan apa lo sama Mario?” Tanya Mona blak-blakan.
Anggie tersenyum mendengar sahabatnya sedang penasaran.
“Ada deh..”
“Ihh…kok ada deh. Jawab tau..Lo nggak pacaran sama Mario kan?” Tebak Mona penasaran.
“Emang kenapa kalo aku pacaran sama dia? Nggak boleh?”  Goda Anggie.
“Jadi beneran lo pacaran sama Mario?” Kaget Mona.
Anggie hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ahhhh….beneran? Ihhhh….beruntung banged lo.” Seru Mona histeris.
“Emang kenapa? “
“Kenapa lagi. Cowok yang elo pacarin sekarang itu adalah cowok paling popular di kampus. Cewek yang suka sama dia itu buanyaaakkkk banged. “
“Termasuk kamu?” Ganggu Anggie, Mona hanya menganggukkan kepalanya.
“Tapi gw ihklas. Demi sahabat gw yang jomlo ini, jadi gw bakal relain pangeran impian gw.”
“ Makasih ya…”
“Tapi lo belum cerita, gimana lo bisa jadian sama dia?”
“Iya tar aja. Sekarang kamu mesti bantuin aku dulu.”
“Bantuin apa?”
“Cariin aku alamat Mario. Aku lagi ada urusan sama dia.”
“La lo kan ceweknya, kok nggak tahu.”
“Kita kan baru berapa hari jadian, mana aku tahu dia tingggal di mana.”
“Emhhh…bener juga. Gw juga  nggak tahu dia tinggal di mana.”
“Terus gimana dong?”
Bingung Anggie.
“Ehmm gw ada ide, gimana kalau kita tanya ke temen-temennya aja.”
“Temen?”
Mona menggangguk.
“Gw sih nggak kenal, tapi gw tahu dengan siapa biasanya dia kumpul.”
“Ya udah ayok kita ke sana.” Ajak Anggie memaksa Mona.
“Aduh tapi gw nggak bisa sekarang. Gw ada jadwal konsul.” Keluh Mona.
Anggie pun kecewa mendengar sahabatnya tak bisa mengantarnya.
“Gini aja, kamu kasih tw aja nama mereka. Biar tar aku cari sendiri aja,”
“Lo serius mw cari mereka sendiri?” Tanya Mona.
“Iya..”
Akhirnya tanpa pikir panjang Mona pun memberitahu Anggie.
“Gw sih g terlalu tahu nama mereka. Tapi salah satu dari mereka namanya, Miko. Mukanya ancur, rambutnya kribo. Gayanya enggak bangetlah pokoknya.” Jelas Mona dengan mimik muka jijik. Anggie tersenyum melihat ekspresi Mona saat mendeskripsikan sosok pria bernama Miko itu.
“Kayaknya kamu kenal banged sama cowok yang namanya Miko ini.” Ledek Anggie.
“Apa? Kenal. Euuuhhfffttt..  ogah banged.” Elak Mona.
Setelah merasa jelas dengan info yang diberikan Mona, Anggie pun segera menuju ke gedung fakultas Hukum, mencari teman-teman Mario. Beberapa kali dia bertanya kepada orang di sekitarnya, akhirnya dia menemukan seseorang yang menurut sumber bernama Miko. Tepat saat itu orang yang bernama Miko itu tengah duduk-duduk di taman bersama beberapa temannya. Yang tak lain adalah Han, dan Jimmy teman-teman Mario. Mereka memang tak seburuntung Mario yang telah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya.
“Permisi…” Sapa Anggie, di sela-sela perbincangan asyik mereka.
Jimmy, Han, dan Miko yang tak sadar ada seorang gadis datang menghampiri mereka pun segera menghentikan obrolan mereka. Dan mereka pun terkejut ketika mengetahui gadis yang menyapa mereka adalah Anggie, gadis popular di kampus. Anggie yang bingung tak ada respon balik dari ketiga pria dihadapannya itu pun, mengulang kembali salamnya.
“Permisi….”
Dan ketiga pria itu pun segera sadar, ada seorang yang gadis yang menunggu jawaban mereka.
“Iya…ada yang bisa kami bantu?” Tanya Han dengan sigap.
“Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Anggie, jurusan Hubungan International.” Kata Anggie memperkenalkan diri.
“Gw Jimmy.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Oh, saya Han.” Kata Han ikut-ikutan.
 “Gw Miko. “
Mereka pun berebutan untuk berkenalan dengan Anggie.
“Emhh..iya. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Kata Anggie.
“Kita juga seneng banged, bisa kenalan sama cewek secantik Anggie.” Gombal Jimmy.
“Terima kasih.” Anggie tersipu melihat tingkah teman-teman Mario yang aneh-aneh itu.
“Sebenarnya, kedatangan aku ke sini itu mau nanya sesuatu?”Jelas Anggie sungkan.
“Oh, iya tanya aja. Sok silahkeun.” Kata Miko sok sunda.
“Apa kalian kenal Mario?”
Mereka pun semakin bingung, karena yang di cari ternyata pada intinya hanya sosok yang bernama Mario, teman mereka yang paling banyak penggemarnya.
“Iya, ada apa ya lo cari temen kita Mario?” Tanya Han.
“Saya ada perlu sama Mario. Apa kalian tahu di mana alamat Mario?” Tanya Anggie langsung.
“Memangnya lo ada perlu apa, minta alamat Mario?” Kata Miko penasaran.
“Ohhh, gw ngerti. Lo mw pakai jasa Mario buat bikin TA ya?” Tebak Jimmy sok tahu.
Anggie tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
“Enggak bukan soal itu.” Jawab Anggie.
“Ahhh gpp lagi, nggak usah malu. Itu hal yang wajar kok kalo lo mau pakai pembimbing luar buat skripsi lo.” Kata Miko yang semakin sok tahu.
Anggie semakin geli dengan sikap teman-teman Mario yang lucu ini.
“Aduh, kalian kayaknya salah paham deh. Aku nanya alamat Mario nggak ada hubungannya sama konsultasi apalagi skripsi. Aku tanya karena aku mau jenguk adiknya yang lagi sakit. Mau tanya Mario, tapi kayaknya dia lagi repot.”
Ketiga pria dihadapan Anggie itu pun semakin terkejut, bagaimana bisa temannya Mario mengenal Anggie, dan hubungan mereka nampaknya sangat akrab hingga Anggie tahu kondisi adik Mario sedang sakit.
“Bentar-bentar. Lo serius, yang lo maksud itu Mario yang sama dengan Mario sahabat kita?” Ragu Miko.
Anggie mengangguk.”Sepertinya begitu.”
“Bukan Mario anak pejabat, atau Mario anak kedokteran mungkin.” Tambah Jimmy.
Lalu Han pun angkat bicara, dengan menjelek-jelekkan Mario.
“Mario temen kita itu, bukan cowok yang baik, dia itu bandit, bajingan, berengsek, suka main cewek. Lo yakin nyariin dia?”
Tapi Anggie malah tertawa mendengar teman-temannya Mario menjelek-jelekkan Mario.
“Aku nggak salah kok, Mario yang aku cari itu Mario temen kalian, anak hukum lulusan terbaik tahun ini, dia pacarku.”
Dengan bangga Anggie menjelaskan pada Han. Miko dan Jimmy bahwa Mario adalah pacarnya. Dan ketiga teman Mario itu pun terbelalak kaget, sambil menelan air liurnya. Mereka terkejut, karena tanpa sepengetahuan mereka Mario diam-diam jadian dengan gadis impian mereka. Dalam hati mereka mengumpat Mario, dan berjanji akan memeberi Mario pelajaran karena merahasiakan hubungannya dengan Anggie.
“Bagaimana? Apa kalian bisa kasih aku alamat Mario?” tanya Anggie peanasaran.
“Iya, kita bisa kasih.” Kata Jimmy.
“Kita bertiga bakalan antar lo ke rumah Mario sekarang juga.” Tambah Han.
 “Serius? Apa nggak ngrepotin?” Tanya Anggie sungkan.
“Tentu saja nggak. Kebetulan ada bisnis yang harus kita lakuin sama Mario.”Jawab Miko.
Akhirnya Miko, Han dan Jimmy mengantar Anggie ke rumah Mario dengan mengendarai mobil Han. Sebelumnya mereka mampir di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga Mario. Mereka pun sampai di rumah Mario yang terletak di perkampungan yang cukup kumuh. Rumah bercat putih, yang cukup tua, kecil dan sederhana di situlah Mario, Ibu, dan kedua adiknya tinggal. Bagi seorang gadis dari kalangan atas macam Anggie, mungkin ini adalah pertama kalinya dia masuk ke perkampungan seperti ini. Gang sempit, rumah kecil-kecil yang berdempet-dempetan, jauh dari lingkungan Anggie yang serba mewah dan bagus. Tapi namanya cinta tak pernah mengkotak-kotak di lingkungan seperti apa dia tinggal, dan dari keluarga seperti apa dia dibesarkan. Cinta adalah ketika mata, telinga, hidung dan pikiran tak berfungsi secara normal, semua hal dijalankan dengan indra yang namanya perasaan. Itu kenapa sering dibilang cinta itu buta.
“Permisi….” Teriak Jimmy mewakili teman-temannya.
Han, Miko, Jimmy dan Anggie berdiri di depan pintu rumah Mario, menunggu seseorang keluar dari dalam rumah. Setelah beberapa saat mereka menunggu, seseorang keluar dari dalam rumah. Dia adalah Marsya, adik  perempuan Mario.
“Hallo….Marsya cantik. Apa kabar?” Goda Jimmy.
Dengan tampang sedikit jutek dia merespon godaan Jimmy yang memang sejak lama menaruh hati pada Marsya.
“Kalian ngapain ke sini? Kak Mario nggak ada di rumah. Dia pergi.” Jelas Marsya.
Keempat orang tersebut pun memasang raut muka kecewa, mendengar Mario tak ada di tempat, terlebih Anggie dia sangat ingin menemui pacarnya yang sudah beberapa hari tak ditemuinya. Han, Miko, dan Jimmy yang menyadari Anggie sedang kecewa pun saling lirik. Marsya yang menyadari di hadapannya ada seorang wanita asing yang baru pertama dia lihat ini pun penasaran siapa gerangan wanita cantik di depannya ini.
“Dia siapa?” Tanya Marsya spontan.
“Oya, kenalkan. Anggie ini adik Mario, Marsya. Marsya kenalin ini kak Anggie pacar kakakmu.” Jelas Han.
Masya terlihat sangat terkejut, karena dia tidak mengetahui bahwa kakaknya ternyata sudah mempunyai seorang kekasih.
“Pacar?”
“Hallo, Aku Anggie.” Sapa Anggie.
“Hallo juga, aku Marsya.”
“Senang kenalan sama kamu.”
“Saya juga kak. Ya udah ayo masuk, dulu.” Ajak Marsya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Mario, selepas Masrya mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
“Emang kakak lo ke mana,Sya?” Tanya Miko.
“Ke apotik nebus obat Nino.” Jawab Marsya.
“Ma….ada tamu.” Teriak Marsya memanggil mamanya.
Lalu mama Mario pun muncul dari dapur.
“Eh..ada teman-teman Mario.” Sapa mama Mario.
“Apa kabar tante?” Sapa Han, Miko dan Jimmy.
“Baik, kalian ke mana saja? Kok jarang main ke sini?”
“Kami lagi sibuk skripsi tante. Maklum belum lulus.” Kelakar Miko.
Mereka pun tertawa, mendengar gurauan Miko. Lalu pandangan mama Mario tertuju pada sosok asing yang ada di antara teman-teman Mario yang memang sudah akrab dengan keluarga Mario.
“Ini siapa? Kok sepertinya tante belum pernah ketemu sebelumnya?” Tanya mama Mario penasaran.
“Perkenalkan tante, ini Anggie teman kuliah kami. Calon mantu tante.” Jelas Jimmy.
Mama Mario agak terkejut dengan pejelasan Jimmy.
“Apa? Maksudnya? Ini pacar Mario?” Tanya Mama Mario memperjelas.
“Iya ma. Mama juga kaget kan? Kak Mario punya pacar nggak bilang-bilang sama kita.” Keluh Marsya.
“Iya tante, Mario itu emang harus dikasih pelajaran. Dia juga sama sekali nggak cerita sama kita kalo dia punya pacar. Kita juga tahunya baru tadi.” Imbuh Miko.
“Wahhh keterlaluan kakak tu. Padahal punya pacar cantik gini, pakai acara di umpetin ya Ma?” keluh Marsya.
“Nama kamu tadi siapa?” tanya Mama Mario lembut pada Anggie.
“ Perkenalkan saya Anggie, Tante.”
“Ohh..nama yang cantik. Secantik orangnya.” Puji mama Mario.
“Terima kasih tante.” Anggie nampak tersipu malu.
“Ohh..iya, tante kebetulan baru selesai masak. Kalian pasti belum sempat makan siang.bagaimana kalau kita makan bareng.”
“Asyiikkk..” Seru Han, Jimmy dan Miko.
Mereka semua pun makan siang bersama, sembari ngobrol-ngobrol ringan.
“Maaf makannya seadanya.” Rendah mama Mario.
“Mau masakannya apa aja, kalo Tante yang masak pasti enak.” Puji Han.
“Han ini bisa saja.” Kata mama Mario malu.
“Beneran tante, iyakan?” Kata Han meyakinkan.
“Bener banged tante. Eh, Anggie…Tante Mia itu, masakannya enak banged. Nggak kalah deh sama koki di rumah lo.” Imbuh Jimmy.
Anggie tersenyum, menanggapi ucapan Jimmy.
“Kalian ini terlalu berlebihan. Tante yakin, Mama Anggie juga pasti masaknya lebih jago. Iyakan sayank?” Elak mama Mario.
Anggie nampak diam mendengar ucapan mama Mario, wajahnya berubah sendu. Ucapan mama Mario membuat dia mengingat mamanya yang telah tiada. Dia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana rasa masakan yang dibuat oleh seorang ibu, karena ibunya meninggal sejak dia masih umur 8 tahun.
“Anggie lupa tante, gimana masakan Mama.”
Marsya dan mamanya bingung dengan sikap Anggie, sementara Han dan yang lain nampak canggung, karena mereka sudah mengetahui situasi Amggie yang sudah tidak memilik seorang ibu.
“Mama Anggie udah meninggal dari Anggie SD tante. Jadi Anggie udah lupa bagaimana rasanya masakan seorang mama.” Jelas Anggie, tetap sembari tersenyum meskipun hatinya sedikit pilu.
Mama Anggie merasa menyesal dengan ucapannya.
“Ya Tuhan, maafin tante. Tante menyesal telah membuat kamu sedih.”
“Nggak papa tante. Anggie baik-baik saja kok. Tapi meski pun saya lupa masakan mama Anggie seperti apa, tapi Anggie yakin kalau mama masih ada, masakannya pasti kayak gini. Masakan seorang ibu.”
“Sayang…” Mama Mario menggenggam jemari tangan Anggie.
“Kapan saja kalau Anggie pingin makan masakan tante, Anggie datang aja. Nanti tante masakin spesial buat Anggie.” Hibur mama Mario.
“Makasih tante.” Dengan mata agak berkaca-kaca.
Setelah mereka makan, mereka ngobrol diruang keluarga, sembari menemani Nino bermain robot-robotan. Anggie nampak akrab dengan keluarga Mario, begitupun dengan keluarga Mario yang menyambut Anggie dengan ramah tamah. Tiba-tiba seseorang mengucap salam dari depan rumah.
“Aku pulang..”
Dan seseorang pun muncul dari balik pintu, yang ternyata adalah Mario. Mario nampak terkejut melihat keadaan rumahnya yang mendadak ramai di penuhi teman-temannya, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah melihat keberadaan Anggie di rumahnya.
“Anggie?” Bingung Mario.
“Hai…” Sapa Anggie ramah.
“Ohh..akhirnya lo pulang juga..penghianat.” Teriak Miko.
“Yahh…kami sudah nunggu lo dari tadi.” Tukas Jimmy.
“Kayaknya lo hutang penjelasan ke kita, Yo.” Tambah Han.
Mario tak menghiraukan perkataan teman-temannya yang nampak penasaran,tapi dia malah mendekati Anggie.
“Apa kau sudah lama di sini?” Tanya Mario.
Anggie mengangguk sembari tersenyum. Mario dan Anggie pun keluar rumah, mereka mengobrol sendiri di teras depan rumah.
“Apa kamu marah aku datang ke rumahmu?” Tanya Anggie lembut.
Mario tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Anggie.
“Kenapa aku harus marah? Aku bahagia, karena kekasihku berkunjung ke rumahku.”
Lalu Mario memalingkan wajahnya menatap langit yang mulai senja.
“Ini pasti pertama kalinya kamu datang ke lingkungan yang kumuh seperti ini?”
Anggie memfokuskan pandanganannya pada Mario.
“Memang kenapa kalau ini pertama kalinya buatku? Menurutku tak ada yang aneh dengan tempat ini? Lingkungan ini cukup nyaman, keluarga yang hangat, dan mamamu dia sangat baik padaku. Jadi sepertinya aku akan sangat betah  jika tinggal di sini.” Gurau Anggie.
Mario tersenyum mendengar gurauan Anggie yang sangat jujur itu.
“Apa kamu mau tinggal di sini bersamaku?” Goda Mario.
Anggie dengan cepat menganggukkan kepanya dan langsung mengiyakan tawaran Mario meski pun dia tahu Mario hanya bercanda.
 “Ya..aku mau. Kau yang menawariku. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik kembali. Kelak aku akan menagihnya.”
Anggie nampak bersemangat menanggapi kalimat Mario, karena seperti itulah perasaan Anggie. Mario merasa lucu dengan sikap Anggie.
“Kamu bersemangat banged ngomongnya.”
Anggie merasa malu, dia hanya tersenyum melihat wajah Mario. Dia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.
 “Sepertinya kamu akan dapat masalah. Teman-temanmu sedang menunggu penjelasanmu.” Kata Anggie.
“Hemmm…sepertinya begitu. Wajah mereka seperti serigala yang siap menyantapkku.”
Anggie dan Mario pun tertawa. Mereka terus berbincang dengan wajah sangat bahagia. Sementara pada waktu yang bersamaan, dari dalam rumah Han, Jimmy dan Miko sedang memperhatikan sepasang kekasih yang sedang berpecaran di teras.
“Liat wajah si penghianat itu! Sangat bahagia.” Kata Miko dengan wajah sinis.
Lalu Jimmy menimpalinya.
“Merahasiakan berita sebesar itu dari sahabatnya sendiri. Itunkah yang dinamakan sahabat?’
“Selama ini kita selalu membicarakan tuan putri Anggie, dan dia seolah-olah tidak mengenalnya dan tidak peduli. Benar-benar kurang ajar.” Timpal Han.
Lalu tiba-tiba seseorang ikut menyahut dari belakang, yaitu Marsya.
“Kalian sedang apa?”
Mereka bertiga terkejut.
“Marsya?” seru Han.
“Ohh,….aku tahu. Kalian sedang menguntit kakakku pacaran? Wahhh…benar-benar.”
Kata Marsya.
“Bukan…bukan seperti itu.” Kata Jimmy.
“Lalu apa? Sudah jelas-jelas kalian sedang mengintip kakakku, masih saja ngeles.”
Mereka pun terus saling beradu mulut, dan sangat berisik. Sebenarnya Han, Miko, dan Jimmy tidak benar-benar marah. Mereka hanya sedikit jengkel karena Mario merahasiakan hubungannya dengan Anggie. Mereka cukup mengenal bagaimana sikap Mario yang sangat dingin, cuek, dan kurang suka berbagi cerita kehidupannya dengan orang lain. Dan teman-teman Mario pun cukup tahu jalan cerita hidup Mario seperti apa, karena sejak SMA mereka  sudah berteman, dan selama itulah mereka selalu berada di samping Mario, bahkan di masa-masa sulitnya. Dan suasana sore  di rumah Mario sangat hangat, berbeda dari sore-sore biasanya. Penuh dengan kebahagiaan, keceriaan, dan kasih sayang. Sampai pukul delapan malam, akhirnya Anggie  dan ketiga teman Mario Han, Miko dan Jimmy pun pamit pulang. Mario mengantar Anggie pulang ke rumahnya. Hari yang sangat berkesan bagi Anggie, dan tak akan pernah terlupakan.
***
Waktu terus berjalan, hari ini adalah kenyataan yang sedang kita jalani, esok adalah misteri dan kemarin hanya akan menjadi masa lalu yang akan kita kenang atau kita lupakan. Cinta terus memeberikan energi untuk kita bisa melewati waktu demi waktu.
------------
Hari ini genap satu bulan aku dan Mario jadian. Kebahagiaan tak pernah berhenti Mario berikan padaku. Sejak Mario hadir dalam hidupku, semua berubah, setiap malam aku hanya bersemangat menunggu pagi cepat datang, agar aku bisa segera bertemu dengannya. Tak pernah sekali pun ku lewatkan hari-hariku tanpa memikirkan Mario. Saat bahagia aku bersamanya, saat aku kesulitan dia memberiku jalan, saat aku mulai menyerah dia membawakan harapan. Itulah arti Mario dalam duniaku.
Waktu sudah menujukkan pukul 3 pagi, sudah berjam-jam aku berada di depan komputer, tapi tak satu pun ide yang berhasil aku dapatkan untuk ku masukkan dalam skripsiku. Tumpukan diktat tak juga mampu membantuku memecahkan masalah yang diberikan oleh professor Herman. Di tengah kebuntuan otakku, ku lihat handphone di atas mejaku, sekilas muncul pikiranku tentang Mario. “Sedang apa dia sekarang?” Ku ambil handphone ku dan tak perlu lagi pikir panjang aku segera menghubunginya.
“Hallo…?” Terdengar suara Mario dari sebrang telpon.
Mendengar suara Mario, hatiku langsung bergetar.
“Halo…” Balasku.
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuhku.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Aku tersipu mendengar kalimat Mario, sembari tersenyum sendiri seolah Mario sedang ada di hadapanku.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.” Tanya Mario lagi.
Tebakan Mario selalu benar, dia selalu tahu bagaimana suasana hatiku.
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?” Gurauku.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Aku pun  tertawa setelah mendengar ucapan Mario.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?”
“Emhh…Mungkin.” Sombongnya.
“Apa coba?” Tantangku.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluhku.
“Apa aja?”
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.” Jelasku.
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.” Kesalku.
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.” Komentar Mario.
“Baru muncul?”
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Aku seperti tersihir, Mario memang cerdas, pantas saja semua orang meminta bantuan padanya untuk mengerjakan sekripsinya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…”
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
Aku bingung dengan ucapan Mario.
“Heh..?”
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
Aku terkejut bagaimana bisa Mario bicara seperti itu, apa sebutuh itukah dia dengan uang, hingga dia memasang tarif juga padaku.
“Berapa yang harus ku bayar?”
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Sudah aku duga, Mario bukanlah orang seperti itu. aku sangat lega.
“Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..”
Deg….Mario mengatakan I love you? Hatiku berdegub sangat kencang mendengar ungkapan cinta dari Mario.
“I love you too.”
Dia pun menutup sambungan telepon.
Aku langsung meloncat kegirangan.
“Aku harus  segera menyelesaikannya..” Gumamku.
Mario memang sangat berpengaruh dalam hidupku, dia mampu memberiku semangat di saat aku hampir putus asa. Ku lakukan sesuai apa yang diajarkan Mario tadi, ku baca kembali materi yang aku tulis. Dan setelah beberapa kali aku baca, ternyata benar banyak pertanyaan yang muncul. Segera aku cari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, agara tidak menjadi pertanyaan lagi. Hingga waktu pukul 5 pagi aku baru meneylesaikan pekerjaanku. Dan aku pun tertidur.
----------
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, mungkin sebagian orang istirahat atau bersenang-senang di tempat hiburan, tapi tidak untuk Mario, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di  cafe jam 1 malam. Dia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya, hingga telephone genggamnya berdering. Tertulis jenis di layar itu adalah panggilan dari Anggie. Dia pun menghentikan langkahnya, lalu bersandar di tembok pagar rumah orang, kemudian mengankatnya.
“Hallo…” Jawab Mario.
Suara Anggie dari seberang telephone pun menjawab.
“Halo…”                  
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuh Anggie, dengan suara agak berat.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Mario.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?”Timpal Anggie.
Mario tersenyum mendapati Anggie terdengar penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Tak ada jawaban dari Anggie, Mario pun meneruskan pertanyaannya.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.”
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?”
Anggie berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Terdengar suara tawa kecil dari sebrang telephone.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?” goda Anggie.
“Emhh…Mungkin.”
“Apa coba?” Tantang Anggie menggoda.
Tapi Mario tidak menggubris tantangan Anggie, dia pun menanyakan lagi apa kesulitan yang dialami Anggie lagi.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluh.
“Apa aja?”
Mario terus memancing Anggie tanpa Anggie sadari.
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.”
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.”
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.”
“Baru muncul?”
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Anggie tak menjawab sepatah katapun, sampai Mario melanjutkan lagi komentarnya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…”  jawab Anggie pasti.
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
 “Heh..?”
Mario nampak tersenyum mendengar Anggie terkejut.
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
 “Berapa yang harus ku bayar?”     
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Wajah Mario nampak sangat puas mengerjai Anggie.
 “Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..”
Sebuah pernyataan cinta akhirnya dia ucapkan.
“I love you too.”
Mario pun menutup sambungan telepon, lalu tersenyum dan melanjutkan perjalanannya sampai ke rumah.
--------------
Kring…..Kring….Kring…
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, jam weaker di kamarku pun berdering. Dengan kepala agak pusing dan mata masih ngantuk, aku mulai membuka mataku. Menyadari aku sudah terlambat, aku segera bangkit dari tidurku.
“ Gawat, aku ada bimbingan jam sebelas.”
Dengan sempoyongan aku ambil langkah seribu. Mandi, make up, semuanya aku lakukan dengan singkat. Ku kemasi bahan sekripsiku, lalu segera masuk ke mobil yang sudah di siapkan oleh pak Min.
“Pak Min, tolong cepat ya, saya ada bimbingan jam 11.” Pintaku pada pak Min yang siap untuk meneyetir.
“ Baik, Non.”
Dengan wajah panik dan gelisah aku terus melihat jam tangan, sambil sesekali meminta pak Min untuk lebih cepat menyetir. Untung jalan sudah tidak begitu macet, jadi aku bisa lebih cepat sampai ke kampus. Ku lihat jam di tangan sudah pukul 12. Aku berlari dari parkiran menuju ruangan dosen pembimbingku, professor Helmi. Dari jauh ku lihat professor Helmi sedang berjalan meninggalkan ruangannya. Aku mempercepat langkahku, berharap professor Helmi masih berkenan memberiku waktu untuk konsultasi.
“Proff… permisi. Maaf saya terlambat.” Ucapku dengan nafas terengah-engah.
“Maaf saya banyak urusan. Saya tidak ada waktu untuk melayani mahasiswa tidak disiplin seperti anda.” Ketus Profesor Helmi sembari terus berjalan menuju lift.
Aku terus mengikuti langkah professor Helmi dengan terus meminta maaf dan juga kesempatan untuk bisa berkonsultasi.
“Saya tahu saya salah prof, tapi saya mengerjakan ini semalaman, saya mohon professor berkenan memberikan saya waktu sedikit saja, agar saya bisa meperlihatkan hasil kerja saya. saya mohon.
Tepat di depan lift dia berhenti.
“Aku tidak punya banyak waktu, 10 menit lagi saya ada kelas di Komunikasi.”Tegasnya.
Lemas sudah kakiku, sepertinya tak ada lagi kesempatan dar professor Helmi.
“Anda punya waktu dari sekarang sampai lift naik di lantai 4.”
Ternyata professor Helmi memeberiku kesempatan, meskipun hanya beberapa menit aku akan menggunakan waktu yang singkat itu. Tepat saat kami masuk ke dalam lift aku menyerahkan bahan sekripsiku kepada professor Helmi. Sembari professor Helmi membaca bahan sekripsiku aku menjelaskan beberapa point penting yang sudah ku perbaiki yang sebelumnya sempat di permasalahkan oleh professor Helmi. Ketika lift menunjukkan angka 4, kami pun keluar, dan waktu yang diberikan oleh professor pun habis. Sepertinya beliau sudah selesai membaca  bahan sekripsiku dan mengembalikannya kepadaku. Raut wajah professor Helmi sangat datar, sehingga tidak bisa menebak apakah beliau menerima atau tidak pekerjaanku.
“Sepertinya kamu sudah paham apa yang saya maksud.”
Mendengar kalimat professor Helmi aku agak ragu, apa maksud dari perkataan beliau.
“Maksudnya?” Tanyaku ragu.
“Lusa temui saya jam 1 di ruangan saya, dan bawa halaman pengesahan naskah sekripsi kamu.”
“Jadi saya di acc pak?” Seruku riang.
“Iya…”
“Terima kasih pak, terima kasih.”
“Saya tidak suka orang yang tidak disiplin. Jika kamu terlambat lagi, saya tidak akan mau membimbing anda lagi.”
“ Siap pak. Saya janji, besok saya akan tepat waktu.”
Setelah professor helmi pergi, aku meloncat kegirangan.
“Akhirnya berhasil, terima kasih Tuhan. Mario harus tahu.”
Aku ingat setelah ini aku ada janji berkencan dengan Mario, aku meminta pak Min mengantarku ke restoran tempat Mario bekerja dengan di antar pak Min. Setelah mengalami beberapa kali macet, akhirnya 2 jam kemudian kami sampai di lokasi. Sesampainya di sana aku melihat Mario sedang sibuk melayani pengunjungnya..
“Bagaimana aku bisa lupa, ini kan jamnya dia kerja.” Gumamku.
Sejenak aku terpaku melihat Mario yang mengenakan seragamnya sama seperti saat pertama kali kami bertemu, di tempat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di luar, agar tidak mengganggunya bekerja. Aku terus berdiri di depan restoran menunggu Mario, 1 jam, 2 jam, 3 jam sudah berlalu, sampai akhirnya pukul 9 malam. Ku lihat lampu restoran mulai mati. Meski pun kaki kram karena terlalu lama berdiri, memikirkan sebentar lagi Mario keluar aku kembali bersemangat. Dan setelah hampir satu jam, akhirnya pintu restoran terbuka dan beberapa orang keluar dari sana, ku lihat Mario ada di antaranya.  Mario dan teman-teman kerjanya saling mengucapkan salam perpisahan.
“Mario…” Sapaku lirih.
Entah dia mendengar atau tidak, tapi dia terkejut ketika berpaling melihatku sudah berdiri di depan restoran.
“Anggie,…?”
Dia pun menghampiriku.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Aku…” Ketika hendak melangkahkan kakiku, tiba-tiba pandanganku kabur. Dan entah apa yang terjadi aku tak tahu lagi.
Aku mulai membuka mataku, dengan pandangan yang masih kabur ku lihat sorot lampu sedikit-demi sedikit aku mulai membuka mataku. Ku lihat di sekelilingku, sebuah dinding-dinding putih, bau obat yang menyengat. Aku masih belum sadar di mana aku sekarang, sampai ku dengar suara seseorang memanggil namaku. Suara itu sangat familiar, dan ketika ku alihkan pandanganku ternyata itu adalah Mario.
“Anggie? Kau sudah sadar?” Tanyanya cemas.
“Mario ?” Tanyaku bingung.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.” Jelasnya.
Aku tidak berkata apa-apa.
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.” Jawabku lirih.
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu berdiri sejak siang?”
 “Aku minta maaf…” Sesalku.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Sambil terus menatapku dia memegang kedua tanganku.
“Nggak papa, aku yang bodoh, saking semangatnya mau ketemu kamu, aku lupa kalo kamu lagi kerja.”
Mario pun mencium keningku dengan lembut, dan memelukku dengan erat. Rasanya hangat dan nyaman berada dalam pelukannya, sampai tak mau melepaskannya.
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Aku hanya menggeleng. Entah apa aku sudah gila, tak ada lagi rasa lapar yang aku rasakan sekarang adalah perasaan bahagia, nyaman, dan berbunga-bunga berada di samping Mario.
Dia pun mengambil semangkuk bubur nasi dan menyuapkannya padaku. Hanya beberapa sendok yang berhasil masuk, karena rasanya masih mual. Setelah dokter menyatakan kondisku membaik, aku pun di perbolehkan untuk pulang. Mario mengantarku pulang, hingga tiba di depan pagar rumahku, kami pun berpamitan.
 “Terima kasih, ya.”Ucapku.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.” Ucapku.
“Hemmm..”
Aku pun membalikkan badanku, dan beranjak meninggalkan Mario, tapi belum sempat ku langkahkan kaki, tiba-tiba Mario merengkuh tanganku.
“Anggie…”
Dia menarik tanganku, hingga aku jatuh dalam pelukakkannya. Dia memelukku sangat erat, dan meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. Matanya terus melihat ke dalam mataku, wajahnya semakin dekat dengan wajahku, sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibirku. Jantungku seketika berdetak tak beraturan, darahku seketika mendidih. Dia terus mengecup bibirku, dan akhirnya kami pun saling berbalas. Untuk beberapa saat waktu seakan berhenti, menikmati gejolak hati yang bergelora. Perlahan kami melepaskan ciuman kami, dan waktu pun kembali. Berbeda dengan sikap Mario yang nampak tenang, aku merasa kikuk dan salah tingkah sendiri.
“Ehmm…aku masuk dulu.” Ucapku.
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.”
Aku pun berbalik dan beranjak pergi dengan perasaan tak karuan.
Dan Mario masuk ke mobil setelah aku masuk ke dalam rumah lalu pergi. Jantungku masih saja berdegub kencang. Ciuman lembut Mario masih sangat terasa di bibirku, wajahnya terus terlintas dipikiranku. Mario, aku sangat mencintaimu.
-------------
Waktu sudah menunjukkan pukul 12, inilah waktu Mario mulai bekerja di restoran. Meski pun hanya tidur 2 jam setelah dia menyelesaikan proyek skripsi mahasiswa sepulang dia kerja semalam, dia tetap harus kembali bekerja di restoran. Berbeda dengan Anggie yang sangat antusias dengan kencannya, Mario terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia lupa jika dia ada janji dengan Anggie, bahkan dia juga tak menyadari jika sedari tadi Anggie menunggunya di luar. Sementara Mario sedang sibuk di dalam, Anggie tetap berdiri menunggu Mario dengan sabarnya. Malam pun mulai menjelang, waktu menunjukkan pukul 8 malam, saatnya restoran tutup. Sempat terpikir oleh Mario saat meilhat jam di tangannya, bagaimana keadaan Anggie. Dia teringat bahwa mereka sepakat akan berkencan seusai Anggie bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Kenapa dia tidak muncul?” Gumam Mario
“Apa dia gagal?”
Dia pun segera berkemas. Tak ada jadwal kerja di café, dia pun berniat untuk pulang. Bersama dengan karyawan restoran lainnya, dia keluar dari restoran. Ketika tengah berjalan keluar dari pintu restoran, seeorang memanggilnya. Dia menoleh mencari arah sumber suara tersebut, sesosok wanita cantik mengenakan blus warna biru laut tengah berdiri di depan etalase restoran. Anggie, dialah wanita cantik.
“Mario….” Panggilnya lirih.
Wajahnya terlihat pucat.
 “Anggie,…?”
Mario mulai mendekati Anggie.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario heran.
“Aku…”
Belum sempat Mario sampai Anggie sudah terjatuh di lantai. Mario pun berlari menghampiri Anggie, dan mendapati Anggie sudah tak sadarkan diri.
“Anggie, bangun…nggiiee…!! Anggie…”
Tanpa pikir panjang Mario menggendong Anggie dan membawanya ke rumah sakit. Jalan Jakarta yang macet malam itu, membuat Mario memutuskan untuk tetap membawa Anggie dalam gendongannya dan mencari rumah sakit terdekat. Untung saja 100 meter dari restoran tempat Mario bekerja, ada sebuah rumah sakit. Sesampainya di sana Anggie langsung ditangani oleh medis. Meski pun nampak tenang, tapi sepertinya Mario cukup cemas dengan keadaan Anggie, nampak saat dokter keluar dari ruang UGD dia langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Anggie.
“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” cemas Mario
“Anda keluarga pasien?” tanya dokter.
“Bukan, saya teman..nya.” Jawab Mario.
“Hemm…pasien menderita anemia.“ Jelas dokter.
“Anemia? Lalu bagaimana dia sekarang?”
“Sekarang sudah tidak apa-apa, kami sudah menanganinya. Hanya saja tubuh pasien kekurangan cairan dan tidak ada asupan nutrisi, jadi kondisinya lemah seperti itu. Lain kali tolong dijaga makanya, dan banyak-banyak minum air putih ya.”
“Baik dok. Terima kasih.”
Selepas dokter pergi, Mario segera menemui Anggie yang masih tak sadarkan diri. Mario duduk di samping Anggie, lalu memegang jemari anggie yang lemah. Entah apa yang di pikirkan Mario saat itu, tak ada suara, tak ada kata, hanya diam dan terus menatap wajah Anggie. Waktu terus berjalan, tapi Mario tetap terjaga menemani Anggie, tanpa tidur sekali pun. Hingga hari berganti, Anggie pun  mulai tersadar, dan membuka matanya.
 “Kamu sudah sadar?” Tanya Mario sembari tersenyum.
“Mario…?”
Wajah Anggie nampak kebingungan.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.”
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.”
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu sejak siang di sana.”
Dia hanya mengangguk.
“Aku minta maaf…”
Tak banyak yang dikatakan Anggie, hanya ucapan maaf yang ia lontarkan.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Mario pun mulai mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Anggie, lalu memeluknya dengan erat.
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Dengan sabarnya Mario merawat Anggie, dia pun menyuapi Anggie dengan semangkuk bubur nasi. Mereka nampak sangat serasi layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Mario seperti energy bagi Anggie, senyum Anggie terlihat sangat bahagia jika bersama Mario.
Melihat kondisi Anggie sudah cukup baik dokter pun memperbolehkannya untuk pulang. Mario pun mengantar Anggie pulang ke rumahnya.
“Terima kasih, ya.” Ucap Anggie.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.”
“Hemmm..”
Mereka pun berpamitan, namun ketika Anggie hendak membalikkan badan, Mario merengkuh tangan Anggie.
 “Anggie…”
Mario menarik tangan Anggie, dan membawanya jatuh di pelukannya. Lalu kedua tangan Mario di tempelkannya di pipi Anggie, wajahnya semakin mendekat ke wajah Anggie. Kedua mata mereka saling beradu satu sama lain, kemudian bibir mereka pun saling beradu, sangat mesra. Untuk beberapa saat dunia mereka terhenti, dan menikmati adegan tersebut. Hingga mereka mulai melepaskan ciuman tersebut, suasana pun menjadi canggung. Anggie pun mengakhiri kecanggungannya. Dia berpamitan dengan Mario.
 “Ehmm…aku masuk dulu.”
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.”
Dan mereka pun mengakhiri drama romantik mereka untuk pagi itu dengan pulang ke rumah mereka masing-masing.
-------------
Tak ada yang tahu hari seindah ini akan terjadi pada Anggie, tak ada yang tahu pria sesempurna Mario akan hadir dalam hidup Anggie yang kelabu. Karena kemarin, hari ini, dan esok adalah tak akan ada yang tahu jika kita belum menjalaninya.
****







 Chapter 1
Seharusnya pagi ini tidak pernah terjadi. Pagi yang cerah, dengan mentari ceria dan penuh kebahagiaan ini tak pernah sekalipun terpikirkan akan berubah menjadi kabut mendung dalam kehidupan beberapa manusia. Dari sinilah semua cerita kepedihan itu berawal.
Di antara serpihan lembut angin pagi, Mario bersama teman-temannya Jimmy, Han, dan Miko, sedang bergerombol duduk di taman kampus, ketika seorang gadis berlari-lari menghampiri temannya yang tengah duduk dibangku dekat kolam. Dia memanggil gadis yang duduk itu dengan nama, Anggie. Pandangan Mario pun tertuju pada gadis manis yang mengenakan blues warna biru laut yang membuatanya terlihat semakin anggun itu. Gadis yang dipanggil Anggie itu, mampu membuat Mario beberapa detik tak berkedip. Ternyata teman-teman Mario menyadari, jika sahabatnya sedang terpesona oleh seorang gadis yang tengah duduk dibangku dekat kolam bersama temannya itu.
“Wah, kayaknya ada yang lagi dapat target baru ni, Bro.” Celetuk Miko, teman Mario yang berambut kribo seperti penyanyi era-80an. Mereka pun tertawa dan saling bersautan menanggapi sikap Mario. Kemudian Jimmy, pria kurus yang sok playboy tapi setia kawan ini pun angkat bicara. “ Namanya Anggie, dia mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan internasional.”
“Dia anak politikus terkenal” Tambah Han dengan ekspresi wajah yang serius. Pria Chinest yang penampilannya mirip boyband ala Korea ini, kredibilitasnya tidak bisa disepelekan mengenai gossip dan informasi terbaru di kampus. Aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus membuatnya tak sulit untuk mendapatkan info dan gossip tersebut.
“Lo tahu dari mana?” Tanya Miko penasaran.
 “Apa sih yang nggak Han tahu? Tikus beranak di kampus ini aja dia tahu, apa lagi gossip besar kayak gitu. Ya nggak Han?” Kelakar Jimmy. Dan semua pun tertawa mendengar banyolan Jimmy, kecuali Han tentunya. Mukanya berubah cemberut mendengar ledekan Jimmy.
 “Dia kan demisioner BEM Fisip, jadi gw lumayan tahu lah tentang dia.”  Jelas Han menggebu-gebu.
“Emang bokapnya siapa sih?” Tanya Miko detail.
“Gw rada lupa namanya. Pokoknya dia ketua umum partai intregitas gitu lah.” Imbuh Han. Jimmy yang cukup mengikuti perkembangan dunia politik pun mulai menerka-nerka siapa yang dimaksud oleh Han.
“Partai Intregitas? Harlan Prawira maksud loh?” Tebak Jimmy.
“Bener-bener. Politisi yang terkenal frontal dan kritis itu loh.” Jawab Han membenarkan.
“Kalo nggak salah dia itu pernah jadi menteri tapi mengundurkan diri setelah 1 tahun masa jabatannya.” Tanya Jimmy yakin. Mendengar perbincangan sahabat-sahabatnya tentang Anggie itu pun membuat Miko semakin menjadi.
“Wah..mantab tuh. Beruntung banged kalo bisa pacaran sama dia. Udah cantik, anak pejabat lagi.”
“Udah jangan ngimpi..” Ledek Han.
“Ye, biarin. Namanya juga cita-cita. Kalo kita punya pacar anak orang berpengaruh kayak gitu, Kita bakalan lebih mudah dapat kerja. Syukur-syukur papanya rekrut kita disalah satu perusahaannya.” Khayal Miko berdalih.
“Adanya bukan kerja di kantornya tapi di rumahnya. Alias pembokat.” Ledek Han.
Semua pun tertawa dengan tingkah Miko yang terus berkhayal bisa menjadi kekasih gadis popular itu. Dan perbincangan mereka tentang gadis itu terus berlanjut dan semakin seru saja.
 “Masalahnya mana mungkin cewek sosialita kayak gitu mau pacaran sama cowok macam kita-kita gini. Cowok kere, yang sering nunggak uang SPP.” Ketus Jimmy.
“Menurut sumber yang gw dapet, anaknya tuh sederhana, ramah, baik, dan nggak pilih-pilih temen gitu.” Jelas Han.
“Wah, bener-bener Malaikat.” Kagum Miko.
“Nggak rugi emang kita punya temen biang gossip kayak lo Han.” Kembali Jimmy meledek Han.
Mereka pun saling meledek satu sama lain dengan asyiknya. Menyadari bahwa hanya Mario yang dari tadi tidak memberikan komentar, Jimmy pun heran.
“Eh, Mario..lo kenapa dari tadi diem aja.” Tanya Jimmy.
Dan semua pun ikut berkomentar tentang sikap Mario tersebut.
“Iye, neh..tadi dia yang liatin tu cewek, tapi dari tadi malah diem aja. Komentar dikit kek.” Imbuh Miko.
“Lo nggak serius mau jadiin dia target operasi lo kan?” Tanya Han dengan nada meledek.
Tapi berbagai komentar dari teman-temannya tak membuat Mario berbalik komentar, dia hanya tersenyum simpul dan menghabiskan minuman kalengnya.
“Ya…malah senyum ne bocah.” Celetuk Miko.
Tak ada yang yang tahu apa arti dari senyum Mario pagi itu. Dan tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan setelah pagi yang cerah itu.
----------
Di sudut taman, terlihat seorang gadis tengah duduk sendiri. Dengan wajah gusar, dan putus asa dia terdiam sambil memikirkan berbagai pertanyaan dalam hidupnya. Dan gadis itu bernama Anggie. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang tidak selamnya bisa kita dapatkan. Sesuatu yang dinamakan kebahagiaan. Tak selamanya uang bisa membeli segala-galanya, termasuk uang. Itulah yang terjadi pada Anggie. Materi yang berlimpah, juga strata sosial yang tinggi tak mampu memenuhi kemiskinanan hatinya. Jadi apakah uang masih bisa dibilang segala-galanya di dunia ini.
“Nggie…” Panggil seorang gadis yang berlari menghampiri Anggie yang tengah duduk sendiri di taman. Gadis itu nampak terengah-engah setelah berlari-lari.
“Gw nyariin elo dari tadi.”
Dengan heran Anggie melihat wajah gadis yang baru datang itu.
“Kenapa lo nggak bales sms gw?”
Anggie masih melihat dengan heran mulut gadis yang berdiri di depannya yang tak hentinya berbicara. Dia adalah sahabat Anggie, namanya Mona.
“Nggie…kenapa diem aja?”
Anggie tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Sejenak dia melupakan kesedihan batinnya.
 “Sorry ponselku lowbath.” Jelas Anggie.
Mona hanya mengangguk-anggukan kepala menanggapi alasan Anggie, tapi dia masih bingung melihat wajah sahabatnya itu nampak murung.
“Lo nggak lagi baik-baik aja kan?” Cemas Mona.
Anggie menghela nafas panjang panjang.
“Pasti lo lagi ada masalah kan?” Desak Mona.
“Papaku akan menikahi wanita itu.” Jawab Anggie lirih.
Mona terkejut mendengar cerita Anggie.
“Menikah?” Tanya Mona memperjelas.
Anggie hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Mona.
“Kapan?” Tanya Mona penasaran.
“Mungkin dalam waktu dekat ini. Aku juga kurang tahu” Jelas Anggie enggan.
“Terus lo setuju sama rencana pernikahan mereka?”
“Aku nggak ada pilihan lain. Dengan atau tanpa persetujuan aku mereka akan tetap menikah.” Jawab anggie pasrah.
Mona memahami perasaan Anggie, dia hanya memeluk sahabatnya itu untuk memberi dukungan.
“Udahlah nggak usah di bahas. By the way gimana skripsimu?” Tanya Anggie mengalihkan.
“Lancar dong. Lo?”
“Payah. Dosennya ngerjain aku melulu. Minta ini, minta itu. Pusing.” Keluh Anggie pada sahabatnya itu.
 “Hemm…kenapa elo nggak pake jasa konsultan aja?”
Anggie bingung dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu.
“Maksudnya?”
“Maksudnya elo pake jasa konsultan buat bantu lo ngerjain skripsi lo.”
“Konsultan skripsi?”
Anggie tidak tahu apa yang dimaksud oleh Mona, karena itu pertama kalinya dia mendengar istilah konsultan skripsi.
“Emang ada ya?” Tanya Anggie penasaran.
“Ada dong. Lo pikir selama ini skripsi gw lancar tanpa hambatan itu karena apa?” Sombong Mona.
Anggie semakin penasaran. Bagaimana sahabatnya itu bisa memakai jasa seperti itu.
“Mending kalo gw saranin lo pake Mario aja.” Bujuk Mona.
“Mario? Siapa dia?”
“Mario itu lulusan terbaik jurusan hukum di kampus kita. Gw jamin lo pasti langsung di acc sama pak Helmi.”
“Dia kan jurusan hukum, bagaimana dia bisa  ngerjain tugas akhir anak HI coba.”
“Emang lo pikir selama ini gw nggak pernah ngeluh-ngeluh soal skripsi gw itu berkat siapa? “
Anggie mulai mengingat kalau sahabatnya memang tak pernah mengeluh soal skripsinya, berbeda dengan dia yang selalu uring-uringan tiap selesai bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Berkat dia?” Tanya Anggie ragu.
“Ya berkat cowok yang namanya Mario itu.”
Anggie terkejut, mendengar jawaban Mona. Dia penasaran seperti apa orang yang namanya Mario itu? Bagaimana bisa dia sehebat itu. Mampu mengerjakan skripsi jurusan yang jelas-jelas bukan merupakan bidang studinya selama ini.
***
Jika manusia bisa memilih takdir dan nasibnya sendiri, semua orang di dunia akan bahagia. Tak akan ada yang namanya kesedihan, air mata, apalagi kemiskinan. Tapi hidup tak akan sesederhana itu, karena manusia mempunyai takdir dan nasibnya sendiri-sendiri. Jika takdir Tuhan yang menentukan bagaimana ceritanya, sedangkan nasib, kita sendiri yang menentukan bagaimana jalannya. Ada manusia yang sejak lahir diciptakan sudah bahagia, tapi ada juga yang sejak lahir hingga meninggal hidupnya biasa-biasa saja. Ada yang dari kecil hartanya berlimpah, tapi tak jarang manusia yang seumur hidupnya hanya menjadi seorang yang serba kekurangan. Pertanyaannya apakah itu termasuk takdir atau nasib manusia? Itulah yang sering menjadi pertanyaan Mario sejak dia lahir ke dunia ini. Dia tidak meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang sederhana dan penuh penderitaan seperti ini. Dia juga tidak bisa menolak ketika takdir mengambil ayahnya saat dia masih duduk dibangku SMA. Dia juga tidak mengeluh saat nasib merubah dia menjadi tulang punggung bagi ibu, dan kedua adiknya. Tapi meski begitu, jika sekarang dia diberi kesempatan dilahirkan kembali untuk memilih takdir dan nasibnya sendiri, dia tetap ingin menjadi Mario yang berjuang demi keluarganya. Karena Ibu dan kedua adiknyalah yang menjadi alasan dia tetap hidup hingga sampai saat ini. Hidup yang keras dan dunia yang penuh ketidakadilan ini wajar buatnya. Bagi orang-orang seperti Mario hidup adalah bagaimana dia harus banting tulang mencari uang, agar keluarganya bisa makan dan adik-adiknya bisa sekolah. Mimpinya sekarang adalah membuat dunia lebih adil baginya dan keluarganya. Agar kebahagiaan tak hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang ditakdirkan kaya sejak lahir, tapi juga bagi Ibu dan adik-adiknya yang menderita sejak Ayahnya meninggal. Dunia Politik yang keji dan penuh dengan intrik juga ketidak adilan membuat kejujuran Ayahnya menjadi boomerang. Dalam politik teman bisa jadi lawan, dan dengan uang hukum pun jadi abu-abu. Siapa yang tidak bisa beradaptasi dengan kebiasaan dan atmosfir politik seperti itu, maka dia akan jatuh dan tersingkir. Ditekan, dijatuhkan dan diinjak terus menerus membuat Ayah Mario menyerah, hingga akhirnya dia meninggal karena serangan jantung. Karena pengalaman pahit di masa lalunya itu lah ia berjanji akan mencari keadilan. Mimpinya untuk mencari keadilan dalam kehidupan Ibu dan adiknya, mendorong dia untuk berusaha keras mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengacara yang selalu mencari keadilan. Dengan cara apapun dia akan berusaha membawa Ibu dan adik-adiknya berada di tempat yang lebih layak dari sekarang.
“Kakak…” Panggil Marsya adik perempuan Mario, yang sekarang duduk dikelas 2 SMA. 
“Iya sayang, ada apa?” Jawab Mario sembari tersenyum hangat.
Marsya pun menghampiri kakaknya yang sedang menonton televisi.
“Ada apa adekku sayang..?” Tanya Mario kepada adiknya yang hanya terdiam dengan gelisah.
“Marsya belum bayar SPP bulan ini.” Jawab Marsya hati-hati sambil menundukkan kepalanya. Mario menghela nafas pendek, lalu tersenyum.
“Maafin kakak ya, hampir aja kakak lupa. Tapi kamu tenang ya, kakak udah siapin kok uang buat bayar SPP sekalian uang jajanmu satu bulan.”
“Makasih ya kak. Marsya sayang banged sama kakak.”
Marsya pun langsung memeluk kakak laki-lakinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Kakak juga sayang banged sama adek kakak ini.”
“Mama, di mana sih? Dari tadi kakak pulang nggak kelihatan.” Tanya Mario sambil celingukan mencari ibunya.
“Mama lagi ke tempat tetangga sebelah bantuin masak.” Jawab Marsya.
“Emang ada acara apa di sana?” Tanya Mario penasaran.
“Arisan. Mama bantu-bantu di sana.”
“Nino ikut?” Tanya Mario cemas.
“Hemm,..” Jawab Marsya sembari menganggukkan kepalanya.
“Kenapa mama pakai ngajak Nino segala”
“Paling bentar lagi pulang. Orang udah dari tadi sore kok.”
Mario mengangguk sambil tersenyum dengan senyum khasnya.
Mereka pun kembali fokus pada acara televisi yang mereka tonton. Ketika Marsya hendak mengganti saluran televisi, tiba-tiba Mario meminta agar tidak mengganti saluran televisinya.
“Tunggu..tunggu..jangan diganti, Dek!”
“Apaan sih?”
Marsya heran dengan sikap kakaknya yang mendadak tertarik melihat acara infotainment di televisi.
“Sejak kapan kakak suka nonton infotainment?”
“Sejak topik beritanya tentang Jenahara.” Ungkap Mario meringis.
“Apa bagusnya dia? Mukanya biasa aja ah..udah tua gitu.” Komen Marsya sinis.
“Ehm…3B. Brain, Beauty, and Behaviour.” Jelas Mario kagum.
“Aku juga bisa kayak gitu.” Sombong Marsya.
“Oya?” Ledek Mario kepada adiknya.
“Iya. Kita liat nanti, aku juga bisa terkenal kayak dia.”
Mario hanya mengangguk-angguk menanggapi ocehan adiknya sambil terus melihat berita tentang Jenahara, artis yang menjadi idola Mario sejak dinobatkan menjadi putri Indonesia di awal tahun 2000an. Artis 32 tahun yang sekarang menjadi politisi ini, kerap menjadi bahan pemberitaan yang ramai di media. Mulai dari berita perceraiannya beberapa tahun silam dengan mantan suaminya, hingga rumor terbaru tentang kedekatanya dengan sesama politisi yang belum diketahui identitasnya. Meski pun umurnya jauh lebih dewasa, dan statusnya yang seorang janda, tak membuat Mario berhenti memuja politikus wanita ini. Bagi Mario Jenahara adalah sosok wanita idamannya yang cantik, modern dan cerdas.
***
Banyak orang menilai bahwa kebahagiaan dimiliki kaum-kaum borjuis. Kebahagiaan dilihat dari seberapa banyak uang di rekening, seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, dan seberapa besar orang menghargai. Tapi apakah nilai suatu kebahagiaan hanya diukur dari hal-hal seperti itu. Pernahkan kita melihat cerita di balik kebahagiaan semua itu? Suatu kegelapan yang jauh dari yang namanya bahagia. Suatu kesepian yang jauh dari yang namanya damai. Dan suatu keterpaksaan yang jauh dari kata yang namanya puas. Inilah yang disebut adil. Tatkala kaum menengah ke bawah dengan keterbatasannya bisa tertawa lepas dengan hangatnya. Sedangkan kaum borjuis dengan hartanya tersudut dalam kesepian yang menghantuinya, dengan kekuasaan yang menggantung dalam kesombongan yang menggerogotinya, dan dengan materi yang tenggelam dalam ketidakpuasan yang membutakan hati nuraninya. Itulah kehidupan manusia yang sangat dekat dengan kehidupan Anggellina. Seorang putri tunggal dari seorang ayah yang bekerja sebagai politisi dan pengusaha sukses. Kehidupannya berubah sepi, ketika ayahnya sangat sibuk dengan profesinya dan tentu calon ibu tirinya. Waktu yang biasa dia lakukan untuk bermanja-manja pada ayahnya ketika malam tiba tak akan bisa dia rasakan lagi. Akhir pekan yang biasa mereka habiskan dengan memancing di kolam tak pernah ada cerita lagi.  Dan perayaan ulang tahun Anggie di malam pergantian tanggal rasanya sudah mulai terlupakan.
----------  
Tepat hari ini, tanggal 19 september aku berulang tahun ke 22. Tak ada yang aku inginkan dihari ulang tahunku ini kecuali kesempatan untuk bersama anda. Dari 364 hari dalam setahun, aku hanya meminta beberapa menit saja anda mau meluangkan waktu penting anda untuk menemaniku di hari terpentingku ini. Berkali ku lihat jam di tangan, tapi tetap tak ku lihat ada tanda-tanda kehadiran anda. Puluhan panggilan dan belasan pesan pendek sudah ku kirim tapi tak satu pun mendapat respon dari anda. Aku sengaja menunggu di tempat yang lokasinya dekat kantor anda, agar anda lebih mudah untuk datang. Ku habiskan waktu 3 jam ku dengan penuh harap dan asa bahwa anda akan datang. Sudahkah anda terima pesanku atau anda benar-benar lupa hari ulang tahunku? Atau memang anda sedang bersamanya? Wanita yang sedang anda cintai saat ini? “Aku cuma minta hari ini saja, pah…”
Ku pandangi kue tart yang mulai rusak karena lelehan lilin. Lalu tanpa sadar seseorang menghampiriku dan bertanya dengan nada kurang bersahabat.
“Sampai kapan kamu di sini?”
Dengan suasana hatiku yang sedang kacau, aku tidak begitu tertarik dengan kehadiran pria berstelan kemeja putih dan rompi hitamnya.
“Aku lagi nunggu orang.” Jawabku seadanya.
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.”
Pria yang berprofesi sebagai pelayan ini sepertinya mendesakku untuk segera meninggalkan restoran. Tapi, aku akan mencoba memohon kepada pelayan ini untuk memberiku waktu sedikit lagi.
“Sebentar lagiiii. Please..!”
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Dengan nada datar pelayan ini mencoba mengusir secara halus. Tapi, dengan sedikit harapan yang masih tersisa, aku tetap bersikeras untuk bertahan.
“Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…” Rengekku.
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia udah datang dari tadi.”
Dan benar apa yang dikatakan pelayan tersebut, kalau memang ayahku datang, dia pasti sudah datang sejak tadi.
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis.”
Aku menghela nafas panjang dan mengakhiri penantianku yang sia-sia ini. Tapi akan sangat tragis jika aku merayakan ulang tahunku sendiri tanpa ditemani seorang pun. Akhirnya aku putuskan untuk meminta pelayan ini menemaniku meniup lilin. Entah apa yang ada di pikiranku, tapi sekarang aku merasa hanya dia yang aku punya. Seorang pelayan restoran yang bahkan aku tidak tahu namanya.
“Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.” Pintaku.
Entah dia terkejut apa tidak mendengar permintaanku, tapi ekspresinya sangat datar.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
Itulah kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya.”
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya dia pun setuju untuk menemaniku marayakan ulang tahunku. Sebelumnya aku tak pernah berpikir akan merayakan ulang tahunku bersama seorang pelayan restoran yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi aku cukup bahagia, setidaknya masih ada orang yang peduli padaku.
 “Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.” Ucapku usai aku meniup lilin.
Dia mengangguk dan hanya tersenyum.
“Namaku Anggie.”
Aku pun mulai memperkenalkan diri, tapi entah kenapa pelayan itu hanya tersenyum lalu pergi. Sebelumnya dia sangat cerewet berusaha mengusirku pergi, tapi sekarang dia tak bicara sedikit pun bahkan untuk memperkenalkan diri, dan hanya tersenyum. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia menganggap aku gadis gila yang menyedihkan. Entahlah, tapi aku akui senyumnya sangat manis, dengan lesum pipit dan giginya yang rapi. Bagaimana mungkin dia hanya seorang pelayan restoran. Bahkan dia lebih tampan dari seorang model majalah atau anggota boyband. Aku tertawa sendiri dalam hati membayangkan wajah pelayan itu sepulang dari restoran. Hingga saat aku mulai terbaring di tempat tidurku, senyum pelayan itu terus melintas di otakku. Apa yang sedang aku pikirkan, apa aku mulai gila karena tidak diperhatikan oleh ayahku, atau aku sedang terkena virus cinta pada pandangan pertama. Oh Tuhan bagaimana ini bisa terjadi pada seorang Anggie.
----------
Malam itu seorang gadis berambut panjang sebahu dengan gaun berwarna putihnya sedang duduk gelisah menatap kue tart dengan lilin dihadapannya. Dia adalah tamu VIP di restoran tempat Mario bekerja. Wajahnya terlihat tidak asing bagi Mario. Beberapa kali Mario melihatnya di kampus. Dia adalah gadis yang sangat popular di kalangan mahasiswa di kampus tempatnya kuliah. Bukan karena wajahnya yang cantik, bukan juga karena dia adalah salah satu aktivis mahasiswa yang sangat lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa terhadap birokrasi kampus, tapi karena dia adalah putri dari seorang tokoh terkenal di negeri ini. Ayahnya seorang  politikus terkenal. pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dan ketua umum sebuah partai besar yang sekarang sedang mendominasi kursi di pemerintahan. Dan sekarang Mario heran, apa yang dilakukan gadis popular itu dengan kue tart dihadapannya. Wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang menyimpan begitu banyak kepedihan dan kekecewaan. Sudah berulang kali pelayan mengampirinya, tapi dia tidak memesan apa-apa. Dia hanya duduk terdiam dan berulang kali melihat jam ditangannya, terlihat dia sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sudah hampir tiga jam dia seperti itu, berapa lama lagi dia akan menunggu.
“Sampai kapan kamu di sini?”
Gadis yang sedari tadi hanya tertegun melihat kue tart itu tak menyadai kedatangan Mario. Dia pun melihat ke arah Mario, orang asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Aku lagi nunggu orang.”  Jawab gadis yang bersuara lembut ini.
 Tepat seperti dugaan Mario sebelumnya dia sedang menunggu seseorang. Dari kue tart yang ada di meja, Mario berpikir gadis ini sedang berulang tahun, dan dia sedang menunggu kekasihnya. Mario tidak habis pikir bagaimana bisa gadis ini menunggu kekasihnya hingga seperti ini.
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.”
“Sebentar lagiiii. Please..!”
Mario merasa kasian melihat kebodohan gadis ini.
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Mario mencoba untuk membuat gadis ini berhenti menunggu, karena itu hanya akan sia-sia.
 “Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…”
Tapi sepertinya gadis ini cukup keras kepala, dia terus merengek agar Mario memberikan  dia waktu lagi.
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia dah datang dari tadi.”
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis” Imbuh Mario.
Dan akhirnya Mario berhasil meyakinkannya untuk berhenti menunggu. Dia menghela nafas panjang, lalu tersenyum melihat Mario.
 “Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.”
Mario agak terkejut mendengar permintaan gadis itu. Bagaimana bisa dia meminta Mario untuk menemaninya meniup lilin ulang tahunnya.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya. Pless!”
Melihat ekspresinya yang tulus, Mario tidak sampai hati untuk menolaknya. Dia pasti sangat kesepian dan kecewa hingga meminta seorang pelayan yang tidak dia kenal seperti Mario untuk menemaninya di hari ulang tahunnya.
“ Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.”
Mario hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian dia mengulurkan tangannya sembari mengenalkan namanya.
“Namaku Anggie.”
Mario tersenyum datar melihat dia mengenalkan diri. Dia tidak tahu, jika Mario sudah tahu siapa dia sebelumnya. Mario meninggalkan dia dengan sebuah senyuman, dan perasaan penasarannya tentang sosok pelayan restoran ini. “Cukup sampai di sini untuk hari ini, Anggie. Masih banyak waktu untuk kita berkenalan.”
----------  
Setelah malam itu keduanya pun berpisah. Dengan kesan pertama mereka masing-masing. Dan setelah malam itu, yang pasti akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Tapi, apakah takdir atau nasib yang mempertemukan mereka kembali?
***
Di pagi yang cerah, dari sela-sela tirai jendela kamar Anggie, sinar mentari mulai masuk menerpa wajah Anggie, dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing karena semalam dia tidur sangat larut. Tapi tiba-tiba Anggie teringat kejadian malam sebelumnya, ketika dia merayakan ulang tahunnya bersama pelayan restoran yang tidak dia kenal.  Wajahnya yang tampan dan hangat membuat Anggie tak berhenti mengingatnya. Hal itu membuat dia terus tersenyum, seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari perutnya. Sehingga dia lupa dengan kekecewaannya terhadap ayahnya.
----------
Sejak semalam entah kenapa wajah pelayan restoran itu terus melekat dalam pikiranku. Bahkan di saat aku bangun tidur sekarang ini, dia terus tersenyum padaku. Bukankah senyumnya itu adalah senyum seorang antagonis, yang hanya menyunggingkan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang yang mempunyai senyum seperti itu, di dunia nyata. Biasanya aku hanya meihat senyum itu di sinetron-sinetron atau film drama. Senyum datar yang yang tak bisa ditebak artinya. Dingin dan tidak bersahabat. Tapi kenapa karena senyumnya itulah aku tak bisa melupakannya. Untuk beberapa saat aku masih disibukkan dengan bayangan pelayan itu, sampai aku melihat sebuah kotak berwarna merah yang di atasnya terdapat sebuah surat. Segera aku buka surat itu, dan ternyata ayahku lah yang menulis surat itu.
Dear my Anggel
Happy birthday my Angel. Maaf papa tidak bisa datang semalam. Papa ingin sekali datang, tapi ada urusan yang harus papa selesaikan. Cium sayang papa untuk putri papa tersayang. God bless you, my Angel.
Papa
Aku merasa sangat bahagia, membaca surat dari ayahku. Mataku pun mulai berkaca-kaca menahan haru. Apalagi setelah aku tahu isi kotak itu adalah sebuah kalung berbentuk bintang, air mataku pun tak kuasa lagi ku bendung. Aku merasa bahagia karena ternyata ayahku masih peduli dan perhatian kepadaku. Masih belum selesai ku nikmati keharuanku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku, lalu seorang wanita setengah baya pun muncul dari balik pintu. Dia adalah bibi, wanita yang mengurusi semua pekerjaan dan keperluan di rumahku. Sejak ibuku meninggal bibi juga lah yang mengurus semua kebutuhan dan keperluanku.
 “Nona, anda sudah bangun?”
“Bibi?” Sapaku dengan senyum.
Kemudian bibi pun masuk.
“Nona, ditunggu Tuan sarapan dibawah.” Tutur bibi sembari membuka tirai-tirai jendela kamarku. Aku terkejut mendengar ucapan yang di sampaikan bibi, karena tak biasanya ayahnya belum berangkat ke kantor, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8.
“Papa belum berangkat ke kantor?”
“Belum. Tuan sedang sarapan sekarang.”
Aku pun segera bergegas menuju ruang makan, untuk menemui ayahku. Dan benar, ku lihat ayah sedang duduk di meja makan sedang membaca koran. Dan ternyata ayah menyadari kehadiranku.
“Kamu sudah bangun?” Sapa ayah.
“Duduklah, temani papa sarapan.” Tambah ayahku memerintah.
Tanpa berkata apa-apa aku memeluknya dari belakang. Rindu, ituah yang aku rasakan sekarang. Meski pun kami tinggal dalam satu rumah yang sama, kami jarang bertemu. Apa lagi untuk sekedar berbincang dan makan bersama. Ayahku selalu berngkat ke kantor sebelum aku bangun tidur dan pulang saat aku sudah tidur. Dan saat akhir pekan, aku hanya bisa melihat dia duduk di ruang kerjanya, dengan setumpuk pekerjaannya. Hampir tak ada waktu kami untuk saling melepas rindu seperti saat ayah belum terjun ke dunia politik seperti 10 tahun terakhir ini. Dan terakhir kami bertemu adalah satu minggu yang lalu, saat ayah menyampaikan rencananya untuk menikahi wanita yang sedang dekat dengannya dua tahun terakhir ini, yang bernama Jenahara.
“Makasih, Pa.” Bisikku saat memeluknya erat.
”Anggie sayang banget sama papa.” Imbuhku.
“Papa juga.” Jawab ayahku.
Lalu aku pun duduk menemani ayahku sarapan.
“Oya, apa kamu mau membuat pesta untuk merayakan ulang tahunmu, Sayang?” Tanya ayahku sembari mengiris sandwich yang ada dipiringnya.
Mendengar tawaran ayahku, Aku pun berpikir sejenak.
 “Kalau Anggie butuh sesuatu untuk bikin pesta hubungi sekertaris papa ya.” Kata ayahku, sembari mengelap mulutnya dengan kain serbet. Aku hanya mengangguk menjawabnya.
“Papa berangkat dulu. Hati-hati di rumah.” Pamit ayahku, sembari mencium keningku, lalu berangkat.
Aku diam terpaku melihat ayahku pergi. Baru saja aku ingin merayakan ulang tahunku bersamanya yang sempat tertunda ayah sudah meninggalkanku dan memulai rutinitasnya lagi. Kecewa pasti, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah. Meski pun aku sudah biasa di perlakukan seperti ini, tapi air mataku tak pernah habis ku teteskan. Kemudian bibi datang menghampiriku. Dan aku pun segera menghapus air mataku. Melihat makanan dan segelas susu di hadapanku masih utuh bibi pun cemas.
“Nona, mau bibi buatkan sarapan lain?” Aku hanya menggelengkan kepalaku, meski pun sejak semalam tak ada secuil makanan yang masuk ke perutku tapi tak ada sedikit pun rasa lapar. Hatiku hancur, jangankan untuk menelan makanan, untuk bicara saja mulut ini sangat sulit. Lalu bibi kembali menawarkan kopi, yang tak pernah absen setiap pagi aku pesan dari bibi.
“Atau nona mau  saya buatkan kopi?”
 “Enggak, makasih bi. Aku mau tidur aja. Tolong jangan ganggu aku.”
Aku pun kembali ke kamarku, meninggalkan bibi dengan perasaan cemasnya terhadapkku. Ku baringkan tubuhku di atas tempat tidurku, dan  mulai meratapi kekecewaanku. Air mataku pun  mulai jatuh setetes demi setetes, hingga akhirnya mengalir sangat deras tak berhenti sampai aku tertidur.
***
Pertemuan antara dua orang manusia, bisa disebut itu sebuah kebetulan. Tapi apakah kebetulan itu sebuah takdir atau nasib manusia? Sehari setelah hari ulang tahunnya, Anggie merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya di sebuah cafe. Tak banyak memang yang diundang, hanya beberapa teman dekat dan teman kampusnya, kira-kira sekitar 40 orang. Semua nampak akrab, dan membaur dalam perbincangan, tapi siapa sangka si pemilik pesta sedang berpura-pura. Senyum, tawa, dan keceriaan itu hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kegundahan dan kegalauan hatinya, karena hal yang ingin di lakukan saat ini adalah bisa bersama ayahnya. Tapi, rasanya akan sulit untuk bisa mewujudkannya. Makanan yang sedari tadi hanya dibiarkan dingin, dan minuman yang hanya dipegangnya membuat dia semakin bosan. Sampai pandangannya terfokus pada seseorang yang sedang memainkan piano beraliran klasik, disudut cafe. Seseorang pria berkemeja hitam, dan berwajah sangat menarik itu, terasa sangat familiar bagi Anggie. Anggie sangat ingat siapa dia, karena kejadiannya belum lama terjadi. Dia adalah pelayang restoran yang menemani Anggie merayakan ulang tahunnya. Seketika suasana hatinya yang semula sedih galau, berubah menjadi  cerah. Tak berpikir panjang Anggie pun segera menghampiri pria di sudut cafĂ© itu itu.
“Hallo apa kabar?” Sapa Anggie.
Pria itu pun menghentikan permainan pianonya.
“Apa kamu ingat aku?” Tanyaku memastikan.
Ekspresinya yang misterius itu pun muncul lagi. Tak ada jawaban darinya, dan itu membuat Anggie ragu apakah pria di depannya ini masih mengingatnya. Anggie pun mulai menceritakan peristiwa yang terjadi kamarin malam di restoran tempat dia kerja.
"Apa kamu ingat ada seorang gadis yang datang ke restoran, dan memintamu menemaninya merayakan ulang tahunnya? Aku gadis itu, Anggie. Kamu inget kan?”
 “Iya, aku inget.” Jawabnya singkat.
Anggie merasa lega, karena pria di depannya ini masih mengingatnya.
“Syukurlah. Aku takut kamu nggak inget sama aku.”
“Lalu?” Tanyanya dengan wajah heran.
“Apa?”
Dan Anggie pun tiba-tiba terjebak dalam situasi yang canggung.
“Memang kenapa kalau ingat? Apa kamu butuh bantuan lagi?”
Anggie menyadari bahwa ternyata pria ini terganggu dengan kehadirannya. Tak ingin membuatnya semakin merasa malu lagi, Anggie pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Tidak ada. Aku cuma mau menyapamu. Ya sudah, kamu lanjutin aja mainnya. Aku mau gabung sama teman-temenku lagi. Sampai jumpa.”
 Anggie kembali bergabung dengan teman-temannya, sedangkan pria itu melanjutkan permainan pianonya. Sekitar 7 lagu dia mainkan, kemudian dia pun turun dan digantikan permainan sebuah band beraliran Jazz. Anggie sedikit kecewa dengan perlakuan yang baru saja dia dapatkan dari seorang pria yang notabennya adalah seorang pelayan restoran. Beberapa waktu di antara orang-orang yang tak membuatnya nyaman, Anggie mulai bosan, dia pun pergi ke toilet untuk merapikan dandanannya yang mulai berantakan. Tapi tanpa dia duga, Anggie melihat pria pelayan itu berjalan ke arah pintu keluar. Rasa penasaran Anggie pun mendorongnya untuk mengikuti ke mana arah pria itu pergi. Anggie terus berjalan mengikuti pria itu dari belakang. Entah sudah berapa lama mereka berjalan. Tapi ketika sampai di tikungan tiba-tiba pria itu menghilang.  Anggie berputar menyebarkan pandangannya ke semua sudut untuk mencari keberadaan pria pelayan itu.
“Ke mana menghilangnya dia, apakah dia masuk ke salah satu gedung ini? tapi kayaknya nggak mungkin. Buat apa dia masuk ke gedung tua yang kayaknya udah nggak pernah di buka.” Pikir Anggie.
 Tiba-tiba sesosok suara muncul dari belakangnya, dan membuat Anggie terkejut setengah mati. Dan ternyata suara itu adalah milik pria pelayan restoran itu yang sedari tadi  telah menyadari bahwa Anggie telah mengikutinya sejak dari cafĂ©.
 “Kenapa kamu ngikutin aku?” Tanya pria itu dengan nada ketus, tapi tetap dengan espresi wajahnya yang polos.
“Eee…a~ku, Cuma pingin kenalan aja.” Jawab Anggie gugup.
“Kenalan?” Tanyanya heran.
“Emmhh, maksud aku, aku cuma pingin tahu namamu. Tempo hari kamu belum kasih tahu siapa namamu kan?” Jawab Anggie malu-malu.
Pria itu pun tersenyum melihat Anggie, entah apa yang di pikirkannya sekarang terhadap situasi malam itu. Lalu sejenak dia terdiam dan menatap lekat-lekat mata Anggie, yang membuat jantung Anggie berdegub sangat kencang.
“Namaku Mario.” Ucapnya singkat.
Anggie terkejut pelayan itu memperkenalkan diri.
“Apa kamu mau minum kopi?” Ajak pria yang mengaku bernama Mario itu.
Tapi Anggie masih saja belum sadar dan sibuk dengan kekagumannya. Hingga akhirnya pria yang bernama Mario ini menggenggam tangannya dan membawanya berjalan mengikutinya. Mereka pun akhirnya duduk di sebuah taman dan meminum kopi kaleng yang mereka beli di mini market yang lokasinya tak jauh dari taman. Untuk beberapa menit awal mereka hanya terdiam, tanpa suara. Pandangan Mario lurus menatap langit-langit yang kebetulan tak berawan. Sedangkan Anggie malah sibuk memperhatikan wajah Mario dengan sangat serius. Mario lama-lama menyadari jika sedari tadi Anggie terus  memperhatikannya.
“Apa aku ganteng banget sampai kamu ngeliatin aku seperti itu?” Ledek Mario.
Anggie pun segera memalingkan wajahnya dari tatapan Mario. Wajahnya memerah, karena malu tertangkap basah oleh Mario sedang memperhatikannya.
“Emh..” Jawab Anggie sambil menganggukkan kepalanya.
Dan tanpa sadar semua hal yang melintas di otaknya pun keluar dari mulutnya.
“Kamu ganteng banged.” Mario tertawa kecil mendengar pujian Anggie yang tedengar tulus itu.
” Apa kamu sekarang sedang gombalin aku?” Gurau Mario.
Anggie pun hanya diam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menyadari kekonyolan yang baru saja dia lakukan.
“Oke, aku anggap itu pujian kalo gitu.”
Dan akhirnya mereka pun saling bertatapan  dan tertawa.
“Apa kamu kerja di sini juga?” Tanya Anggie penasaran.
Mario menganggukkan kepalanya.
“Dari jam 12  sampai jam 8 malam aku kerja di restoran. Kalo hari selasa, kamis, sabtu habis dari restoran aku  main piano dicafe sampai selesai.” Jelas Mario.
“Tapi bukannya jam segini kemaren kamu di restoran?” Sela Anggie.
“Karena kemarin ada pelanggan yang menyewa restoran kami untung ngerayain ulang tahunnya.”
Dengan nada menyindir Mario sepertinya berhasil membuat Anggie sadar siapa yang dia maksud dalam kalimat Mario.
 “Apa kamu nggak nanya, siapa sebenarnya yang aku tungguin?” Tanya Anggie penasaran.
Tapi tidak dengan jawaban Mario yang nampak cuek.
“Aku bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain.”
“Aku cuma nggak mau, kamu mikir aku lagi nunggu pacar atau seorang cowok aja.” Mario malah tersenyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kenapa kamu nggak mau aku berpikiran seperti itu?” Tanya Mario.
“Karena aku takut kamu mikir aku udah punya pacar.” 
 “Memangnya apa yang membuatmu takut aku berpikir kamu punya pacar? Apa kamu menyukaiku?”
Akhirnya mereka pun  terlibat dalam perbincangan yang makin serius.
”Belum. Tapi sepertinya tidak lama lagi aku akan menyukaimu. Jadi sebelum aku tahu, apakah aku benar-benar menyukaimu atau tidak, aku ingin memastikan jika kamu nggak berpikir aku sudah punya pacar.”
“Apa yang kamu lakukan jika kamu ternyata benar-benar menyukaiku?”
Pada pertanyaan Mario inilah Anggie agak kesulitan menjawabnya. Tapi perasaannya mulai memaksanya untuk menyatakan apa yang sedang Anggie rasakan. Dan akhirnya Anggie  pun menyatakannya.
“Aku akan memintamu jadi pacarku.”
“Bagaimana kalo aku tidak mau?”
“Aku akan mengikutimu terus sampai kamu mau sama aku.”
“Lalu, bagaimana jika ternyata kamu nggak suka sama aku?”
Anggie kembali terdiam sejenak mendengar pertanyaan Mario, lalu kembali dengan jawabannya yang meyakinkan.
“Itu tidak akan mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena sepertinya detik ini aku sudah jatuh cinta padamu.”
Mario terkejut mendengar pernyataan Anggie. Entah dari mana kata-kata itu  Anggie peroleh. Karena Anggie bukan tipe wanita yang gampang mengutarakan perasaannya dan ini adalah pertama kalinya dia mencoba untuk membuat suatu hubungan dengan seorang laki-laki, setelah 3 tahun lalu. Ada kekuatan yang begitu besar  yang mendorongnya untuk mengatakan bahwa dia memang jatuh cinta pada pria yang ada di hadapannya ini.
“Apa kamu percaya sama takdir?” Tanya Anggie.
“Memangnya kenapa?” Tanya Mario balik.
 “Menurutmu apakah pertemuan kita sebelumnya itu suatu kebetulan atau memang sudah takdir?”
“Di dunia ini tak ada yang kebetulan. “
“Berarti itu takdir?”
Anggie memalingkan wajahnya menghadap Mario.
“Tidak juga. Aku hanya percaya sama nasib. Apa yang akan terjadi sama manusia itu tergantung usaha manusia. Jadi nasib pun akan berubah.”
“Lalu pertemuan kita kedua kalinya ini namanya apa? Nasib seseorang?”
“Dari pada membahas nasib atau takdir, kenapa kamu tidak membahas kenapa kamu menyukaiku?”
Dengan wajah yang berseri-seri, Anggie mulai merangkai kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Mario. Dengan harapan agar Mario bisa mengerti perasaan Anggie.
“Kamu itu seperti matahari, yang membuat bulan bersinar dengan indahnya. Saat purnama bulan nampak cantik, padahal sebenarnya dia hanya batu di angkasa yang tidak bisa bersinar jika tidak ada matahari.” Jelas Anggie sambil memandang langit lekat-lekat.
“Jika aku matahari, apa bulan itu kamu?” Tanya Mario sambil melihatnya dengan serius.
“Hemm…seperti itulah” Angguk Anggie.
“Jadi aku bakal tergantung sama kamu.” Imbuhnya sembari tersenyum.
Mario terus memandang Anggie dengan wajah kebingungan dan berbagai pertanyaan tentang tingkah gadis yang ada di hadapannnya ini..
“Apa kamu tahu siapa aku?”
“Kenapa kamu bisa suka sama aku, padahal kamu belum tahu siapa aku?” Imbuh Mario dengan wajah yang serius saat mengatakannya. Mario pun melanjutkan kalimatnya, dengan ekspresi wajahnya yang datar.
“Bagaimana jika aku orang jahat yang cuma mau bohongin kamu? Matahari itu panas dan bisa menghancurkan apa saja di dekatnya.”
Anggie sedikit heran dengan apa yang Mario bicarakan.
“Biarpun matahari panas, tapi asalkan matahari dan bulan tetap berorbit pada lintasannya, semua akan baik-baik saja. Meski pun  aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Bagiku, kamu adalah matahari dalam kehidupanku. Jadi ijinkan aku akan mencari tahu orang seperti apa kamu, bagaimana perkerjaanmu, dan siapa orang tuamu.”
Mario hanya terdiam mendengar ucapan Anggie, sembari menatap lekat-lekat mata Anggie yang penuh ketulusan. Apakah memang cinta tulus itu ada? Cinta yang membutakan semuanya.
-----------
Anggie benar-benar tulus menyukai Mario, entah suka yang seperti apa. Apakah suka karena cinta atau hanya suatu kebutuhan. Tapi, yang penting bagi Anggie Mario selalu ada di dekatnya, karena tak ada yang dia butuhkan saat ini selain Mario. Sepulang dari pertemuannya dengan Mario, Anggie pun terus tersenyum membayangkan wajah Mario. Dia terlihat sangat bahagia, dan dimabuk kepaya. Sementara Mario masih disibukkan dengan pertanyaan di kepalanya tentang sikap Anggie.
Sepanjang jalan dari pertemuannya dengan Mario, Anggie terus tersenyum. Sesekali dia  menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena malu kepada dirinya sendiri. Sikapnya yang aneh membuat sopirnya heran.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” Tanya sopir Anggie pak Min.
Anggie kaget, merasa sikapnya yang memalukan diketahui oleh pak Min, dia pun berpura-pura tenang.
“Enggak ada apa-apa pak. Pak Min konsen nyetir aja.”
Anggie pun menahan gejolak hatinya yang terus menggebu dan makin tak karuan. Dan di dalam kamar, Anggie melakukan kebiasaannya melihat bintang dari balkon kamarnya dan bicara seolah bintang di langit itu adalah ibunya yang sudah meninggal. Dia sering melakukannya ketika dia sedang banyak masalah atau sedang rindu pada ibunya.
“Mama, hari ini aku bertemu dengannya lagi, Mario. Dia adalah pria terbaik yang pernah aku temui, dia juga tampan. Dan tadi aku udah menyatakan cinta padanya, Ma. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?”  
***
Cinta adalah sebuah perubahan dalam kehidupan manusia, yang membuat hal yang biasa menjadi luar biasa, membuat hal yang tak terbiasa, menjadi lebih terbiasa. Cinta juga suatu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, dari yang negatif menjadi positif, dari yang positif bisa menjadi negative. Bahkan cinta bisa memutar balikkan logika, dan membuat mata, dan hati kita menjadi buta.
Anggie sedang minum kopi dikantin, bersama Mona sahabatnya.
“Nggie…”
“Hemm..” Jawab Anggie cuek, sembari terus menyeruput secangkir kopi hangat.
“Dari mana lo kenal sama Mario?”
Seketika Anggie terkejut bagaimana Mona mengenal Mario. Anggie mengerutkan dahinya.
“Pria yang lo samperin di cafe semalem?” Jelas Mona.
“Kamu kenal sama Mario juga?” Heran Anggie.
“Gimana gw nggak kenal, dia kan konsultan skripsi gw.” Jelas Mona meyakinkan.
“Jadi Mario yang lo certain tempo hari itu, orang yang sama dengan Mario yang aku temuin semalem?” Tanya Anggie meyakinkan.
Mona hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Anggie. Anggie terkejut mendengar pernyataan-pertanyaan Mona. Dia bingung, lelucon apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Bagaimana dia tak tahu kalau Mario satu kampus dengannya. Berbagai pertanyaan pun muncul. Apakah Mario tidak tahu siapa Anggie, atau memang dia sudah sejak awal tahu siapa Anggie. Apa Mario adalah salah satu dari jutaan pria yang ingin memanfaatkan Anggie. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, siapa yang harus dia percaya. Apakah ketakutan dalam pikirannya atau hatinya yang sedang jatuh cinta? Dia terus saja berpikir, sampai langkah kakinya membawa dia berjalan menuju Mario berada. Dari jauh dia meihat Mario sedang duduk bersama seorang temannya di taman. Dia belum siap menemui Mario, karena dia masih belum menemukan jawaban dari kegundahannya. Untuk beberapa saat dia hanya melihat Mario dari jauh, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghampirinya. Mario nampak sedang menjelaskan beberapa materi pada pria di hadapannya.
“ Banyak banget sih pekerjaanmu.” Sela Anggie.
Mario nampak terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, yang ternyata adalah Anggie. Seperti biasa Mario hanya tersenyum datar dengan tenang.
“Untuk sementara sampai di sini dulu. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Mario pada pria di depannya tersebut. Pria itu pun setuju, lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario pada Anggie.
“Cukup lama, hingga aku puas melihatmu.”
Mario hanya tersenyum mendengar gurauan Anggie.
“Kemarilah. Duduklah di sini!” Ajak Mario, mempersilahkan Anggie duduk di sampingnya.
Anggie pun duduk di samping Mario. Untuk beberapa saat mereka hanya terjebak dalam kecanggungan, sampai akhirnya Anggie memecah keheningan.
“Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” Mario hanya menggeleng.
“Apa kamu sudah tahu sejak awal kalo aku kuliah di kampus yang sama denganmu?” Tanya Mario penasaran.
Anggie menggelengkan kepalanya, lalu dengan wajahnya yang terus tersenyum dia nampak sangat tenang. Begitu juga dengan Mario yang tetap tenang, seperti tidak sedang tertangkap basah.
“Aku baru tahu beberapa saat yang lalu. Kamu tahu Mona? Salah satu mahasiswa bimbingan skripsimu.”
“Hemm…mahasiswa hubungan international semester akhir, judul TA nya Solusi Memburuknya Hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia .”
“Benar. Dia adalah temanku.” Jawab Anggie ringan.
“Apa kamu nggak mau tanya apa aku kenal kamu sejak awal?” Tanya Mario menawarkan.
“Jika aku tanya, apa yang akan kamu jawab?”
Mario tak langsung menjawabnya, untuk beberapa detik dia terlihat sedang berpikir.
“Anggie mahasiswa hubungan international, putri dari politisi terkenal, dan aktivis mahasiswa yang penuh semangat, yang selalu menyerukan suara mahasiswa tentang ketidakadilan, aku sama sekali tidak tertarik. Tapi seorang gadis yang kesepian, sendiri dalam kedinginan, yang bahkan tak sanggup menangis, dan menyembunyikan semua itu di balik senyumnya. Aku selalu merasa ingin disampingnya, menjaganya, dan menghangatkannya dalam kedinginan, juga mewarnai kehidupannya yang penuh dengan keabu-abuan.”
Mendengar penjelasan Mario, Anggie semakin yakin tentang perasaannya terhadap Mario yang sempat ragu.
“Lalu sekarang, apa yang kamu pikirkan tentangku?” Tanya Mario menambahkan.
“Apa penilaianku tentangmu penting untukmu?”
“Terserah kamu kalau kamu nggak mau jawab.”
“Penilaianku tentangmu saat kamu menemaniku meniup lilin di malam pergantian tahunku, dengan penilaianku tentangmu detik ini tetap sama. Kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Bahkan jika benar kamu hanya memanfaatkanku sekalipun aku nggak akan keberatan. Aku sayang sama kamu, sebagai Mario si pelayan, pengiring musik cafĂ©, ataupun mahasiswa hukum.”
Mario tersenyum mendengar pengakuan Anggie, dia pun segera menarik Anggie ke dalam pelukkannya dengan lembut. Dan Anggie pun leleh dalam pelukkan Mario yang penuh kehangatan. tak pernah dia merasa senyaman ini dalam pelukan seorang pria. Setelah melepaskan pelukan hangatnya terhadap Anggie, Mario pun menggenggam erat jemari tangan Anggie sambil sesekali mengecupnya.
“Baru saja aku dapat bonus, karena salah satu mahasiswaku lulus pendadaran. Bagaimana kalau sekarang aku traktir kamu makan?” Ajak Mario.
“Apa baru saja kamu ngajak aku kencan?” Goda Anggie.
“Bisa dibilang begitu. Apa kamu bersedia kencan denganku?”
Anggie tersenyum geli melihat tingkah kekasih yang baru dimilikinya  kurang dari 24 jam itu. Mario pun membonceng Anggie dengan motor gedenya yang berwarna merah dan membawanya menuju restoran mewah di daerah kebayoran lama. Mario membantu Anggie membukakan helm di kepalanya.
“Rambutmu jadi berantakan.” Kata Mario sambil merapikan rambut Anggie yang teruari panjang.
“Nggak papa.” Jawab Anggie sembari tersenyum.
“Rokmu juga jadi kusut. Ini pasti pertama kalinya kamu naik motor ya?”
Anggie menggelengkan kepalanya.
“Dulu waktu kecil papaku juga sering boncengin aku naik motor kok.”
“ Benarkah? Ya sudah ayo kita masuk.”
Mereka pun masuk ke dalam restoran dan duduk selayaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Memesan dua porsi main course, desert, juga champagne.
“Lain kali kamu nggak perlu traktir aku di tempat semahal ini.” Mario terseyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kamu tenang aja, uangku nggak akan habis buat traktir kamu malam ini. Bonusku lumayan banyak.” Canda Mario.
“Hemm….baiklah. Lain kali aku akan minta traktir lagi.” Goda Anggie.
Mereka pun tertawa. Terlihat wajah keduanya sangat bahagia. Aura cinta tergambar jelas dari wajah Anggie. Tapi tiba-tiba suara handphone Mario berbunyi, dan dia pun segera mengangkatnya.
“Hallo,..mama?....apa Nino sakit? Ya udah mama tenang, aku segera ke sana.”
Terlihat raut penuh kecemasan di wajah Mario saat menjawab telephone tersebut.
“Ada apa?” Tanya Anggie penasaran.
“Nggie, aku minta ma’af, aku harus segera pergi. Adikku masuk rumah sakit. Kamu nggak papa kan pulang sendiri?”
“Nggak papa, kamu pergi aja, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Hemm..makasih ya. Secepatnya aku akan kabari kamu.”
Belum sempat Anggie mengucapkan salam perpisahan Mario sudah berlari meninggalkannya.
“Hati-hati.” Ucap Anggie lirih mengiringi kepergian Mario yang tergesa-gesa.
Anggie menghela nafas panjang, dia ikut cemas dengan keadaan adiknya juga Mario yang tergesa-gesa pergi. Anggie pun pulang dengan taxi, dan sepanjang perjalanan dia hanya diam melamun. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk kamar dan tertegun melihat handphonenya yang tak kunjung berdering. Anggie menunggu kabar dari Mario. Setelah hampir satu jam dia menunggu akhirnya handphonenya berbunyi. Akhirnya Mario menelphonenya.
“Hallo..” Jawab Anggie.
“Hallo, kamu belum tidur ?” Tanya Mario dari seberang telephone.
“Hemm,..aku agak susah tidur.” Jawab Anggie.
“Insomnia lagi?”
“Hemm…Oya, bagaimana adikmu?” Tanya Anggie hati-hati.
“Iyah dia sudah baikan. Dokter memberinya obat tidur, sekarang dia sedang tidur.”
“Syukurlah kalo begitu. Kalau boleh tahu dia sakit apa?”
“Asmanya kambuh.”
“Ohhwww…semoga keadaanya semakin membaik.”
“Iya, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Ya udah kamu istirahat aja. Udah malem, besok kamu ada bimbingan kan?”
“Emmhh, iya. Kamu juga jangan lupa istirahat yah.”
“Iya, selamat malam.”
“Selamat malam. I love you.”
“I love you too.”
Dan sambungan telephone pun di matikan oleh Mario. Anggie senang bisa mendengar ungkapan cinta Mario, meskipun hanya lewat telephone.
***
Manusia adalah sebuah robot yang dikendalikan oleh perasaan dan pikirannya. Tapi kadang manusia lebih dikendalikan oleh perasaan ketimbang pikirannya, sehingga apa yang kita lakukan tidak memakai logika dan masuk akal. Tak jarang manusia menutup logika mereka tentang suatu kenyataan, hanya karena kenyataan itu menyakitkan. Tak banyak manusia yang menggunakan akal pikirannya untuk memuaskan perasaan yang dikehendakinya. Dan dengan segala akal pikirannya dia berusaha untuk tetap bertahan dalam kehidupannya yang ingin dia tinggalkan.
“Mario…” Panggil seorang wanita setengah baya yang berjalan mendekati Mario yang sedang duduk tertunduk lesu di ruang tunggu rumah sakit.
“Mama…” Begitulah Mario memanggil wanita yang masih terlihat cantik itu.
“Ternyata kamu di sini?”
“Apa terjadi sesuatu?”  Cemas Mario.
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Mama hanya kuatir sama kamu.”
“Kuatir ? Kenapa mama kuatir sama Mario?”
“Mama takut kamu kenapa-kenapa. Sejak adikmu masuk rumah sakit sampai hari ini, kamu belum istirahat.”
“Seharusnya mama kuatir pada keadaan Nino, dan mama sendiri. Sebaiknya mama pulang saja. biar aku yang menjaga Nino di sini. Mario baik-baik saja kok. Mama tenang saja.”
“Kamu pasti capek, harus menggantikan papamu menjaga kami, harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menfkahi mama dan adik-adikmu. Belum di tambah dengan situasi seperti ini, Nino yang sakit-sakitan pasti menambahi beban dipikiranmu. Mama nggak tega melihatmu seperti ini.”
Ibu Mario pun meneteskan air matanya dan Mario pun memeluk ibunya.
“Mama jangan seperti ini, bagi Mario kebahagian Mario adalah bisa terus membuat Mama, Marsya, dan Nino bahagia. Mario akan melakukan apa saja, agar kalian semua bisa terus tersenyum seperti saat papa masih ada. Jadi Mario mohon, Mama jangan pernah beranggapan Mario akan capek melakukan semua ini.”
“Mama bahagia sekali, karena mama punya anak sepertimu sayang.”
Dalam keheningan rumah sakit, Nampak pemandangan hangat antara seorang ibu dan putranya. saling menyayangi, dan saling membutuhkan. Hal semacam itulah yang tak terlihat di rumah Anggie. Kesepian, kegundahan, dan kegelisahan yang hampir setiap malam dia rasakan dari balik tembok istana megahnya. Sesuatu yang terus menggerogoti hatinya, dan menyiksanya sepanjang waktu. Dan hanya karena ketakutannya yang belum tentu terbukti kebenaranya itulah, dia menghancurkan hidupnya sendiri.
------------
Ini adalah hari ketiga sejak makan malam itu, dan sejak malam itulah tak ada kabar berita dari Mario. Sehari aku masih bisa tenang, dua hari aku mulai bertanya-tanya, hari ketiga aku sudah mulai gelisah dengan berbagai pertanyaan yang ku munculkan sendiri.  Berulang kali ku lihat ponsel, tak satu pun pesan atau telfon itu darinya.
“Apa yang sedang dia lakukan, kenapa dia tak juga memberi kabar? Dengan siapa dia? di mana? Atau dia sedang berusaha menjauh dariku? meninggalkanku?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus timbul dalam pikiranku. Pertanyaan yang timbul karena ketakutanku tentang masa lalu, yang akan terulang lagi. Masa lalu yang sangat menyakitkan, dan tak bisa aku lupakan. Ketakutan yang membuat malam-malamku menjadi sangat berat dan membuatku menjadi ketergantungan akan obat penenang. Menurut dokter aku mengalami bipolar disorder sejenis depresi yang menyebabkan gangguan psikologis.  Semua ini berawal saat kehidupanku dihancurkan oleh seorang pria yang sangat aku cintai tiga tahun yang lalu. Dialah pacar pertamaku, sahabatku, juga kakak lelakiku yang selalu menjagaku, menemaniku dan memperhatikanku. Aku mengenalnya sejak kami masih duduk di bangku SMP. Di masa-masa tersulitku, saat ayahku tak lagi peduli padaku, atau di saat perutku sakit karena datang bulan, dia selalu ada. Karena itulah aku sangat tergantung padanya, dia berjanji akan selalu menjagaku, dan tak akan membiarkanku sedih apalagi menangis. Tapi, kenyataannya tak bisa berjalan seperti itu. Dengan sadisnya dia meninggalkanku di saat aku sedang mencoba merangkai mimpi bersama dengannya. Dia memilih mengejar mimpinya sendiri tanpa aku, dengan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Menurut dia aku hanya akan menjadi pengganggu dalam tujuannya meraih mimpi, jika aku terus berada disampingnya. Seburuk itukah aku dimatanya? Selepas dia pergi, hidupku benar-benar hancur. Aku seperti kehilangan sandaran, dan sangat kesepian. Tak ada lagi harapanku untuk melanjutkan hidupku. Setahun lebih aku menjalani perawatan dan pemulihan mental oleh seorang ahli kejiwaan dan otomatis semua aktifitasku pun berantakan, karena aku hanya mengurung diri di kamar. Hingga setahun terakhir ini, kondisiku mulai membaik dan stabil. Hanya saat stress karena skripsi, aku agak sedikit susah tidur di malam hari, selebihnya tak ada gejala lain yang muncul. Tapi entah kenapa, perasaan ini muncul lagi, trauma di masa lalu yang membuat aku ketakutan hingga hampir mati. Takut jika Mario juga melakukan hal yang sama padaku, meninggalkanku dan menyikiti hatiku lagi. Darahku mulai memanas, tubuhku menggigil gemetaran, jantungku berdetak sangat kencang, dan kepalaku seperti tertimpa batu besar. “Obat, aku butuh obat….” Segera aku beranjak mencari di mana obat penenang itu. Sudah lama aku tidak meminumnya, aku lupa di mana terakhir kali aku meletakkannya. Tapi aku tidak berhasil menemukannya, badanku pun mulai melemah. pikiranku mulai kacau. Aku pun roboh di sudut kamarku sambil terus meronta dan memukul-mukul kepalaku. Tapi tiba-tiba ku dengar ada suara bunyi telephone dari handphoneku. Aku pun segera berlari mengambil handphoneku yang aku letakkan di atas kasur. Seketika mataku terbelalak saat aku baca ternyata panggilan dari Mario.
“Hallo…?” Terdengar suara Mario yang ku tunggu-tunggu dari sebrang telephone. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Perasaan gelisah, gejala lainnya pun hilang seketika seusai mendengar suara sapa Mario.
“Anggie..?” Seru Mario yang tak mendapat jawaban dariku.
“Iyah…” Jawabku lirih
“Aku pikir kamu sudah tidur.”
“Emhh, aku belum tidur.”
“Benarkah?”
“Emhh..”
“Apa kamu mau bertemu denganku?”
“Hah?” Aku bingung kenapa Mario bertanya seperti itu.
“Coba kamu liat ke luar jendela.”
Mario memintaku melihat ke luar, tapi aku masih tidak mengerti apa sebenarnya maksud Mario. Sampai aku lihat dari balik jendela kamarku, seseorang sedang berdiri di depan pagar rumahku sambil melambaikan tangannya. Ternyata Mario sedang berada di depan rumahku. Aku pun segera berlari ke luar, dengan segala kekuatanku. Perasaanku yang hampir dibuat gila karena tak ada kabar darinya, akhirnya menemukan penawarnya. Orang yang aku tunggu-tunggu itu sekarang berdiri di hadapanku. Dengan nafas yang terengah-engah tanpa berkata-kata aku langsung memeluknya. Memeluk sangat erat dengan membawa sisa-sisa perasaan takutku. Untuk lima menit pertama kami terus berpelukan tanpa suara.
“Jangan seperti ini lagi.”
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan.
“Ada apa denganmu…?” Tanya Mario heran.
“Jangan hilang lagi, tak ada kabar…aku takut..aku benar-benar takut.”
Sambil terus menangis. Mario hanya diam, lalu memelukku semakin erat. Situasi itu bertahan hingga hampir tujuh menit. Lalu Mario melepaskan pelukannya, dan memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya sambil menatap mataku lekat-lekat.
“Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
Mendengar kalimat Mario air mataku pun terkumpul lalu jatuh. Mario pun mengecup keningku, lalu mengusap air mataku.
“Aku minta maaf karena membuatmu cemas. Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi. Jangan menangis lagi. yahhh…?!”
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum bertanda aku paham.
“Oya, aku bawakan kamu sesuatu.” Kata Mario sambil mengambil sesuatu dari dalam jaketnya.
“Karena kamu pernah bilang kamu sering insomnia, jadi aku bawakan itu untukmu.”
Ternyata dia memberikan aku sebuah kaset dvd, tapi aku masih bingung apa sebenarnya yang dia maksud.
“Four season, Antonio Vivaldi?” begitulah judul yang tertulis di sampul dvd tersebut.
“lagu instrumental klasik. Sangat manjur untuk pengantar tidur. Aku biasa melakukannya jika susah tidur, selain itu musik-musik itu sangat bagus untuk membuat suasana hati kita menjadi lebih rilaks.”
Aku semakin terharu, dengan sikapnya yang sangat baik padaku. jika memang aku mati, aku ingin mati dalam keadaan yang bahagia seperti ini. Mario apa kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau adalah pria terbaik yang pernah aku temui di dunia ini.
***  
Masa lalu adalah penyakit yang menakutkan bagi beberapa kelompok manusia. Buruknya suatu kenangan, membuat manusia hidup dipenuhi dengan ketakutan, kegelisahan, dan ketidakpercayaan. Tapi setitik cahaya memberi warna kembali dalam kehidupan seorang Anggie. Senyum ramah itu lebih hidup dan bahagia, seiring datangnya Mario dalam kehidupannya. Belum genap satu minggu memang, tapi Anggie sangat bahagia. Bahkan belum pernah dia merasa sesemangat ini menjalani hidup. Tak pernah lagi ada senyum palsu di bibirnya, tak pernah lagi ada gurat kegelisahan di keningnya. Setiap hari dia hanya menunggu saat-saat di mana dia akan bertemu dengan sang pujaan hatinya, Mario.
Seperti hari-hari biasanya, Anggie pergi ke kampus untuk melakukan konsultasi dengan dosen skripsinya. Meskipun Anggie sudah menjalin hubungan dengan seorang konsultan skripsi illegal, tapi dia masih belum menggunakan keahlian Mario untuk mengerjakan tugas akhirnya tersebut. Dia masih berkutat dengan berbagai permasalahan yang timbul dengan dosen pembimbingnya.
“Manyun betul mukanya mbak…?” Ledek Mona teman Anggie yang sedang duduk disampingnya.
“Hemmm…revisi lagi.” Keluh Anggie.
“Oya..?” Tanya Mona sinis.
Anggie menyadari bahwa sahabat yang ada di depannya ini sedang menatapnya sinis.
“Iya..kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Heran Anggie.                  
“Ada hubungan apa lo sama Mario?” Tanya Mona blak-blakan.
Anggie tersenyum mendengar sahabatnya sedang penasaran.
“Ada deh..”
“Ihh…kok ada deh. Jawab tau..Lo nggak pacaran sama Mario kan?” Tebak Mona penasaran.
“Emang kenapa kalo aku pacaran sama dia? Nggak boleh?”  Goda Anggie.
“Jadi beneran lo pacaran sama Mario?” Kaget Mona.
Anggie hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ahhhh….beneran? Ihhhh….beruntung banged lo.” Seru Mona histeris.
“Emang kenapa? “
“Kenapa lagi. Cowok yang elo pacarin sekarang itu adalah cowok paling popular di kampus. Cewek yang suka sama dia itu buanyaaakkkk banged. “
“Termasuk kamu?” Ganggu Anggie, Mona hanya menganggukkan kepalanya.
“Tapi gw ihklas. Demi sahabat gw yang jomlo ini, jadi gw bakal relain pangeran impian gw.”
“ Makasih ya…”
“Tapi lo belum cerita, gimana lo bisa jadian sama dia?”
“Iya tar aja. Sekarang kamu mesti bantuin aku dulu.”
“Bantuin apa?”
“Cariin aku alamat Mario. Aku lagi ada urusan sama dia.”
“La lo kan ceweknya, kok nggak tahu.”
“Kita kan baru berapa hari jadian, mana aku tahu dia tingggal di mana.”
“Emhhh…bener juga. Gw juga  nggak tahu dia tinggal di mana.”
“Terus gimana dong?”
Bingung Anggie.
“Ehmm gw ada ide, gimana kalau kita tanya ke temen-temennya aja.”
“Temen?”
Mona menggangguk.
“Gw sih nggak kenal, tapi gw tahu dengan siapa biasanya dia kumpul.”
“Ya udah ayok kita ke sana.” Ajak Anggie memaksa Mona.
“Aduh tapi gw nggak bisa sekarang. Gw ada jadwal konsul.” Keluh Mona.
Anggie pun kecewa mendengar sahabatnya tak bisa mengantarnya.
“Gini aja, kamu kasih tw aja nama mereka. Biar tar aku cari sendiri aja,”
“Lo serius mw cari mereka sendiri?” Tanya Mona.
“Iya..”
Akhirnya tanpa pikir panjang Mona pun memberitahu Anggie.
“Gw sih g terlalu tahu nama mereka. Tapi salah satu dari mereka namanya, Miko. Mukanya ancur, rambutnya kribo. Gayanya enggak bangetlah pokoknya.” Jelas Mona dengan mimik muka jijik. Anggie tersenyum melihat ekspresi Mona saat mendeskripsikan sosok pria bernama Miko itu.
“Kayaknya kamu kenal banged sama cowok yang namanya Miko ini.” Ledek Anggie.
“Apa? Kenal. Euuuhhfffttt..  ogah banged.” Elak Mona.
Setelah merasa jelas dengan info yang diberikan Mona, Anggie pun segera menuju ke gedung fakultas Hukum, mencari teman-teman Mario. Beberapa kali dia bertanya kepada orang di sekitarnya, akhirnya dia menemukan seseorang yang menurut sumber bernama Miko. Tepat saat itu orang yang bernama Miko itu tengah duduk-duduk di taman bersama beberapa temannya. Yang tak lain adalah Han, dan Jimmy teman-teman Mario. Mereka memang tak seburuntung Mario yang telah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya.
“Permisi…” Sapa Anggie, di sela-sela perbincangan asyik mereka.
Jimmy, Han, dan Miko yang tak sadar ada seorang gadis datang menghampiri mereka pun segera menghentikan obrolan mereka. Dan mereka pun terkejut ketika mengetahui gadis yang menyapa mereka adalah Anggie, gadis popular di kampus. Anggie yang bingung tak ada respon balik dari ketiga pria dihadapannya itu pun, mengulang kembali salamnya.
“Permisi….”
Dan ketiga pria itu pun segera sadar, ada seorang yang gadis yang menunggu jawaban mereka.
“Iya…ada yang bisa kami bantu?” Tanya Han dengan sigap.
“Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Anggie, jurusan Hubungan International.” Kata Anggie memperkenalkan diri.
“Gw Jimmy.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Oh, saya Han.” Kata Han ikut-ikutan.
 “Gw Miko. “
Mereka pun berebutan untuk berkenalan dengan Anggie.
“Emhh..iya. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Kata Anggie.
“Kita juga seneng banged, bisa kenalan sama cewek secantik Anggie.” Gombal Jimmy.
“Terima kasih.” Anggie tersipu melihat tingkah teman-teman Mario yang aneh-aneh itu.
“Sebenarnya, kedatangan aku ke sini itu mau nanya sesuatu?”Jelas Anggie sungkan.
“Oh, iya tanya aja. Sok silahkeun.” Kata Miko sok sunda.
“Apa kalian kenal Mario?”
Mereka pun semakin bingung, karena yang di cari ternyata pada intinya hanya sosok yang bernama Mario, teman mereka yang paling banyak penggemarnya.
“Iya, ada apa ya lo cari temen kita Mario?” Tanya Han.
“Saya ada perlu sama Mario. Apa kalian tahu di mana alamat Mario?” Tanya Anggie langsung.
“Memangnya lo ada perlu apa, minta alamat Mario?” Kata Miko penasaran.
“Ohhh, gw ngerti. Lo mw pakai jasa Mario buat bikin TA ya?” Tebak Jimmy sok tahu.
Anggie tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
“Enggak bukan soal itu.” Jawab Anggie.
“Ahhh gpp lagi, nggak usah malu. Itu hal yang wajar kok kalo lo mau pakai pembimbing luar buat skripsi lo.” Kata Miko yang semakin sok tahu.
Anggie semakin geli dengan sikap teman-teman Mario yang lucu ini.
“Aduh, kalian kayaknya salah paham deh. Aku nanya alamat Mario nggak ada hubungannya sama konsultasi apalagi skripsi. Aku tanya karena aku mau jenguk adiknya yang lagi sakit. Mau tanya Mario, tapi kayaknya dia lagi repot.”
Ketiga pria dihadapan Anggie itu pun semakin terkejut, bagaimana bisa temannya Mario mengenal Anggie, dan hubungan mereka nampaknya sangat akrab hingga Anggie tahu kondisi adik Mario sedang sakit.
“Bentar-bentar. Lo serius, yang lo maksud itu Mario yang sama dengan Mario sahabat kita?” Ragu Miko.
Anggie mengangguk.”Sepertinya begitu.”
“Bukan Mario anak pejabat, atau Mario anak kedokteran mungkin.” Tambah Jimmy.
Lalu Han pun angkat bicara, dengan menjelek-jelekkan Mario.
“Mario temen kita itu, bukan cowok yang baik, dia itu bandit, bajingan, berengsek, suka main cewek. Lo yakin nyariin dia?”
Tapi Anggie malah tertawa mendengar teman-temannya Mario menjelek-jelekkan Mario.
“Aku nggak salah kok, Mario yang aku cari itu Mario temen kalian, anak hukum lulusan terbaik tahun ini, dia pacarku.”
Dengan bangga Anggie menjelaskan pada Han. Miko dan Jimmy bahwa Mario adalah pacarnya. Dan ketiga teman Mario itu pun terbelalak kaget, sambil menelan air liurnya. Mereka terkejut, karena tanpa sepengetahuan mereka Mario diam-diam jadian dengan gadis impian mereka. Dalam hati mereka mengumpat Mario, dan berjanji akan memeberi Mario pelajaran karena merahasiakan hubungannya dengan Anggie.
“Bagaimana? Apa kalian bisa kasih aku alamat Mario?” tanya Anggie peanasaran.
“Iya, kita bisa kasih.” Kata Jimmy.
“Kita bertiga bakalan antar lo ke rumah Mario sekarang juga.” Tambah Han.
 “Serius? Apa nggak ngrepotin?” Tanya Anggie sungkan.
“Tentu saja nggak. Kebetulan ada bisnis yang harus kita lakuin sama Mario.”Jawab Miko.
Akhirnya Miko, Han dan Jimmy mengantar Anggie ke rumah Mario dengan mengendarai mobil Han. Sebelumnya mereka mampir di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga Mario. Mereka pun sampai di rumah Mario yang terletak di perkampungan yang cukup kumuh. Rumah bercat putih, yang cukup tua, kecil dan sederhana di situlah Mario, Ibu, dan kedua adiknya tinggal. Bagi seorang gadis dari kalangan atas macam Anggie, mungkin ini adalah pertama kalinya dia masuk ke perkampungan seperti ini. Gang sempit, rumah kecil-kecil yang berdempet-dempetan, jauh dari lingkungan Anggie yang serba mewah dan bagus. Tapi namanya cinta tak pernah mengkotak-kotak di lingkungan seperti apa dia tinggal, dan dari keluarga seperti apa dia dibesarkan. Cinta adalah ketika mata, telinga, hidung dan pikiran tak berfungsi secara normal, semua hal dijalankan dengan indra yang namanya perasaan. Itu kenapa sering dibilang cinta itu buta.
“Permisi….” Teriak Jimmy mewakili teman-temannya.
Han, Miko, Jimmy dan Anggie berdiri di depan pintu rumah Mario, menunggu seseorang keluar dari dalam rumah. Setelah beberapa saat mereka menunggu, seseorang keluar dari dalam rumah. Dia adalah Marsya, adik  perempuan Mario.
“Hallo….Marsya cantik. Apa kabar?” Goda Jimmy.
Dengan tampang sedikit jutek dia merespon godaan Jimmy yang memang sejak lama menaruh hati pada Marsya.
“Kalian ngapain ke sini? Kak Mario nggak ada di rumah. Dia pergi.” Jelas Marsya.
Keempat orang tersebut pun memasang raut muka kecewa, mendengar Mario tak ada di tempat, terlebih Anggie dia sangat ingin menemui pacarnya yang sudah beberapa hari tak ditemuinya. Han, Miko, dan Jimmy yang menyadari Anggie sedang kecewa pun saling lirik. Marsya yang menyadari di hadapannya ada seorang wanita asing yang baru pertama dia lihat ini pun penasaran siapa gerangan wanita cantik di depannya ini.
“Dia siapa?” Tanya Marsya spontan.
“Oya, kenalkan. Anggie ini adik Mario, Marsya. Marsya kenalin ini kak Anggie pacar kakakmu.” Jelas Han.
Masya terlihat sangat terkejut, karena dia tidak mengetahui bahwa kakaknya ternyata sudah mempunyai seorang kekasih.
“Pacar?”
“Hallo, Aku Anggie.” Sapa Anggie.
“Hallo juga, aku Marsya.”
“Senang kenalan sama kamu.”
“Saya juga kak. Ya udah ayo masuk, dulu.” Ajak Marsya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Mario, selepas Masrya mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
“Emang kakak lo ke mana,Sya?” Tanya Miko.
“Ke apotik nebus obat Nino.” Jawab Marsya.
“Ma….ada tamu.” Teriak Marsya memanggil mamanya.
Lalu mama Mario pun muncul dari dapur.
“Eh..ada teman-teman Mario.” Sapa mama Mario.
“Apa kabar tante?” Sapa Han, Miko dan Jimmy.
“Baik, kalian ke mana saja? Kok jarang main ke sini?”
“Kami lagi sibuk skripsi tante. Maklum belum lulus.” Kelakar Miko.
Mereka pun tertawa, mendengar gurauan Miko. Lalu pandangan mama Mario tertuju pada sosok asing yang ada di antara teman-teman Mario yang memang sudah akrab dengan keluarga Mario.
“Ini siapa? Kok sepertinya tante belum pernah ketemu sebelumnya?” Tanya mama Mario penasaran.
“Perkenalkan tante, ini Anggie teman kuliah kami. Calon mantu tante.” Jelas Jimmy.
Mama Mario agak terkejut dengan pejelasan Jimmy.
“Apa? Maksudnya? Ini pacar Mario?” Tanya Mama Mario memperjelas.
“Iya ma. Mama juga kaget kan? Kak Mario punya pacar nggak bilang-bilang sama kita.” Keluh Marsya.
“Iya tante, Mario itu emang harus dikasih pelajaran. Dia juga sama sekali nggak cerita sama kita kalo dia punya pacar. Kita juga tahunya baru tadi.” Imbuh Miko.
“Wahhh keterlaluan kakak tu. Padahal punya pacar cantik gini, pakai acara di umpetin ya Ma?” keluh Marsya.
“Nama kamu tadi siapa?” tanya Mama Mario lembut pada Anggie.
“ Perkenalkan saya Anggie, Tante.”
“Ohh..nama yang cantik. Secantik orangnya.” Puji mama Mario.
“Terima kasih tante.” Anggie nampak tersipu malu.
“Ohh..iya, tante kebetulan baru selesai masak. Kalian pasti belum sempat makan siang.bagaimana kalau kita makan bareng.”
“Asyiikkk..” Seru Han, Jimmy dan Miko.
Mereka semua pun makan siang bersama, sembari ngobrol-ngobrol ringan.
“Maaf makannya seadanya.” Rendah mama Mario.
“Mau masakannya apa aja, kalo Tante yang masak pasti enak.” Puji Han.
“Han ini bisa saja.” Kata mama Mario malu.
“Beneran tante, iyakan?” Kata Han meyakinkan.
“Bener banged tante. Eh, Anggie…Tante Mia itu, masakannya enak banged. Nggak kalah deh sama koki di rumah lo.” Imbuh Jimmy.
Anggie tersenyum, menanggapi ucapan Jimmy.
“Kalian ini terlalu berlebihan. Tante yakin, Mama Anggie juga pasti masaknya lebih jago. Iyakan sayank?” Elak mama Mario.
Anggie nampak diam mendengar ucapan mama Mario, wajahnya berubah sendu. Ucapan mama Mario membuat dia mengingat mamanya yang telah tiada. Dia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana rasa masakan yang dibuat oleh seorang ibu, karena ibunya meninggal sejak dia masih umur 8 tahun.
“Anggie lupa tante, gimana masakan Mama.”
Marsya dan mamanya bingung dengan sikap Anggie, sementara Han dan yang lain nampak canggung, karena mereka sudah mengetahui situasi Amggie yang sudah tidak memilik seorang ibu.
“Mama Anggie udah meninggal dari Anggie SD tante. Jadi Anggie udah lupa bagaimana rasanya masakan seorang mama.” Jelas Anggie, tetap sembari tersenyum meskipun hatinya sedikit pilu.
Mama Anggie merasa menyesal dengan ucapannya.
“Ya Tuhan, maafin tante. Tante menyesal telah membuat kamu sedih.”
“Nggak papa tante. Anggie baik-baik saja kok. Tapi meski pun saya lupa masakan mama Anggie seperti apa, tapi Anggie yakin kalau mama masih ada, masakannya pasti kayak gini. Masakan seorang ibu.”
“Sayang…” Mama Mario menggenggam jemari tangan Anggie.
“Kapan saja kalau Anggie pingin makan masakan tante, Anggie datang aja. Nanti tante masakin spesial buat Anggie.” Hibur mama Mario.
“Makasih tante.” Dengan mata agak berkaca-kaca.
Setelah mereka makan, mereka ngobrol diruang keluarga, sembari menemani Nino bermain robot-robotan. Anggie nampak akrab dengan keluarga Mario, begitupun dengan keluarga Mario yang menyambut Anggie dengan ramah tamah. Tiba-tiba seseorang mengucap salam dari depan rumah.
“Aku pulang..”
Dan seseorang pun muncul dari balik pintu, yang ternyata adalah Mario. Mario nampak terkejut melihat keadaan rumahnya yang mendadak ramai di penuhi teman-temannya, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah melihat keberadaan Anggie di rumahnya.
“Anggie?” Bingung Mario.
“Hai…” Sapa Anggie ramah.
“Ohh..akhirnya lo pulang juga..penghianat.” Teriak Miko.
“Yahh…kami sudah nunggu lo dari tadi.” Tukas Jimmy.
“Kayaknya lo hutang penjelasan ke kita, Yo.” Tambah Han.
Mario tak menghiraukan perkataan teman-temannya yang nampak penasaran,tapi dia malah mendekati Anggie.
“Apa kau sudah lama di sini?” Tanya Mario.
Anggie mengangguk sembari tersenyum. Mario dan Anggie pun keluar rumah, mereka mengobrol sendiri di teras depan rumah.
“Apa kamu marah aku datang ke rumahmu?” Tanya Anggie lembut.
Mario tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Anggie.
“Kenapa aku harus marah? Aku bahagia, karena kekasihku berkunjung ke rumahku.”
Lalu Mario memalingkan wajahnya menatap langit yang mulai senja.
“Ini pasti pertama kalinya kamu datang ke lingkungan yang kumuh seperti ini?”
Anggie memfokuskan pandanganannya pada Mario.
“Memang kenapa kalau ini pertama kalinya buatku? Menurutku tak ada yang aneh dengan tempat ini? Lingkungan ini cukup nyaman, keluarga yang hangat, dan mamamu dia sangat baik padaku. Jadi sepertinya aku akan sangat betah  jika tinggal di sini.” Gurau Anggie.
Mario tersenyum mendengar gurauan Anggie yang sangat jujur itu.
“Apa kamu mau tinggal di sini bersamaku?” Goda Mario.
Anggie dengan cepat menganggukkan kepanya dan langsung mengiyakan tawaran Mario meski pun dia tahu Mario hanya bercanda.
 “Ya..aku mau. Kau yang menawariku. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik kembali. Kelak aku akan menagihnya.”
Anggie nampak bersemangat menanggapi kalimat Mario, karena seperti itulah perasaan Anggie. Mario merasa lucu dengan sikap Anggie.
“Kamu bersemangat banged ngomongnya.”
Anggie merasa malu, dia hanya tersenyum melihat wajah Mario. Dia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.
 “Sepertinya kamu akan dapat masalah. Teman-temanmu sedang menunggu penjelasanmu.” Kata Anggie.
“Hemmm…sepertinya begitu. Wajah mereka seperti serigala yang siap menyantapkku.”
Anggie dan Mario pun tertawa. Mereka terus berbincang dengan wajah sangat bahagia. Sementara pada waktu yang bersamaan, dari dalam rumah Han, Jimmy dan Miko sedang memperhatikan sepasang kekasih yang sedang berpecaran di teras.
“Liat wajah si penghianat itu! Sangat bahagia.” Kata Miko dengan wajah sinis.
Lalu Jimmy menimpalinya.
“Merahasiakan berita sebesar itu dari sahabatnya sendiri. Itunkah yang dinamakan sahabat?’
“Selama ini kita selalu membicarakan tuan putri Anggie, dan dia seolah-olah tidak mengenalnya dan tidak peduli. Benar-benar kurang ajar.” Timpal Han.
Lalu tiba-tiba seseorang ikut menyahut dari belakang, yaitu Marsya.
“Kalian sedang apa?”
Mereka bertiga terkejut.
“Marsya?” seru Han.
“Ohh,….aku tahu. Kalian sedang menguntit kakakku pacaran? Wahhh…benar-benar.”
Kata Marsya.
“Bukan…bukan seperti itu.” Kata Jimmy.
“Lalu apa? Sudah jelas-jelas kalian sedang mengintip kakakku, masih saja ngeles.”
Mereka pun terus saling beradu mulut, dan sangat berisik. Sebenarnya Han, Miko, dan Jimmy tidak benar-benar marah. Mereka hanya sedikit jengkel karena Mario merahasiakan hubungannya dengan Anggie. Mereka cukup mengenal bagaimana sikap Mario yang sangat dingin, cuek, dan kurang suka berbagi cerita kehidupannya dengan orang lain. Dan teman-teman Mario pun cukup tahu jalan cerita hidup Mario seperti apa, karena sejak SMA mereka  sudah berteman, dan selama itulah mereka selalu berada di samping Mario, bahkan di masa-masa sulitnya. Dan suasana sore  di rumah Mario sangat hangat, berbeda dari sore-sore biasanya. Penuh dengan kebahagiaan, keceriaan, dan kasih sayang. Sampai pukul delapan malam, akhirnya Anggie  dan ketiga teman Mario Han, Miko dan Jimmy pun pamit pulang. Mario mengantar Anggie pulang ke rumahnya. Hari yang sangat berkesan bagi Anggie, dan tak akan pernah terlupakan.
***
Waktu terus berjalan, hari ini adalah kenyataan yang sedang kita jalani, esok adalah misteri dan kemarin hanya akan menjadi masa lalu yang akan kita kenang atau kita lupakan. Cinta terus memeberikan energi untuk kita bisa melewati waktu demi waktu.
------------
Hari ini genap satu bulan aku dan Mario jadian. Kebahagiaan tak pernah berhenti Mario berikan padaku. Sejak Mario hadir dalam hidupku, semua berubah, setiap malam aku hanya bersemangat menunggu pagi cepat datang, agar aku bisa segera bertemu dengannya. Tak pernah sekali pun ku lewatkan hari-hariku tanpa memikirkan Mario. Saat bahagia aku bersamanya, saat aku kesulitan dia memberiku jalan, saat aku mulai menyerah dia membawakan harapan. Itulah arti Mario dalam duniaku.
Waktu sudah menujukkan pukul 3 pagi, sudah berjam-jam aku berada di depan komputer, tapi tak satu pun ide yang berhasil aku dapatkan untuk ku masukkan dalam skripsiku. Tumpukan diktat tak juga mampu membantuku memecahkan masalah yang diberikan oleh professor Herman. Di tengah kebuntuan otakku, ku lihat handphone di atas mejaku, sekilas muncul pikiranku tentang Mario. “Sedang apa dia sekarang?” Ku ambil handphone ku dan tak perlu lagi pikir panjang aku segera menghubunginya.
“Hallo…?” Terdengar suara Mario dari sebrang telpon.
Mendengar suara Mario, hatiku langsung bergetar.
“Halo…” Balasku.
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuhku.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Aku tersipu mendengar kalimat Mario, sembari tersenyum sendiri seolah Mario sedang ada di hadapanku.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.” Tanya Mario lagi.
Tebakan Mario selalu benar, dia selalu tahu bagaimana suasana hatiku.
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?” Gurauku.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Aku pun  tertawa setelah mendengar ucapan Mario.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?”
“Emhh…Mungkin.” Sombongnya.
“Apa coba?” Tantangku.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluhku.
“Apa aja?”
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.” Jelasku.
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.” Kesalku.
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.” Komentar Mario.
“Baru muncul?”
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Aku seperti tersihir, Mario memang cerdas, pantas saja semua orang meminta bantuan padanya untuk mengerjakan sekripsinya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…”
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
Aku bingung dengan ucapan Mario.
“Heh..?”
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
Aku terkejut bagaimana bisa Mario bicara seperti itu, apa sebutuh itukah dia dengan uang, hingga dia memasang tarif juga padaku.
“Berapa yang harus ku bayar?”
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Sudah aku duga, Mario bukanlah orang seperti itu. aku sangat lega.
“Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..”
Deg….Mario mengatakan I love you? Hatiku berdegub sangat kencang mendengar ungkapan cinta dari Mario.
“I love you too.”
Dia pun menutup sambungan telepon.
Aku langsung meloncat kegirangan.
“Aku harus  segera menyelesaikannya..” Gumamku.
Mario memang sangat berpengaruh dalam hidupku, dia mampu memberiku semangat di saat aku hampir putus asa. Ku lakukan sesuai apa yang diajarkan Mario tadi, ku baca kembali materi yang aku tulis. Dan setelah beberapa kali aku baca, ternyata benar banyak pertanyaan yang muncul. Segera aku cari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, agara tidak menjadi pertanyaan lagi. Hingga waktu pukul 5 pagi aku baru meneylesaikan pekerjaanku. Dan aku pun tertidur.
----------
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, mungkin sebagian orang istirahat atau bersenang-senang di tempat hiburan, tapi tidak untuk Mario, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di  cafe jam 1 malam. Dia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya, hingga telephone genggamnya berdering. Tertulis jenis di layar itu adalah panggilan dari Anggie. Dia pun menghentikan langkahnya, lalu bersandar di tembok pagar rumah orang, kemudian mengankatnya.
“Hallo…” Jawab Mario.
Suara Anggie dari seberang telephone pun menjawab.
“Halo…”                  
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuh Anggie, dengan suara agak berat.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Mario.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?”Timpal Anggie.
Mario tersenyum mendapati Anggie terdengar penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Tak ada jawaban dari Anggie, Mario pun meneruskan pertanyaannya.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.”
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?”
Anggie berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Terdengar suara tawa kecil dari sebrang telephone.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?” goda Anggie.
“Emhh…Mungkin.”
“Apa coba?” Tantang Anggie menggoda.
Tapi Mario tidak menggubris tantangan Anggie, dia pun menanyakan lagi apa kesulitan yang dialami Anggie lagi.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluh.
“Apa aja?”
Mario terus memancing Anggie tanpa Anggie sadari.
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.”
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.”
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.”
“Baru muncul?”
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Anggie tak menjawab sepatah katapun, sampai Mario melanjutkan lagi komentarnya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…”  jawab Anggie pasti.
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
 “Heh..?”
Mario nampak tersenyum mendengar Anggie terkejut.
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
 “Berapa yang harus ku bayar?”     
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Wajah Mario nampak sangat puas mengerjai Anggie.
 “Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..”
Sebuah pernyataan cinta akhirnya dia ucapkan.
“I love you too.”
Mario pun menutup sambungan telepon, lalu tersenyum dan melanjutkan perjalanannya sampai ke rumah.
--------------
Kring…..Kring….Kring…
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, jam weaker di kamarku pun berdering. Dengan kepala agak pusing dan mata masih ngantuk, aku mulai membuka mataku. Menyadari aku sudah terlambat, aku segera bangkit dari tidurku.
“ Gawat, aku ada bimbingan jam sebelas.”
Dengan sempoyongan aku ambil langkah seribu. Mandi, make up, semuanya aku lakukan dengan singkat. Ku kemasi bahan sekripsiku, lalu segera masuk ke mobil yang sudah di siapkan oleh pak Min.
“Pak Min, tolong cepat ya, saya ada bimbingan jam 11.” Pintaku pada pak Min yang siap untuk meneyetir.
“ Baik, Non.”
Dengan wajah panik dan gelisah aku terus melihat jam tangan, sambil sesekali meminta pak Min untuk lebih cepat menyetir. Untung jalan sudah tidak begitu macet, jadi aku bisa lebih cepat sampai ke kampus. Ku lihat jam di tangan sudah pukul 12. Aku berlari dari parkiran menuju ruangan dosen pembimbingku, professor Helmi. Dari jauh ku lihat professor Helmi sedang berjalan meninggalkan ruangannya. Aku mempercepat langkahku, berharap professor Helmi masih berkenan memberiku waktu untuk konsultasi.
“Proff… permisi. Maaf saya terlambat.” Ucapku dengan nafas terengah-engah.
“Maaf saya banyak urusan. Saya tidak ada waktu untuk melayani mahasiswa tidak disiplin seperti anda.” Ketus Profesor Helmi sembari terus berjalan menuju lift.
Aku terus mengikuti langkah professor Helmi dengan terus meminta maaf dan juga kesempatan untuk bisa berkonsultasi.
“Saya tahu saya salah prof, tapi saya mengerjakan ini semalaman, saya mohon professor berkenan memberikan saya waktu sedikit saja, agar saya bisa meperlihatkan hasil kerja saya. saya mohon.
Tepat di depan lift dia berhenti.
“Aku tidak punya banyak waktu, 10 menit lagi saya ada kelas di Komunikasi.”Tegasnya.
Lemas sudah kakiku, sepertinya tak ada lagi kesempatan dar professor Helmi.
“Anda punya waktu dari sekarang sampai lift naik di lantai 4.”
Ternyata professor Helmi memeberiku kesempatan, meskipun hanya beberapa menit aku akan menggunakan waktu yang singkat itu. Tepat saat kami masuk ke dalam lift aku menyerahkan bahan sekripsiku kepada professor Helmi. Sembari professor Helmi membaca bahan sekripsiku aku menjelaskan beberapa point penting yang sudah ku perbaiki yang sebelumnya sempat di permasalahkan oleh professor Helmi. Ketika lift menunjukkan angka 4, kami pun keluar, dan waktu yang diberikan oleh professor pun habis. Sepertinya beliau sudah selesai membaca  bahan sekripsiku dan mengembalikannya kepadaku. Raut wajah professor Helmi sangat datar, sehingga tidak bisa menebak apakah beliau menerima atau tidak pekerjaanku.
“Sepertinya kamu sudah paham apa yang saya maksud.”
Mendengar kalimat professor Helmi aku agak ragu, apa maksud dari perkataan beliau.
“Maksudnya?” Tanyaku ragu.
“Lusa temui saya jam 1 di ruangan saya, dan bawa halaman pengesahan naskah sekripsi kamu.”
“Jadi saya di acc pak?” Seruku riang.
“Iya…”
“Terima kasih pak, terima kasih.”
“Saya tidak suka orang yang tidak disiplin. Jika kamu terlambat lagi, saya tidak akan mau membimbing anda lagi.”
“ Siap pak. Saya janji, besok saya akan tepat waktu.”
Setelah professor helmi pergi, aku meloncat kegirangan.
“Akhirnya berhasil, terima kasih Tuhan. Mario harus tahu.”
Aku ingat setelah ini aku ada janji berkencan dengan Mario, aku meminta pak Min mengantarku ke restoran tempat Mario bekerja dengan di antar pak Min. Setelah mengalami beberapa kali macet, akhirnya 2 jam kemudian kami sampai di lokasi. Sesampainya di sana aku melihat Mario sedang sibuk melayani pengunjungnya..
“Bagaimana aku bisa lupa, ini kan jamnya dia kerja.” Gumamku.
Sejenak aku terpaku melihat Mario yang mengenakan seragamnya sama seperti saat pertama kali kami bertemu, di tempat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di luar, agar tidak mengganggunya bekerja. Aku terus berdiri di depan restoran menunggu Mario, 1 jam, 2 jam, 3 jam sudah berlalu, sampai akhirnya pukul 9 malam. Ku lihat lampu restoran mulai mati. Meski pun kaki kram karena terlalu lama berdiri, memikirkan sebentar lagi Mario keluar aku kembali bersemangat. Dan setelah hampir satu jam, akhirnya pintu restoran terbuka dan beberapa orang keluar dari sana, ku lihat Mario ada di antaranya.  Mario dan teman-teman kerjanya saling mengucapkan salam perpisahan.
“Mario…” Sapaku lirih.
Entah dia mendengar atau tidak, tapi dia terkejut ketika berpaling melihatku sudah berdiri di depan restoran.
“Anggie,…?”
Dia pun menghampiriku.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Aku…” Ketika hendak melangkahkan kakiku, tiba-tiba pandanganku kabur. Dan entah apa yang terjadi aku tak tahu lagi.
Aku mulai membuka mataku, dengan pandangan yang masih kabur ku lihat sorot lampu sedikit-demi sedikit aku mulai membuka mataku. Ku lihat di sekelilingku, sebuah dinding-dinding putih, bau obat yang menyengat. Aku masih belum sadar di mana aku sekarang, sampai ku dengar suara seseorang memanggil namaku. Suara itu sangat familiar, dan ketika ku alihkan pandanganku ternyata itu adalah Mario.
“Anggie? Kau sudah sadar?” Tanyanya cemas.
“Mario ?” Tanyaku bingung.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.” Jelasnya.
Aku tidak berkata apa-apa.
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.” Jawabku lirih.
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu berdiri sejak siang?”
 “Aku minta maaf…” Sesalku.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Sambil terus menatapku dia memegang kedua tanganku.
“Nggak papa, aku yang bodoh, saking semangatnya mau ketemu kamu, aku lupa kalo kamu lagi kerja.”
Mario pun mencium keningku dengan lembut, dan memelukku dengan erat. Rasanya hangat dan nyaman berada dalam pelukannya, sampai tak mau melepaskannya.
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Aku hanya menggeleng. Entah apa aku sudah gila, tak ada lagi rasa lapar yang aku rasakan sekarang adalah perasaan bahagia, nyaman, dan berbunga-bunga berada di samping Mario.
Dia pun mengambil semangkuk bubur nasi dan menyuapkannya padaku. Hanya beberapa sendok yang berhasil masuk, karena rasanya masih mual. Setelah dokter menyatakan kondisku membaik, aku pun di perbolehkan untuk pulang. Mario mengantarku pulang, hingga tiba di depan pagar rumahku, kami pun berpamitan.
 “Terima kasih, ya.”Ucapku.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.” Ucapku.
“Hemmm..”
Aku pun membalikkan badanku, dan beranjak meninggalkan Mario, tapi belum sempat ku langkahkan kaki, tiba-tiba Mario merengkuh tanganku.
“Anggie…”
Dia menarik tanganku, hingga aku jatuh dalam pelukakkannya. Dia memelukku sangat erat, dan meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. Matanya terus melihat ke dalam mataku, wajahnya semakin dekat dengan wajahku, sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibirku. Jantungku seketika berdetak tak beraturan, darahku seketika mendidih. Dia terus mengecup bibirku, dan akhirnya kami pun saling berbalas. Untuk beberapa saat waktu seakan berhenti, menikmati gejolak hati yang bergelora. Perlahan kami melepaskan ciuman kami, dan waktu pun kembali. Berbeda dengan sikap Mario yang nampak tenang, aku merasa kikuk dan salah tingkah sendiri.
“Ehmm…aku masuk dulu.” Ucapku.
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.”
Aku pun berbalik dan beranjak pergi dengan perasaan tak karuan.
Dan Mario masuk ke mobil setelah aku masuk ke dalam rumah lalu pergi. Jantungku masih saja berdegub kencang. Ciuman lembut Mario masih sangat terasa di bibirku, wajahnya terus terlintas dipikiranku. Mario, aku sangat mencintaimu.
-------------
Waktu sudah menunjukkan pukul 12, inilah waktu Mario mulai bekerja di restoran. Meski pun hanya tidur 2 jam setelah dia menyelesaikan proyek skripsi mahasiswa sepulang dia kerja semalam, dia tetap harus kembali bekerja di restoran. Berbeda dengan Anggie yang sangat antusias dengan kencannya, Mario terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia lupa jika dia ada janji dengan Anggie, bahkan dia juga tak menyadari jika sedari tadi Anggie menunggunya di luar. Sementara Mario sedang sibuk di dalam, Anggie tetap berdiri menunggu Mario dengan sabarnya. Malam pun mulai menjelang, waktu menunjukkan pukul 8 malam, saatnya restoran tutup. Sempat terpikir oleh Mario saat meilhat jam di tangannya, bagaimana keadaan Anggie. Dia teringat bahwa mereka sepakat akan berkencan seusai Anggie bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Kenapa dia tidak muncul?” Gumam Mario
“Apa dia gagal?”
Dia pun segera berkemas. Tak ada jadwal kerja di café, dia pun berniat untuk pulang. Bersama dengan karyawan restoran lainnya, dia keluar dari restoran. Ketika tengah berjalan keluar dari pintu restoran, seeorang memanggilnya. Dia menoleh mencari arah sumber suara tersebut, sesosok wanita cantik mengenakan blus warna biru laut tengah berdiri di depan etalase restoran. Anggie, dialah wanita cantik.
“Mario….” Panggilnya lirih.
Wajahnya terlihat pucat.
 “Anggie,…?”
Mario mulai mendekati Anggie.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario heran.
“Aku…”
Belum sempat Mario sampai Anggie sudah terjatuh di lantai. Mario pun berlari menghampiri Anggie, dan mendapati Anggie sudah tak sadarkan diri.
“Anggie, bangun…nggiiee…!! Anggie…”
Tanpa pikir panjang Mario menggendong Anggie dan membawanya ke rumah sakit. Jalan Jakarta yang macet malam itu, membuat Mario memutuskan untuk tetap membawa Anggie dalam gendongannya dan mencari rumah sakit terdekat. Untung saja 100 meter dari restoran tempat Mario bekerja, ada sebuah rumah sakit. Sesampainya di sana Anggie langsung ditangani oleh medis. Meski pun nampak tenang, tapi sepertinya Mario cukup cemas dengan keadaan Anggie, nampak saat dokter keluar dari ruang UGD dia langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Anggie.
“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” cemas Mario
“Anda keluarga pasien?” tanya dokter.
“Bukan, saya teman..nya.” Jawab Mario.
“Hemm…pasien menderita anemia.“ Jelas dokter.
“Anemia? Lalu bagaimana dia sekarang?”
“Sekarang sudah tidak apa-apa, kami sudah menanganinya. Hanya saja tubuh pasien kekurangan cairan dan tidak ada asupan nutrisi, jadi kondisinya lemah seperti itu. Lain kali tolong dijaga makanya, dan banyak-banyak minum air putih ya.”
“Baik dok. Terima kasih.”
Selepas dokter pergi, Mario segera menemui Anggie yang masih tak sadarkan diri. Mario duduk di samping Anggie, lalu memegang jemari anggie yang lemah. Entah apa yang di pikirkan Mario saat itu, tak ada suara, tak ada kata, hanya diam dan terus menatap wajah Anggie. Waktu terus berjalan, tapi Mario tetap terjaga menemani Anggie, tanpa tidur sekali pun. Hingga hari berganti, Anggie pun  mulai tersadar, dan membuka matanya.
 “Kamu sudah sadar?” Tanya Mario sembari tersenyum.
“Mario…?”
Wajah Anggie nampak kebingungan.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.”
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.”
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu sejak siang di sana.”
Dia hanya mengangguk.
“Aku minta maaf…”
Tak banyak yang dikatakan Anggie, hanya ucapan maaf yang ia lontarkan.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Mario pun mulai mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Anggie, lalu memeluknya dengan erat.
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Dengan sabarnya Mario merawat Anggie, dia pun menyuapi Anggie dengan semangkuk bubur nasi. Mereka nampak sangat serasi layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Mario seperti energy bagi Anggie, senyum Anggie terlihat sangat bahagia jika bersama Mario.
Melihat kondisi Anggie sudah cukup baik dokter pun memperbolehkannya untuk pulang. Mario pun mengantar Anggie pulang ke rumahnya.
“Terima kasih, ya.” Ucap Anggie.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.”
“Hemmm..”
Mereka pun berpamitan, namun ketika Anggie hendak membalikkan badan, Mario merengkuh tangan Anggie.
 “Anggie…”
Mario menarik tangan Anggie, dan membawanya jatuh di pelukannya. Lalu kedua tangan Mario di tempelkannya di pipi Anggie, wajahnya semakin mendekat ke wajah Anggie. Kedua mata mereka saling beradu satu sama lain, kemudian bibir mereka pun saling beradu, sangat mesra. Untuk beberapa saat dunia mereka terhenti, dan menikmati adegan tersebut. Hingga mereka mulai melepaskan ciuman tersebut, suasana pun menjadi canggung. Anggie pun mengakhiri kecanggungannya. Dia berpamitan dengan Mario.
 “Ehmm…aku masuk dulu.”
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.”
Dan mereka pun mengakhiri drama romantik mereka untuk pagi itu dengan pulang ke rumah mereka masing-masing.
-------------
Tak ada yang tahu hari seindah ini akan terjadi pada Anggie, tak ada yang tahu pria sesempurna Mario akan hadir dalam hidup Anggie yang kelabu. Karena kemarin, hari ini, dan esok adalah tak akan ada yang tahu jika kita belum menjalaninya.
****














 Chapter 1
Seharusnya pagi ini tidak pernah terjadi. Pagi yang cerah, dengan mentari ceria dan penuh kebahagiaan ini tak pernah sekalipun terpikirkan akan berubah menjadi kabut mendung dalam kehidupan beberapa manusia. Dari sinilah semua cerita kepedihan itu berawal.
Di antara serpihan lembut angin pagi, Mario bersama teman-temannya Jimmy, Han, dan Miko, sedang bergerombol duduk di taman kampus, ketika seorang gadis berlari-lari menghampiri temannya yang tengah duduk dibangku dekat kolam. Dia memanggil gadis yang duduk itu dengan nama, Anggie. Pandangan Mario pun tertuju pada gadis manis yang mengenakan blues warna biru laut yang membuatanya terlihat semakin anggun itu. Gadis yang dipanggil Anggie itu, mampu membuat Mario beberapa detik tak berkedip. Ternyata teman-teman Mario menyadari, jika sahabatnya sedang terpesona oleh seorang gadis yang tengah duduk dibangku dekat kolam bersama temannya itu.
“Wah, kayaknya ada yang lagi dapat target baru ni, Bro.” Celetuk Miko, teman Mario yang berambut kribo seperti penyanyi era-80an. Mereka pun tertawa dan saling bersautan menanggapi sikap Mario. Kemudian Jimmy, pria kurus yang sok playboy tapi setia kawan ini pun angkat bicara. “ Namanya Anggie, dia mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan internasional.” 
“Dia anak politikus terkenal” Tambah Han dengan ekspresi wajah yang serius. Pria Chinest yang penampilannya mirip boyband ala Korea ini, kredibilitasnya tidak bisa disepelekan mengenai gossip dan informasi terbaru di kampus. Aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus membuatnya tak sulit untuk mendapatkan info dan gossip tersebut.
“Lo tahu dari mana?” Tanya Miko penasaran.
 “Apa sih yang nggak Han tahu? Tikus beranak di kampus ini aja dia tahu, apa lagi gossip besar kayak gitu. Ya nggak Han?” Kelakar Jimmy. Dan semua pun tertawa mendengar banyolan Jimmy, kecuali Han tentunya. Mukanya berubah cemberut mendengar ledekan Jimmy.
 “Dia kan demisioner BEM Fisip, jadi gw lumayan tahu lah tentang dia.”  Jelas Han menggebu-gebu.
“Emang bokapnya siapa sih?” Tanya Miko detail.
“Gw rada lupa namanya. Pokoknya dia ketua umum partai intregitas gitu lah.” Imbuh Han. Jimmy yang cukup mengikuti perkembangan dunia politik pun mulai menerka-nerka siapa yang dimaksud oleh Han.
“Partai Intregitas? Harlan Prawira maksud loh?” Tebak Jimmy.
“Bener-bener. Politisi yang terkenal frontal dan kritis itu loh.” Jawab Han membenarkan.
“Kalo nggak salah dia itu pernah jadi menteri tapi mengundurkan diri setelah 1 tahun masa jabatannya.” Tanya Jimmy yakin. Mendengar perbincangan sahabat-sahabatnya tentang Anggie itu pun membuat Miko semakin menjadi. 
“Wah..mantab tuh. Beruntung banged kalo bisa pacaran sama dia. Udah cantik, anak pejabat lagi.”
“Udah jangan ngimpi..” Ledek Han.
“Ye, biarin. Namanya juga cita-cita. Kalo kita punya pacar anak orang berpengaruh kayak gitu, Kita bakalan lebih mudah dapat kerja. Syukur-syukur papanya rekrut kita disalah satu perusahaannya.” Khayal Miko berdalih.
“Adanya bukan kerja di kantornya tapi di rumahnya. Alias pembokat.” Ledek Han.
Semua pun tertawa dengan tingkah Miko yang terus berkhayal bisa menjadi kekasih gadis popular itu. Dan perbincangan mereka tentang gadis itu terus berlanjut dan semakin seru saja.
 “Masalahnya mana mungkin cewek sosialita kayak gitu mau pacaran sama cowok macam kita-kita gini. Cowok kere, yang sering nunggak uang SPP.” Ketus Jimmy.
“Menurut sumber yang gw dapet, anaknya tuh sederhana, ramah, baik, dan nggak pilih-pilih temen gitu.” Jelas Han.
“Wah, bener-bener Malaikat.” Kagum Miko.
“Nggak rugi emang kita punya temen biang gossip kayak lo Han.” Kembali Jimmy meledek Han.
Mereka pun saling meledek satu sama lain dengan asyiknya. Menyadari bahwa hanya Mario yang dari tadi tidak memberikan komentar, Jimmy pun heran.
“Eh, Mario..lo kenapa dari tadi diem aja.” Tanya Jimmy.
Dan semua pun ikut berkomentar tentang sikap Mario tersebut.
“Iye, neh..tadi dia yang liatin tu cewek, tapi dari tadi malah diem aja. Komentar dikit kek.” Imbuh Miko.
“Lo nggak serius mau jadiin dia target operasi lo kan?” Tanya Han dengan nada meledek.
Tapi berbagai komentar dari teman-temannya tak membuat Mario berbalik komentar, dia hanya tersenyum simpul dan menghabiskan minuman kalengnya.
“Ya…malah senyum ne bocah.” Celetuk Miko.
Tak ada yang yang tahu apa arti dari senyum Mario pagi itu. Dan tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan setelah pagi yang cerah itu.
----------
Di sudut taman, terlihat seorang gadis tengah duduk sendiri. Dengan wajah gusar, dan putus asa dia terdiam sambil memikirkan berbagai pertanyaan dalam hidupnya. Dan gadis itu bernama Anggie. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang tidak selamnya bisa kita dapatkan. Sesuatu yang dinamakan kebahagiaan. Tak selamanya uang bisa membeli segala-galanya, termasuk uang. Itulah yang terjadi pada Anggie. Materi yang berlimpah, juga strata sosial yang tinggi tak mampu memenuhi kemiskinanan hatinya. Jadi apakah uang masih bisa dibilang segala-galanya di dunia ini.
“Nggie…” Panggil seorang gadis yang berlari menghampiri Anggie yang tengah duduk sendiri di taman. Gadis itu nampak terengah-engah setelah berlari-lari.
“Gw nyariin elo dari tadi.” 
Dengan heran Anggie melihat wajah gadis yang baru datang itu. 
“Kenapa lo nggak bales sms gw?” 
Anggie masih melihat dengan heran mulut gadis yang berdiri di depannya yang tak hentinya berbicara. Dia adalah sahabat Anggie, namanya Mona. 
“Nggie…kenapa diem aja?”
Anggie tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Sejenak dia melupakan kesedihan batinnya.
 “Sorry ponselku lowbath.” Jelas Anggie. 
Mona hanya mengangguk-anggukan kepala menanggapi alasan Anggie, tapi dia masih bingung melihat wajah sahabatnya itu nampak murung.
“Lo nggak lagi baik-baik aja kan?” Cemas Mona.
Anggie menghela nafas panjang panjang.
“Pasti lo lagi ada masalah kan?” Desak Mona.
“Papaku akan menikahi wanita itu.” Jawab Anggie lirih.
Mona terkejut mendengar cerita Anggie. 
“Menikah?” Tanya Mona memperjelas.
Anggie hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Mona.
“Kapan?” Tanya Mona penasaran.
“Mungkin dalam waktu dekat ini. Aku juga kurang tahu” Jelas Anggie enggan.
“Terus lo setuju sama rencana pernikahan mereka?”
“Aku nggak ada pilihan lain. Dengan atau tanpa persetujuan aku mereka akan tetap menikah.” Jawab anggie pasrah.
Mona memahami perasaan Anggie, dia hanya memeluk sahabatnya itu untuk memberi dukungan.
“Udahlah nggak usah di bahas. By the way gimana skripsimu?” Tanya Anggie mengalihkan.
“Lancar dong. Lo?” 
“Payah. Dosennya ngerjain aku melulu. Minta ini, minta itu. Pusing.” Keluh Anggie pada sahabatnya itu.
 “Hemm…kenapa elo nggak pake jasa konsultan aja?”
Anggie bingung dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu.
“Maksudnya?”
“Maksudnya elo pake jasa konsultan buat bantu lo ngerjain skripsi lo.” 
“Konsultan skripsi?”
Anggie tidak tahu apa yang dimaksud oleh Mona, karena itu pertama kalinya dia mendengar istilah konsultan skripsi.
“Emang ada ya?” Tanya Anggie penasaran.
“Ada dong. Lo pikir selama ini skripsi gw lancar tanpa hambatan itu karena apa?” Sombong Mona.
Anggie semakin penasaran. Bagaimana sahabatnya itu bisa memakai jasa seperti itu. 
“Mending kalo gw saranin lo pake Mario aja.” Bujuk Mona.
“Mario? Siapa dia?” 
“Mario itu lulusan terbaik jurusan hukum di kampus kita. Gw jamin lo pasti langsung di acc sama pak Helmi.”
“Dia kan jurusan hukum, bagaimana dia bisa  ngerjain tugas akhir anak HI coba.”
“Emang lo pikir selama ini gw nggak pernah ngeluh-ngeluh soal skripsi gw itu berkat siapa? “
Anggie mulai mengingat kalau sahabatnya memang tak pernah mengeluh soal skripsinya, berbeda dengan dia yang selalu uring-uringan tiap selesai bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Berkat dia?” Tanya Anggie ragu.
“Ya berkat cowok yang namanya Mario itu.”
Anggie terkejut, mendengar jawaban Mona. Dia penasaran seperti apa orang yang namanya Mario itu? Bagaimana bisa dia sehebat itu. Mampu mengerjakan skripsi jurusan yang jelas-jelas bukan merupakan bidang studinya selama ini. 
*** 
Jika manusia bisa memilih takdir dan nasibnya sendiri, semua orang di dunia akan bahagia. Tak akan ada yang namanya kesedihan, air mata, apalagi kemiskinan. Tapi hidup tak akan sesederhana itu, karena manusia mempunyai takdir dan nasibnya sendiri-sendiri. Jika takdir Tuhan yang menentukan bagaimana ceritanya, sedangkan nasib, kita sendiri yang menentukan bagaimana jalannya. Ada manusia yang sejak lahir diciptakan sudah bahagia, tapi ada juga yang sejak lahir hingga meninggal hidupnya biasa-biasa saja. Ada yang dari kecil hartanya berlimpah, tapi tak jarang manusia yang seumur hidupnya hanya menjadi seorang yang serba kekurangan. Pertanyaannya apakah itu termasuk takdir atau nasib manusia? Itulah yang sering menjadi pertanyaan Mario sejak dia lahir ke dunia ini. Dia tidak meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang sederhana dan penuh penderitaan seperti ini. Dia juga tidak bisa menolak ketika takdir mengambil ayahnya saat dia masih duduk dibangku SMA. Dia juga tidak mengeluh saat nasib merubah dia menjadi tulang punggung bagi ibu, dan kedua adiknya. Tapi meski begitu, jika sekarang dia diberi kesempatan dilahirkan kembali untuk memilih takdir dan nasibnya sendiri, dia tetap ingin menjadi Mario yang berjuang demi keluarganya. Karena Ibu dan kedua adiknyalah yang menjadi alasan dia tetap hidup hingga sampai saat ini. Hidup yang keras dan dunia yang penuh ketidakadilan ini wajar buatnya. Bagi orang-orang seperti Mario hidup adalah bagaimana dia harus banting tulang mencari uang, agar keluarganya bisa makan dan adik-adiknya bisa sekolah. Mimpinya sekarang adalah membuat dunia lebih adil baginya dan keluarganya. Agar kebahagiaan tak hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang ditakdirkan kaya sejak lahir, tapi juga bagi Ibu dan adik-adiknya yang menderita sejak Ayahnya meninggal. Dunia Politik yang keji dan penuh dengan intrik juga ketidak adilan membuat kejujuran Ayahnya menjadi boomerang. Dalam politik teman bisa jadi lawan, dan dengan uang hukum pun jadi abu-abu. Siapa yang tidak bisa beradaptasi dengan kebiasaan dan atmosfir politik seperti itu, maka dia akan jatuh dan tersingkir. Ditekan, dijatuhkan dan diinjak terus menerus membuat Ayah Mario menyerah, hingga akhirnya dia meninggal karena serangan jantung. Karena pengalaman pahit di masa lalunya itu lah ia berjanji akan mencari keadilan. Mimpinya untuk mencari keadilan dalam kehidupan Ibu dan adiknya, mendorong dia untuk berusaha keras mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengacara yang selalu mencari keadilan. Dengan cara apapun dia akan berusaha membawa Ibu dan adik-adiknya berada di tempat yang lebih layak dari sekarang.
“Kakak…” Panggil Marsya adik perempuan Mario, yang sekarang duduk dikelas 2 SMA.  
“Iya sayang, ada apa?” Jawab Mario sembari tersenyum hangat.
Marsya pun menghampiri kakaknya yang sedang menonton televisi.
“Ada apa adekku sayang..?” Tanya Mario kepada adiknya yang hanya terdiam dengan gelisah.
“Marsya belum bayar SPP bulan ini.” Jawab Marsya hati-hati sambil menundukkan kepalanya. Mario menghela nafas pendek, lalu tersenyum.
“Maafin kakak ya, hampir aja kakak lupa. Tapi kamu tenang ya, kakak udah siapin kok uang buat bayar SPP sekalian uang jajanmu satu bulan.” 
“Makasih ya kak. Marsya sayang banged sama kakak.” 
Marsya pun langsung memeluk kakak laki-lakinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Kakak juga sayang banged sama adek kakak ini.”
“Mama, di mana sih? Dari tadi kakak pulang nggak kelihatan.” Tanya Mario sambil celingukan mencari ibunya.
“Mama lagi ke tempat tetangga sebelah bantuin masak.” Jawab Marsya.
“Emang ada acara apa di sana?” Tanya Mario penasaran.
“Arisan. Mama bantu-bantu di sana.” 
“Nino ikut?” Tanya Mario cemas.
“Hemm,..” Jawab Marsya sembari menganggukkan kepalanya.
“Kenapa mama pakai ngajak Nino segala” 
“Paling bentar lagi pulang. Orang udah dari tadi sore kok.”
Mario mengangguk sambil tersenyum dengan senyum khasnya.
Mereka pun kembali fokus pada acara televisi yang mereka tonton. Ketika Marsya hendak mengganti saluran televisi, tiba-tiba Mario meminta agar tidak mengganti saluran televisinya.
“Tunggu..tunggu..jangan diganti, Dek!” 
“Apaan sih?” 
Marsya heran dengan sikap kakaknya yang mendadak tertarik melihat acara infotainment di televisi. 
“Sejak kapan kakak suka nonton infotainment?”
“Sejak topik beritanya tentang Jenahara.” Ungkap Mario meringis.
“Apa bagusnya dia? Mukanya biasa aja ah..udah tua gitu.” Komen Marsya sinis.
“Ehm…3B. Brain, Beauty, and Behaviour.” Jelas Mario kagum.
“Aku juga bisa kayak gitu.” Sombong Marsya.
“Oya?” Ledek Mario kepada adiknya.
“Iya. Kita liat nanti, aku juga bisa terkenal kayak dia.”
Mario hanya mengangguk-angguk menanggapi ocehan adiknya sambil terus melihat berita tentang Jenahara, artis yang menjadi idola Mario sejak dinobatkan menjadi putri Indonesia di awal tahun 2000an. Artis 32 tahun yang sekarang menjadi politisi ini, kerap menjadi bahan pemberitaan yang ramai di media. Mulai dari berita perceraiannya beberapa tahun silam dengan mantan suaminya, hingga rumor terbaru tentang kedekatanya dengan sesama politisi yang belum diketahui identitasnya. Meski pun umurnya jauh lebih dewasa, dan statusnya yang seorang janda, tak membuat Mario berhenti memuja politikus wanita ini. Bagi Mario Jenahara adalah sosok wanita idamannya yang cantik, modern dan cerdas.
***
Banyak orang menilai bahwa kebahagiaan dimiliki kaum-kaum borjuis. Kebahagiaan dilihat dari seberapa banyak uang di rekening, seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, dan seberapa besar orang menghargai. Tapi apakah nilai suatu kebahagiaan hanya diukur dari hal-hal seperti itu. Pernahkan kita melihat cerita di balik kebahagiaan semua itu? Suatu kegelapan yang jauh dari yang namanya bahagia. Suatu kesepian yang jauh dari yang namanya damai. Dan suatu keterpaksaan yang jauh dari kata yang namanya puas. Inilah yang disebut adil. Tatkala kaum menengah ke bawah dengan keterbatasannya bisa tertawa lepas dengan hangatnya. Sedangkan kaum borjuis dengan hartanya tersudut dalam kesepian yang menghantuinya, dengan kekuasaan yang menggantung dalam kesombongan yang menggerogotinya, dan dengan materi yang tenggelam dalam ketidakpuasan yang membutakan hati nuraninya. Itulah kehidupan manusia yang sangat dekat dengan kehidupan Anggellina. Seorang putri tunggal dari seorang ayah yang bekerja sebagai politisi dan pengusaha sukses. Kehidupannya berubah sepi, ketika ayahnya sangat sibuk dengan profesinya dan tentu calon ibu tirinya. Waktu yang biasa dia lakukan untuk bermanja-manja pada ayahnya ketika malam tiba tak akan bisa dia rasakan lagi. Akhir pekan yang biasa mereka habiskan dengan memancing di kolam tak pernah ada cerita lagi.  Dan perayaan ulang tahun Anggie di malam pergantian tanggal rasanya sudah mulai terlupakan. 
----------  
Tepat hari ini, tanggal 19 september aku berulang tahun ke 22. Tak ada yang aku inginkan dihari ulang tahunku ini kecuali kesempatan untuk bersama anda. Dari 364 hari dalam setahun, aku hanya meminta beberapa menit saja anda mau meluangkan waktu penting anda untuk menemaniku di hari terpentingku ini. Berkali ku lihat jam di tangan, tapi tetap tak ku lihat ada tanda-tanda kehadiran anda. Puluhan panggilan dan belasan pesan pendek sudah ku kirim tapi tak satu pun mendapat respon dari anda. Aku sengaja menunggu di tempat yang lokasinya dekat kantor anda, agar anda lebih mudah untuk datang. Ku habiskan waktu 3 jam ku dengan penuh harap dan asa bahwa anda akan datang. Sudahkah anda terima pesanku atau anda benar-benar lupa hari ulang tahunku? Atau memang anda sedang bersamanya? Wanita yang sedang anda cintai saat ini? “Aku cuma minta hari ini saja, pah…”
Ku pandangi kue tart yang mulai rusak karena lelehan lilin. Lalu tanpa sadar seseorang menghampiriku dan bertanya dengan nada kurang bersahabat.
“Sampai kapan kamu di sini?” 
Dengan suasana hatiku yang sedang kacau, aku tidak begitu tertarik dengan kehadiran pria berstelan kemeja putih dan rompi hitamnya.
“Aku lagi nunggu orang.” Jawabku seadanya. 
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.”
Pria yang berprofesi sebagai pelayan ini sepertinya mendesakku untuk segera meninggalkan restoran. Tapi, aku akan mencoba memohon kepada pelayan ini untuk memberiku waktu sedikit lagi.
“Sebentar lagiiii. Please..!” 
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Dengan nada datar pelayan ini mencoba mengusir secara halus. Tapi, dengan sedikit harapan yang masih tersisa, aku tetap bersikeras untuk bertahan.
“Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…” Rengekku. 
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia udah datang dari tadi.” 
Dan benar apa yang dikatakan pelayan tersebut, kalau memang ayahku datang, dia pasti sudah datang sejak tadi. 
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis.”
Aku menghela nafas panjang dan mengakhiri penantianku yang sia-sia ini. Tapi akan sangat tragis jika aku merayakan ulang tahunku sendiri tanpa ditemani seorang pun. Akhirnya aku putuskan untuk meminta pelayan ini menemaniku meniup lilin. Entah apa yang ada di pikiranku, tapi sekarang aku merasa hanya dia yang aku punya. Seorang pelayan restoran yang bahkan aku tidak tahu namanya. 
“Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.” Pintaku.
Entah dia terkejut apa tidak mendengar permintaanku, tapi ekspresinya sangat datar.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
Itulah kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya.”
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya dia pun setuju untuk menemaniku marayakan ulang tahunku. Sebelumnya aku tak pernah berpikir akan merayakan ulang tahunku bersama seorang pelayan restoran yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi aku cukup bahagia, setidaknya masih ada orang yang peduli padaku. 
 “Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.” Ucapku usai aku meniup lilin.
Dia mengangguk dan hanya tersenyum.
“Namaku Anggie.”
Aku pun mulai memperkenalkan diri, tapi entah kenapa pelayan itu hanya tersenyum lalu pergi. Sebelumnya dia sangat cerewet berusaha mengusirku pergi, tapi sekarang dia tak bicara sedikit pun bahkan untuk memperkenalkan diri, dan hanya tersenyum. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia menganggap aku gadis gila yang menyedihkan. Entahlah, tapi aku akui senyumnya sangat manis, dengan lesum pipit dan giginya yang rapi. Bagaimana mungkin dia hanya seorang pelayan restoran. Bahkan dia lebih tampan dari seorang model majalah atau anggota boyband. Aku tertawa sendiri dalam hati membayangkan wajah pelayan itu sepulang dari restoran. Hingga saat aku mulai terbaring di tempat tidurku, senyum pelayan itu terus melintas di otakku. Apa yang sedang aku pikirkan, apa aku mulai gila karena tidak diperhatikan oleh ayahku, atau aku sedang terkena virus cinta pada pandangan pertama. Oh Tuhan bagaimana ini bisa terjadi pada seorang Anggie.
----------
Malam itu seorang gadis berambut panjang sebahu dengan gaun berwarna putihnya sedang duduk gelisah menatap kue tart dengan lilin dihadapannya. Dia adalah tamu VIP di restoran tempat Mario bekerja. Wajahnya terlihat tidak asing bagi Mario. Beberapa kali Mario melihatnya di kampus. Dia adalah gadis yang sangat popular di kalangan mahasiswa di kampus tempatnya kuliah. Bukan karena wajahnya yang cantik, bukan juga karena dia adalah salah satu aktivis mahasiswa yang sangat lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa terhadap birokrasi kampus, tapi karena dia adalah putri dari seorang tokoh terkenal di negeri ini. Ayahnya seorang  politikus terkenal. pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dan ketua umum sebuah partai besar yang sekarang sedang mendominasi kursi di pemerintahan. Dan sekarang Mario heran, apa yang dilakukan gadis popular itu dengan kue tart dihadapannya. Wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang menyimpan begitu banyak kepedihan dan kekecewaan. Sudah berulang kali pelayan mengampirinya, tapi dia tidak memesan apa-apa. Dia hanya duduk terdiam dan berulang kali melihat jam ditangannya, terlihat dia sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sudah hampir tiga jam dia seperti itu, berapa lama lagi dia akan menunggu. 
“Sampai kapan kamu di sini?” 
Gadis yang sedari tadi hanya tertegun melihat kue tart itu tak menyadai kedatangan Mario. Dia pun melihat ke arah Mario, orang asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Aku lagi nunggu orang.”  Jawab gadis yang bersuara lembut ini.
 Tepat seperti dugaan Mario sebelumnya dia sedang menunggu seseorang. Dari kue tart yang ada di meja, Mario berpikir gadis ini sedang berulang tahun, dan dia sedang menunggu kekasihnya. Mario tidak habis pikir bagaimana bisa gadis ini menunggu kekasihnya hingga seperti ini.
“Tapi sebentar lagi restorannya tutup.” 
“Sebentar lagiiii. Please..!” 
Mario merasa kasian melihat kebodohan gadis ini.
“Sudah 3 jam kamu disini. Aku pikir orang yang kamu tunggu nggak akan datang.”
Mario mencoba untuk membuat gadis ini berhenti menunggu, karena itu hanya akan sia-sia. 
 “Aku yakin dia datang. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi. Yaahhhh…” 
Tapi sepertinya gadis ini cukup keras kepala, dia terus merengek agar Mario memberikan  dia waktu lagi.
“Coba kamu lihat jam! 9 menit 23 detik lagi hari ini selesai. Kalo orang yang kamu tunggu itu niat datang, pasti dia dah datang dari tadi.” 
“Mending sekarang kamu tiup terus pulang. Sebelum waktunya habis” Imbuh Mario.
Dan akhirnya Mario berhasil meyakinkannya untuk berhenti menunggu. Dia menghela nafas panjang, lalu tersenyum melihat Mario.
 “Oke. Aku akan tiup. Tapi kamu temenin aku ya.” 
Mario agak terkejut mendengar permintaan gadis itu. Bagaimana bisa dia meminta Mario untuk menemaninya meniup lilin ulang tahunnya.
 “Apa kamu serius mau ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
“Iya. Aku nggak mau ngerayain ulang tahunku sendirian. Aku mohon kamu mau ya. Pless!” 
Melihat ekspresinya yang tulus, Mario tidak sampai hati untuk menolaknya. Dia pasti sangat kesepian dan kecewa hingga meminta seorang pelayan yang tidak dia kenal seperti Mario untuk menemaninya di hari ulang tahunnya. 
“ Ehm, makasih ya udah mau nemenin aku.”
Mario hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian dia mengulurkan tangannya sembari mengenalkan namanya.
“Namaku Anggie.” 
Mario tersenyum datar melihat dia mengenalkan diri. Dia tidak tahu, jika Mario sudah tahu siapa dia sebelumnya. Mario meninggalkan dia dengan sebuah senyuman, dan perasaan penasarannya tentang sosok pelayan restoran ini. “Cukup sampai di sini untuk hari ini, Anggie. Masih banyak waktu untuk kita berkenalan.” 
----------  
Setelah malam itu keduanya pun berpisah. Dengan kesan pertama mereka masing-masing. Dan setelah malam itu, yang pasti akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Tapi, apakah takdir atau nasib yang mempertemukan mereka kembali? 
*** 
Di pagi yang cerah, dari sela-sela tirai jendela kamar Anggie, sinar mentari mulai masuk menerpa wajah Anggie, dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing karena semalam dia tidur sangat larut. Tapi tiba-tiba Anggie teringat kejadian malam sebelumnya, ketika dia merayakan ulang tahunnya bersama pelayan restoran yang tidak dia kenal.  Wajahnya yang tampan dan hangat membuat Anggie tak berhenti mengingatnya. Hal itu membuat dia terus tersenyum, seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari perutnya. Sehingga dia lupa dengan kekecewaannya terhadap ayahnya. 
----------
Sejak semalam entah kenapa wajah pelayan restoran itu terus melekat dalam pikiranku. Bahkan di saat aku bangun tidur sekarang ini, dia terus tersenyum padaku. Bukankah senyumnya itu adalah senyum seorang antagonis, yang hanya menyunggingkan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang yang mempunyai senyum seperti itu, di dunia nyata. Biasanya aku hanya meihat senyum itu di sinetron-sinetron atau film drama. Senyum datar yang yang tak bisa ditebak artinya. Dingin dan tidak bersahabat. Tapi kenapa karena senyumnya itulah aku tak bisa melupakannya. Untuk beberapa saat aku masih disibukkan dengan bayangan pelayan itu, sampai aku melihat sebuah kotak berwarna merah yang di atasnya terdapat sebuah surat. Segera aku buka surat itu, dan ternyata ayahku lah yang menulis surat itu.
Dear my Anggel
Happy birthday my Angel. Maaf papa tidak bisa datang semalam. Papa ingin sekali datang, tapi ada urusan yang harus papa selesaikan. Cium sayang papa untuk putri papa tersayang. God bless you, my Angel.
Papa
Aku merasa sangat bahagia, membaca surat dari ayahku. Mataku pun mulai berkaca-kaca menahan haru. Apalagi setelah aku tahu isi kotak itu adalah sebuah kalung berbentuk bintang, air mataku pun tak kuasa lagi ku bendung. Aku merasa bahagia karena ternyata ayahku masih peduli dan perhatian kepadaku. Masih belum selesai ku nikmati keharuanku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku, lalu seorang wanita setengah baya pun muncul dari balik pintu. Dia adalah bibi, wanita yang mengurusi semua pekerjaan dan keperluan di rumahku. Sejak ibuku meninggal bibi juga lah yang mengurus semua kebutuhan dan keperluanku.
 “Nona, anda sudah bangun?” 
“Bibi?” Sapaku dengan senyum.
Kemudian bibi pun masuk.
“Nona, ditunggu Tuan sarapan dibawah.” Tutur bibi sembari membuka tirai-tirai jendela kamarku. Aku terkejut mendengar ucapan yang di sampaikan bibi, karena tak biasanya ayahnya belum berangkat ke kantor, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8.
“Papa belum berangkat ke kantor?” 
“Belum. Tuan sedang sarapan sekarang.”
Aku pun segera bergegas menuju ruang makan, untuk menemui ayahku. Dan benar, ku lihat ayah sedang duduk di meja makan sedang membaca koran. Dan ternyata ayah menyadari kehadiranku. 
“Kamu sudah bangun?” Sapa ayah.
“Duduklah, temani papa sarapan.” Tambah ayahku memerintah.
Tanpa berkata apa-apa aku memeluknya dari belakang. Rindu, ituah yang aku rasakan sekarang. Meski pun kami tinggal dalam satu rumah yang sama, kami jarang bertemu. Apa lagi untuk sekedar berbincang dan makan bersama. Ayahku selalu berngkat ke kantor sebelum aku bangun tidur dan pulang saat aku sudah tidur. Dan saat akhir pekan, aku hanya bisa melihat dia duduk di ruang kerjanya, dengan setumpuk pekerjaannya. Hampir tak ada waktu kami untuk saling melepas rindu seperti saat ayah belum terjun ke dunia politik seperti 10 tahun terakhir ini. Dan terakhir kami bertemu adalah satu minggu yang lalu, saat ayah menyampaikan rencananya untuk menikahi wanita yang sedang dekat dengannya dua tahun terakhir ini, yang bernama Jenahara.
“Makasih, Pa.” Bisikku saat memeluknya erat.
”Anggie sayang banget sama papa.” Imbuhku.
“Papa juga.” Jawab ayahku.
Lalu aku pun duduk menemani ayahku sarapan.
“Oya, apa kamu mau membuat pesta untuk merayakan ulang tahunmu, Sayang?” Tanya ayahku sembari mengiris sandwich yang ada dipiringnya.
Mendengar tawaran ayahku, Aku pun berpikir sejenak.
 “Kalau Anggie butuh sesuatu untuk bikin pesta hubungi sekertaris papa ya.” Kata ayahku, sembari mengelap mulutnya dengan kain serbet. Aku hanya mengangguk menjawabnya.
“Papa berangkat dulu. Hati-hati di rumah.” Pamit ayahku, sembari mencium keningku, lalu berangkat. 
Aku diam terpaku melihat ayahku pergi. Baru saja aku ingin merayakan ulang tahunku bersamanya yang sempat tertunda ayah sudah meninggalkanku dan memulai rutinitasnya lagi. Kecewa pasti, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah. Meski pun aku sudah biasa di perlakukan seperti ini, tapi air mataku tak pernah habis ku teteskan. Kemudian bibi datang menghampiriku. Dan aku pun segera menghapus air mataku. Melihat makanan dan segelas susu di hadapanku masih utuh bibi pun cemas.
“Nona, mau bibi buatkan sarapan lain?” Aku hanya menggelengkan kepalaku, meski pun sejak semalam tak ada secuil makanan yang masuk ke perutku tapi tak ada sedikit pun rasa lapar. Hatiku hancur, jangankan untuk menelan makanan, untuk bicara saja mulut ini sangat sulit. Lalu bibi kembali menawarkan kopi, yang tak pernah absen setiap pagi aku pesan dari bibi.
“Atau nona mau  saya buatkan kopi?” 
 “Enggak, makasih bi. Aku mau tidur aja. Tolong jangan ganggu aku.”
Aku pun kembali ke kamarku, meninggalkan bibi dengan perasaan cemasnya terhadapkku. Ku baringkan tubuhku di atas tempat tidurku, dan  mulai meratapi kekecewaanku. Air mataku pun  mulai jatuh setetes demi setetes, hingga akhirnya mengalir sangat deras tak berhenti sampai aku tertidur.
*** 
Pertemuan antara dua orang manusia, bisa disebut itu sebuah kebetulan. Tapi apakah kebetulan itu sebuah takdir atau nasib manusia? Sehari setelah hari ulang tahunnya, Anggie merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya di sebuah cafe. Tak banyak memang yang diundang, hanya beberapa teman dekat dan teman kampusnya, kira-kira sekitar 40 orang. Semua nampak akrab, dan membaur dalam perbincangan, tapi siapa sangka si pemilik pesta sedang berpura-pura. Senyum, tawa, dan keceriaan itu hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kegundahan dan kegalauan hatinya, karena hal yang ingin di lakukan saat ini adalah bisa bersama ayahnya. Tapi, rasanya akan sulit untuk bisa mewujudkannya. Makanan yang sedari tadi hanya dibiarkan dingin, dan minuman yang hanya dipegangnya membuat dia semakin bosan. Sampai pandangannya terfokus pada seseorang yang sedang memainkan piano beraliran klasik, disudut cafe. Seseorang pria berkemeja hitam, dan berwajah sangat menarik itu, terasa sangat familiar bagi Anggie. Anggie sangat ingat siapa dia, karena kejadiannya belum lama terjadi. Dia adalah pelayang restoran yang menemani Anggie merayakan ulang tahunnya. Seketika suasana hatinya yang semula sedih galau, berubah menjadi  cerah. Tak berpikir panjang Anggie pun segera menghampiri pria di sudut cafĂ© itu itu.
“Hallo apa kabar?” Sapa Anggie. 
Pria itu pun menghentikan permainan pianonya.
“Apa kamu ingat aku?” Tanyaku memastikan.
Ekspresinya yang misterius itu pun muncul lagi. Tak ada jawaban darinya, dan itu membuat Anggie ragu apakah pria di depannya ini masih mengingatnya. Anggie pun mulai menceritakan peristiwa yang terjadi kamarin malam di restoran tempat dia kerja.
"Apa kamu ingat ada seorang gadis yang datang ke restoran, dan memintamu menemaninya merayakan ulang tahunnya? Aku gadis itu, Anggie. Kamu inget kan?” 
 “Iya, aku inget.” Jawabnya singkat.
Anggie merasa lega, karena pria di depannya ini masih mengingatnya.
“Syukurlah. Aku takut kamu nggak inget sama aku.”
“Lalu?” Tanyanya dengan wajah heran.
“Apa?” 
Dan Anggie pun tiba-tiba terjebak dalam situasi yang canggung.
“Memang kenapa kalau ingat? Apa kamu butuh bantuan lagi?”
Anggie menyadari bahwa ternyata pria ini terganggu dengan kehadirannya. Tak ingin membuatnya semakin merasa malu lagi, Anggie pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Tidak ada. Aku cuma mau menyapamu. Ya sudah, kamu lanjutin aja mainnya. Aku mau gabung sama teman-temenku lagi. Sampai jumpa.”
 Anggie kembali bergabung dengan teman-temannya, sedangkan pria itu melanjutkan permainan pianonya. Sekitar 7 lagu dia mainkan, kemudian dia pun turun dan digantikan permainan sebuah band beraliran Jazz. Anggie sedikit kecewa dengan perlakuan yang baru saja dia dapatkan dari seorang pria yang notabennya adalah seorang pelayan restoran. Beberapa waktu di antara orang-orang yang tak membuatnya nyaman, Anggie mulai bosan, dia pun pergi ke toilet untuk merapikan dandanannya yang mulai berantakan. Tapi tanpa dia duga, Anggie melihat pria pelayan itu berjalan ke arah pintu keluar. Rasa penasaran Anggie pun mendorongnya untuk mengikuti ke mana arah pria itu pergi. Anggie terus berjalan mengikuti pria itu dari belakang. Entah sudah berapa lama mereka berjalan. Tapi ketika sampai di tikungan tiba-tiba pria itu menghilang.  Anggie berputar menyebarkan pandangannya ke semua sudut untuk mencari keberadaan pria pelayan itu. 
“Ke mana menghilangnya dia, apakah dia masuk ke salah satu gedung ini? tapi kayaknya nggak mungkin. Buat apa dia masuk ke gedung tua yang kayaknya udah nggak pernah di buka.” Pikir Anggie.
 Tiba-tiba sesosok suara muncul dari belakangnya, dan membuat Anggie terkejut setengah mati. Dan ternyata suara itu adalah milik pria pelayan restoran itu yang sedari tadi  telah menyadari bahwa Anggie telah mengikutinya sejak dari cafĂ©.
 “Kenapa kamu ngikutin aku?” Tanya pria itu dengan nada ketus, tapi tetap dengan espresi wajahnya yang polos.
“Eee…a~ku, Cuma pingin kenalan aja.” Jawab Anggie gugup.
“Kenalan?” Tanyanya heran.
“Emmhh, maksud aku, aku cuma pingin tahu namamu. Tempo hari kamu belum kasih tahu siapa namamu kan?” Jawab Anggie malu-malu.
Pria itu pun tersenyum melihat Anggie, entah apa yang di pikirkannya sekarang terhadap situasi malam itu. Lalu sejenak dia terdiam dan menatap lekat-lekat mata Anggie, yang membuat jantung Anggie berdegub sangat kencang.
“Namaku Mario.” Ucapnya singkat.
Anggie terkejut pelayan itu memperkenalkan diri.
“Apa kamu mau minum kopi?” Ajak pria yang mengaku bernama Mario itu.
Tapi Anggie masih saja belum sadar dan sibuk dengan kekagumannya. Hingga akhirnya pria yang bernama Mario ini menggenggam tangannya dan membawanya berjalan mengikutinya. Mereka pun akhirnya duduk di sebuah taman dan meminum kopi kaleng yang mereka beli di mini market yang lokasinya tak jauh dari taman. Untuk beberapa menit awal mereka hanya terdiam, tanpa suara. Pandangan Mario lurus menatap langit-langit yang kebetulan tak berawan. Sedangkan Anggie malah sibuk memperhatikan wajah Mario dengan sangat serius. Mario lama-lama menyadari jika sedari tadi Anggie terus  memperhatikannya.
“Apa aku ganteng banget sampai kamu ngeliatin aku seperti itu?” Ledek Mario. 
Anggie pun segera memalingkan wajahnya dari tatapan Mario. Wajahnya memerah, karena malu tertangkap basah oleh Mario sedang memperhatikannya.
“Emh..” Jawab Anggie sambil menganggukkan kepalanya.
Dan tanpa sadar semua hal yang melintas di otaknya pun keluar dari mulutnya. 
“Kamu ganteng banged.” Mario tertawa kecil mendengar pujian Anggie yang tedengar tulus itu.
” Apa kamu sekarang sedang gombalin aku?” Gurau Mario.
Anggie pun hanya diam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menyadari kekonyolan yang baru saja dia lakukan.
“Oke, aku anggap itu pujian kalo gitu.” 
Dan akhirnya mereka pun saling bertatapan  dan tertawa.
“Apa kamu kerja di sini juga?” Tanya Anggie penasaran.
Mario menganggukkan kepalanya. 
“Dari jam 12  sampai jam 8 malam aku kerja di restoran. Kalo hari selasa, kamis, sabtu habis dari restoran aku  main piano dicafe sampai selesai.” Jelas Mario.
“Tapi bukannya jam segini kemaren kamu di restoran?” Sela Anggie.
“Karena kemarin ada pelanggan yang menyewa restoran kami untung ngerayain ulang tahunnya.”
Dengan nada menyindir Mario sepertinya berhasil membuat Anggie sadar siapa yang dia maksud dalam kalimat Mario. 
 “Apa kamu nggak nanya, siapa sebenarnya yang aku tungguin?” Tanya Anggie penasaran.
Tapi tidak dengan jawaban Mario yang nampak cuek.
“Aku bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain.” 
“Aku cuma nggak mau, kamu mikir aku lagi nunggu pacar atau seorang cowok aja.” Mario malah tersenyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kenapa kamu nggak mau aku berpikiran seperti itu?” Tanya Mario.
“Karena aku takut kamu mikir aku udah punya pacar.”  
 “Memangnya apa yang membuatmu takut aku berpikir kamu punya pacar? Apa kamu menyukaiku?”
Akhirnya mereka pun  terlibat dalam perbincangan yang makin serius.
”Belum. Tapi sepertinya tidak lama lagi aku akan menyukaimu. Jadi sebelum aku tahu, apakah aku benar-benar menyukaimu atau tidak, aku ingin memastikan jika kamu nggak berpikir aku sudah punya pacar.”
“Apa yang kamu lakukan jika kamu ternyata benar-benar menyukaiku?” 
Pada pertanyaan Mario inilah Anggie agak kesulitan menjawabnya. Tapi perasaannya mulai memaksanya untuk menyatakan apa yang sedang Anggie rasakan. Dan akhirnya Anggie  pun menyatakannya.
“Aku akan memintamu jadi pacarku.”
“Bagaimana kalo aku tidak mau?”
“Aku akan mengikutimu terus sampai kamu mau sama aku.”
“Lalu, bagaimana jika ternyata kamu nggak suka sama aku?”
Anggie kembali terdiam sejenak mendengar pertanyaan Mario, lalu kembali dengan jawabannya yang meyakinkan.
“Itu tidak akan mungkin.”
“Kenapa?” 
“Karena sepertinya detik ini aku sudah jatuh cinta padamu.”
Mario terkejut mendengar pernyataan Anggie. Entah dari mana kata-kata itu  Anggie peroleh. Karena Anggie bukan tipe wanita yang gampang mengutarakan perasaannya dan ini adalah pertama kalinya dia mencoba untuk membuat suatu hubungan dengan seorang laki-laki, setelah 3 tahun lalu. Ada kekuatan yang begitu besar  yang mendorongnya untuk mengatakan bahwa dia memang jatuh cinta pada pria yang ada di hadapannya ini.
“Apa kamu percaya sama takdir?” Tanya Anggie.
“Memangnya kenapa?” Tanya Mario balik.
 “Menurutmu apakah pertemuan kita sebelumnya itu suatu kebetulan atau memang sudah takdir?”
“Di dunia ini tak ada yang kebetulan. “
“Berarti itu takdir?”
Anggie memalingkan wajahnya menghadap Mario.
“Tidak juga. Aku hanya percaya sama nasib. Apa yang akan terjadi sama manusia itu tergantung usaha manusia. Jadi nasib pun akan berubah.”
“Lalu pertemuan kita kedua kalinya ini namanya apa? Nasib seseorang?”
“Dari pada membahas nasib atau takdir, kenapa kamu tidak membahas kenapa kamu menyukaiku?” 
Dengan wajah yang berseri-seri, Anggie mulai merangkai kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Mario. Dengan harapan agar Mario bisa mengerti perasaan Anggie.
“Kamu itu seperti matahari, yang membuat bulan bersinar dengan indahnya. Saat purnama bulan nampak cantik, padahal sebenarnya dia hanya batu di angkasa yang tidak bisa bersinar jika tidak ada matahari.” Jelas Anggie sambil memandang langit lekat-lekat. 
“Jika aku matahari, apa bulan itu kamu?” Tanya Mario sambil melihatnya dengan serius.
“Hemm…seperti itulah” Angguk Anggie.
“Jadi aku bakal tergantung sama kamu.” Imbuhnya sembari tersenyum.
Mario terus memandang Anggie dengan wajah kebingungan dan berbagai pertanyaan tentang tingkah gadis yang ada di hadapannnya ini.. 
“Apa kamu tahu siapa aku?” 
“Kenapa kamu bisa suka sama aku, padahal kamu belum tahu siapa aku?” Imbuh Mario dengan wajah yang serius saat mengatakannya. Mario pun melanjutkan kalimatnya, dengan ekspresi wajahnya yang datar.
“Bagaimana jika aku orang jahat yang cuma mau bohongin kamu? Matahari itu panas dan bisa menghancurkan apa saja di dekatnya.”
Anggie sedikit heran dengan apa yang Mario bicarakan.
“Biarpun matahari panas, tapi asalkan matahari dan bulan tetap berorbit pada lintasannya, semua akan baik-baik saja. Meski pun  aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Bagiku, kamu adalah matahari dalam kehidupanku. Jadi ijinkan aku akan mencari tahu orang seperti apa kamu, bagaimana perkerjaanmu, dan siapa orang tuamu.” 
Mario hanya terdiam mendengar ucapan Anggie, sembari menatap lekat-lekat mata Anggie yang penuh ketulusan. Apakah memang cinta tulus itu ada? Cinta yang membutakan semuanya. 
----------- 
Anggie benar-benar tulus menyukai Mario, entah suka yang seperti apa. Apakah suka karena cinta atau hanya suatu kebutuhan. Tapi, yang penting bagi Anggie Mario selalu ada di dekatnya, karena tak ada yang dia butuhkan saat ini selain Mario. Sepulang dari pertemuannya dengan Mario, Anggie pun terus tersenyum membayangkan wajah Mario. Dia terlihat sangat bahagia, dan dimabuk kepaya. Sementara Mario masih disibukkan dengan pertanyaan di kepalanya tentang sikap Anggie.
Sepanjang jalan dari pertemuannya dengan Mario, Anggie terus tersenyum. Sesekali dia  menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena malu kepada dirinya sendiri. Sikapnya yang aneh membuat sopirnya heran. 
“Nona, apa anda baik-baik saja?” Tanya sopir Anggie pak Min.
Anggie kaget, merasa sikapnya yang memalukan diketahui oleh pak Min, dia pun berpura-pura tenang.
“Enggak ada apa-apa pak. Pak Min konsen nyetir aja.” 
Anggie pun menahan gejolak hatinya yang terus menggebu dan makin tak karuan. Dan di dalam kamar, Anggie melakukan kebiasaannya melihat bintang dari balkon kamarnya dan bicara seolah bintang di langit itu adalah ibunya yang sudah meninggal. Dia sering melakukannya ketika dia sedang banyak masalah atau sedang rindu pada ibunya.
“Mama, hari ini aku bertemu dengannya lagi, Mario. Dia adalah pria terbaik yang pernah aku temui, dia juga tampan. Dan tadi aku udah menyatakan cinta padanya, Ma. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?”  
*** 
Cinta adalah sebuah perubahan dalam kehidupan manusia, yang membuat hal yang biasa menjadi luar biasa, membuat hal yang tak terbiasa, menjadi lebih terbiasa. Cinta juga suatu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, dari yang negatif menjadi positif, dari yang positif bisa menjadi negative. Bahkan cinta bisa memutar balikkan logika, dan membuat mata, dan hati kita menjadi buta. 
Anggie sedang minum kopi dikantin, bersama Mona sahabatnya.
“Nggie…” 
“Hemm..” Jawab Anggie cuek, sembari terus menyeruput secangkir kopi hangat.
“Dari mana lo kenal sama Mario?” 
Seketika Anggie terkejut bagaimana Mona mengenal Mario. Anggie mengerutkan dahinya.
“Pria yang lo samperin di cafe semalem?” Jelas Mona.
“Kamu kenal sama Mario juga?” Heran Anggie.
“Gimana gw nggak kenal, dia kan konsultan skripsi gw.” Jelas Mona meyakinkan.
“Jadi Mario yang lo certain tempo hari itu, orang yang sama dengan Mario yang aku temuin semalem?” Tanya Anggie meyakinkan.
Mona hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Anggie. Anggie terkejut mendengar pernyataan-pertanyaan Mona. Dia bingung, lelucon apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Bagaimana dia tak tahu kalau Mario satu kampus dengannya. Berbagai pertanyaan pun muncul. Apakah Mario tidak tahu siapa Anggie, atau memang dia sudah sejak awal tahu siapa Anggie. Apa Mario adalah salah satu dari jutaan pria yang ingin memanfaatkan Anggie. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, siapa yang harus dia percaya. Apakah ketakutan dalam pikirannya atau hatinya yang sedang jatuh cinta? Dia terus saja berpikir, sampai langkah kakinya membawa dia berjalan menuju Mario berada. Dari jauh dia meihat Mario sedang duduk bersama seorang temannya di taman. Dia belum siap menemui Mario, karena dia masih belum menemukan jawaban dari kegundahannya. Untuk beberapa saat dia hanya melihat Mario dari jauh, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghampirinya. Mario nampak sedang menjelaskan beberapa materi pada pria di hadapannya.
“ Banyak banget sih pekerjaanmu.” Sela Anggie.
Mario nampak terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, yang ternyata adalah Anggie. Seperti biasa Mario hanya tersenyum datar dengan tenang.
“Untuk sementara sampai di sini dulu. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Mario pada pria di depannya tersebut. Pria itu pun setuju, lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario pada Anggie.
“Cukup lama, hingga aku puas melihatmu.” 
Mario hanya tersenyum mendengar gurauan Anggie.
“Kemarilah. Duduklah di sini!” Ajak Mario, mempersilahkan Anggie duduk di sampingnya. 
Anggie pun duduk di samping Mario. Untuk beberapa saat mereka hanya terjebak dalam kecanggungan, sampai akhirnya Anggie memecah keheningan.
“Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” Mario hanya menggeleng.
“Apa kamu sudah tahu sejak awal kalo aku kuliah di kampus yang sama denganmu?” Tanya Mario penasaran.
Anggie menggelengkan kepalanya, lalu dengan wajahnya yang terus tersenyum dia nampak sangat tenang. Begitu juga dengan Mario yang tetap tenang, seperti tidak sedang tertangkap basah. 
“Aku baru tahu beberapa saat yang lalu. Kamu tahu Mona? Salah satu mahasiswa bimbingan skripsimu.” 
“Hemm…mahasiswa hubungan international semester akhir, judul TA nya Solusi Memburuknya Hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia .” 
“Benar. Dia adalah temanku.” Jawab Anggie ringan.
“Apa kamu nggak mau tanya apa aku kenal kamu sejak awal?” Tanya Mario menawarkan.
“Jika aku tanya, apa yang akan kamu jawab?” 
Mario tak langsung menjawabnya, untuk beberapa detik dia terlihat sedang berpikir.
“Anggie mahasiswa hubungan international, putri dari politisi terkenal, dan aktivis mahasiswa yang penuh semangat, yang selalu menyerukan suara mahasiswa tentang ketidakadilan, aku sama sekali tidak tertarik. Tapi seorang gadis yang kesepian, sendiri dalam kedinginan, yang bahkan tak sanggup menangis, dan menyembunyikan semua itu di balik senyumnya. Aku selalu merasa ingin disampingnya, menjaganya, dan menghangatkannya dalam kedinginan, juga mewarnai kehidupannya yang penuh dengan keabu-abuan.”
Mendengar penjelasan Mario, Anggie semakin yakin tentang perasaannya terhadap Mario yang sempat ragu.
“Lalu sekarang, apa yang kamu pikirkan tentangku?” Tanya Mario menambahkan.
“Apa penilaianku tentangmu penting untukmu?” 
“Terserah kamu kalau kamu nggak mau jawab.”
“Penilaianku tentangmu saat kamu menemaniku meniup lilin di malam pergantian tahunku, dengan penilaianku tentangmu detik ini tetap sama. Kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Bahkan jika benar kamu hanya memanfaatkanku sekalipun aku nggak akan keberatan. Aku sayang sama kamu, sebagai Mario si pelayan, pengiring musik cafĂ©, ataupun mahasiswa hukum.”
Mario tersenyum mendengar pengakuan Anggie, dia pun segera menarik Anggie ke dalam pelukkannya dengan lembut. Dan Anggie pun leleh dalam pelukkan Mario yang penuh kehangatan. tak pernah dia merasa senyaman ini dalam pelukan seorang pria. Setelah melepaskan pelukan hangatnya terhadap Anggie, Mario pun menggenggam erat jemari tangan Anggie sambil sesekali mengecupnya.
“Baru saja aku dapat bonus, karena salah satu mahasiswaku lulus pendadaran. Bagaimana kalau sekarang aku traktir kamu makan?” Ajak Mario.
“Apa baru saja kamu ngajak aku kencan?” Goda Anggie.
“Bisa dibilang begitu. Apa kamu bersedia kencan denganku?”
Anggie tersenyum geli melihat tingkah kekasih yang baru dimilikinya  kurang dari 24 jam itu. Mario pun membonceng Anggie dengan motor gedenya yang berwarna merah dan membawanya menuju restoran mewah di daerah kebayoran lama. Mario membantu Anggie membukakan helm di kepalanya.
“Rambutmu jadi berantakan.” Kata Mario sambil merapikan rambut Anggie yang teruari panjang.
“Nggak papa.” Jawab Anggie sembari tersenyum.
“Rokmu juga jadi kusut. Ini pasti pertama kalinya kamu naik motor ya?”
Anggie menggelengkan kepalanya.
“Dulu waktu kecil papaku juga sering boncengin aku naik motor kok.”
“ Benarkah? Ya sudah ayo kita masuk.”
Mereka pun masuk ke dalam restoran dan duduk selayaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Memesan dua porsi main course, desert, juga champagne.
“Lain kali kamu nggak perlu traktir aku di tempat semahal ini.” Mario terseyum mendengar pernyataan Anggie.
“Kamu tenang aja, uangku nggak akan habis buat traktir kamu malam ini. Bonusku lumayan banyak.” Canda Mario.
“Hemm….baiklah. Lain kali aku akan minta traktir lagi.” Goda Anggie.
Mereka pun tertawa. Terlihat wajah keduanya sangat bahagia. Aura cinta tergambar jelas dari wajah Anggie. Tapi tiba-tiba suara handphone Mario berbunyi, dan dia pun segera mengangkatnya.
“Hallo,..mama?....apa Nino sakit? Ya udah mama tenang, aku segera ke sana.”
Terlihat raut penuh kecemasan di wajah Mario saat menjawab telephone tersebut.
“Ada apa?” Tanya Anggie penasaran.
“Nggie, aku minta ma’af, aku harus segera pergi. Adikku masuk rumah sakit. Kamu nggak papa kan pulang sendiri?”
“Nggak papa, kamu pergi aja, aku bisa pulang sendiri kok.” 
“Hemm..makasih ya. Secepatnya aku akan kabari kamu.” 
Belum sempat Anggie mengucapkan salam perpisahan Mario sudah berlari meninggalkannya. 
“Hati-hati.” Ucap Anggie lirih mengiringi kepergian Mario yang tergesa-gesa.
Anggie menghela nafas panjang, dia ikut cemas dengan keadaan adiknya juga Mario yang tergesa-gesa pergi. Anggie pun pulang dengan taxi, dan sepanjang perjalanan dia hanya diam melamun. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk kamar dan tertegun melihat handphonenya yang tak kunjung berdering. Anggie menunggu kabar dari Mario. Setelah hampir satu jam dia menunggu akhirnya handphonenya berbunyi. Akhirnya Mario menelphonenya.
“Hallo..” Jawab Anggie.
“Hallo, kamu belum tidur ?” Tanya Mario dari seberang telephone.
“Hemm,..aku agak susah tidur.” Jawab Anggie.
“Insomnia lagi?”
“Hemm…Oya, bagaimana adikmu?” Tanya Anggie hati-hati.
“Iyah dia sudah baikan. Dokter memberinya obat tidur, sekarang dia sedang tidur.”
“Syukurlah kalo begitu. Kalau boleh tahu dia sakit apa?”
“Asmanya kambuh.”
“Ohhwww…semoga keadaanya semakin membaik.”
“Iya, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Ya udah kamu istirahat aja. Udah malem, besok kamu ada bimbingan kan?”
“Emmhh, iya. Kamu juga jangan lupa istirahat yah.” 
“Iya, selamat malam.”
“Selamat malam. I love you.”
“I love you too.”
Dan sambungan telephone pun di matikan oleh Mario. Anggie senang bisa mendengar ungkapan cinta Mario, meskipun hanya lewat telephone.
***
Manusia adalah sebuah robot yang dikendalikan oleh perasaan dan pikirannya. Tapi kadang manusia lebih dikendalikan oleh perasaan ketimbang pikirannya, sehingga apa yang kita lakukan tidak memakai logika dan masuk akal. Tak jarang manusia menutup logika mereka tentang suatu kenyataan, hanya karena kenyataan itu menyakitkan. Tak banyak manusia yang menggunakan akal pikirannya untuk memuaskan perasaan yang dikehendakinya. Dan dengan segala akal pikirannya dia berusaha untuk tetap bertahan dalam kehidupannya yang ingin dia tinggalkan.
“Mario…” Panggil seorang wanita setengah baya yang berjalan mendekati Mario yang sedang duduk tertunduk lesu di ruang tunggu rumah sakit.
“Mama…” Begitulah Mario memanggil wanita yang masih terlihat cantik itu.
“Ternyata kamu di sini?” 
“Apa terjadi sesuatu?”  Cemas Mario.
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Mama hanya kuatir sama kamu.” 
“Kuatir ? Kenapa mama kuatir sama Mario?”
“Mama takut kamu kenapa-kenapa. Sejak adikmu masuk rumah sakit sampai hari ini, kamu belum istirahat.”
“Seharusnya mama kuatir pada keadaan Nino, dan mama sendiri. Sebaiknya mama pulang saja. biar aku yang menjaga Nino di sini. Mario baik-baik saja kok. Mama tenang saja.”
“Kamu pasti capek, harus menggantikan papamu menjaga kami, harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menfkahi mama dan adik-adikmu. Belum di tambah dengan situasi seperti ini, Nino yang sakit-sakitan pasti menambahi beban dipikiranmu. Mama nggak tega melihatmu seperti ini.” 
Ibu Mario pun meneteskan air matanya dan Mario pun memeluk ibunya.
“Mama jangan seperti ini, bagi Mario kebahagian Mario adalah bisa terus membuat Mama, Marsya, dan Nino bahagia. Mario akan melakukan apa saja, agar kalian semua bisa terus tersenyum seperti saat papa masih ada. Jadi Mario mohon, Mama jangan pernah beranggapan Mario akan capek melakukan semua ini.”
“Mama bahagia sekali, karena mama punya anak sepertimu sayang.”
Dalam keheningan rumah sakit, Nampak pemandangan hangat antara seorang ibu dan putranya. saling menyayangi, dan saling membutuhkan. Hal semacam itulah yang tak terlihat di rumah Anggie. Kesepian, kegundahan, dan kegelisahan yang hampir setiap malam dia rasakan dari balik tembok istana megahnya. Sesuatu yang terus menggerogoti hatinya, dan menyiksanya sepanjang waktu. Dan hanya karena ketakutannya yang belum tentu terbukti kebenaranya itulah, dia menghancurkan hidupnya sendiri. 
------------
Ini adalah hari ketiga sejak makan malam itu, dan sejak malam itulah tak ada kabar berita dari Mario. Sehari aku masih bisa tenang, dua hari aku mulai bertanya-tanya, hari ketiga aku sudah mulai gelisah dengan berbagai pertanyaan yang ku munculkan sendiri.  Berulang kali ku lihat ponsel, tak satu pun pesan atau telfon itu darinya.
“Apa yang sedang dia lakukan, kenapa dia tak juga memberi kabar? Dengan siapa dia? di mana? Atau dia sedang berusaha menjauh dariku? meninggalkanku?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus timbul dalam pikiranku. Pertanyaan yang timbul karena ketakutanku tentang masa lalu, yang akan terulang lagi. Masa lalu yang sangat menyakitkan, dan tak bisa aku lupakan. Ketakutan yang membuat malam-malamku menjadi sangat berat dan membuatku menjadi ketergantungan akan obat penenang. Menurut dokter aku mengalami bipolar disorder sejenis depresi yang menyebabkan gangguan psikologis.  Semua ini berawal saat kehidupanku dihancurkan oleh seorang pria yang sangat aku cintai tiga tahun yang lalu. Dialah pacar pertamaku, sahabatku, juga kakak lelakiku yang selalu menjagaku, menemaniku dan memperhatikanku. Aku mengenalnya sejak kami masih duduk di bangku SMP. Di masa-masa tersulitku, saat ayahku tak lagi peduli padaku, atau di saat perutku sakit karena datang bulan, dia selalu ada. Karena itulah aku sangat tergantung padanya, dia berjanji akan selalu menjagaku, dan tak akan membiarkanku sedih apalagi menangis. Tapi, kenyataannya tak bisa berjalan seperti itu. Dengan sadisnya dia meninggalkanku di saat aku sedang mencoba merangkai mimpi bersama dengannya. Dia memilih mengejar mimpinya sendiri tanpa aku, dengan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Menurut dia aku hanya akan menjadi pengganggu dalam tujuannya meraih mimpi, jika aku terus berada disampingnya. Seburuk itukah aku dimatanya? Selepas dia pergi, hidupku benar-benar hancur. Aku seperti kehilangan sandaran, dan sangat kesepian. Tak ada lagi harapanku untuk melanjutkan hidupku. Setahun lebih aku menjalani perawatan dan pemulihan mental oleh seorang ahli kejiwaan dan otomatis semua aktifitasku pun berantakan, karena aku hanya mengurung diri di kamar. Hingga setahun terakhir ini, kondisiku mulai membaik dan stabil. Hanya saat stress karena skripsi, aku agak sedikit susah tidur di malam hari, selebihnya tak ada gejala lain yang muncul. Tapi entah kenapa, perasaan ini muncul lagi, trauma di masa lalu yang membuat aku ketakutan hingga hampir mati. Takut jika Mario juga melakukan hal yang sama padaku, meninggalkanku dan menyikiti hatiku lagi. Darahku mulai memanas, tubuhku menggigil gemetaran, jantungku berdetak sangat kencang, dan kepalaku seperti tertimpa batu besar. “Obat, aku butuh obat….” Segera aku beranjak mencari di mana obat penenang itu. Sudah lama aku tidak meminumnya, aku lupa di mana terakhir kali aku meletakkannya. Tapi aku tidak berhasil menemukannya, badanku pun mulai melemah. pikiranku mulai kacau. Aku pun roboh di sudut kamarku sambil terus meronta dan memukul-mukul kepalaku. Tapi tiba-tiba ku dengar ada suara bunyi telephone dari handphoneku. Aku pun segera berlari mengambil handphoneku yang aku letakkan di atas kasur. Seketika mataku terbelalak saat aku baca ternyata panggilan dari Mario. 
“Hallo…?” Terdengar suara Mario yang ku tunggu-tunggu dari sebrang telephone. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Perasaan gelisah, gejala lainnya pun hilang seketika seusai mendengar suara sapa Mario.
“Anggie..?” Seru Mario yang tak mendapat jawaban dariku. 
“Iyah…” Jawabku lirih
“Aku pikir kamu sudah tidur.”
“Emhh, aku belum tidur.”
“Benarkah?”
“Emhh..”
“Apa kamu mau bertemu denganku?”
“Hah?” Aku bingung kenapa Mario bertanya seperti itu.
“Coba kamu liat ke luar jendela.”
Mario memintaku melihat ke luar, tapi aku masih tidak mengerti apa sebenarnya maksud Mario. Sampai aku lihat dari balik jendela kamarku, seseorang sedang berdiri di depan pagar rumahku sambil melambaikan tangannya. Ternyata Mario sedang berada di depan rumahku. Aku pun segera berlari ke luar, dengan segala kekuatanku. Perasaanku yang hampir dibuat gila karena tak ada kabar darinya, akhirnya menemukan penawarnya. Orang yang aku tunggu-tunggu itu sekarang berdiri di hadapanku. Dengan nafas yang terengah-engah tanpa berkata-kata aku langsung memeluknya. Memeluk sangat erat dengan membawa sisa-sisa perasaan takutku. Untuk lima menit pertama kami terus berpelukan tanpa suara. 
“Jangan seperti ini lagi.”
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan.
“Ada apa denganmu…?” Tanya Mario heran.
“Jangan hilang lagi, tak ada kabar…aku takut..aku benar-benar takut.”
Sambil terus menangis. Mario hanya diam, lalu memelukku semakin erat. Situasi itu bertahan hingga hampir tujuh menit. Lalu Mario melepaskan pelukannya, dan memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya sambil menatap mataku lekat-lekat.
“Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
Mendengar kalimat Mario air mataku pun terkumpul lalu jatuh. Mario pun mengecup keningku, lalu mengusap air mataku.
“Aku minta maaf karena membuatmu cemas. Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi. Jangan menangis lagi. yahhh…?!”
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum bertanda aku paham.
“Oya, aku bawakan kamu sesuatu.” Kata Mario sambil mengambil sesuatu dari dalam jaketnya.
“Karena kamu pernah bilang kamu sering insomnia, jadi aku bawakan itu untukmu.”
Ternyata dia memberikan aku sebuah kaset dvd, tapi aku masih bingung apa sebenarnya yang dia maksud.
“Four season, Antonio Vivaldi?” begitulah judul yang tertulis di sampul dvd tersebut.
“lagu instrumental klasik. Sangat manjur untuk pengantar tidur. Aku biasa melakukannya jika susah tidur, selain itu musik-musik itu sangat bagus untuk membuat suasana hati kita menjadi lebih rilaks.”
Aku semakin terharu, dengan sikapnya yang sangat baik padaku. jika memang aku mati, aku ingin mati dalam keadaan yang bahagia seperti ini. Mario apa kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau adalah pria terbaik yang pernah aku temui di dunia ini.
***  
Masa lalu adalah penyakit yang menakutkan bagi beberapa kelompok manusia. Buruknya suatu kenangan, membuat manusia hidup dipenuhi dengan ketakutan, kegelisahan, dan ketidakpercayaan. Tapi setitik cahaya memberi warna kembali dalam kehidupan seorang Anggie. Senyum ramah itu lebih hidup dan bahagia, seiring datangnya Mario dalam kehidupannya. Belum genap satu minggu memang, tapi Anggie sangat bahagia. Bahkan belum pernah dia merasa sesemangat ini menjalani hidup. Tak pernah lagi ada senyum palsu di bibirnya, tak pernah lagi ada gurat kegelisahan di keningnya. Setiap hari dia hanya menunggu saat-saat di mana dia akan bertemu dengan sang pujaan hatinya, Mario.
Seperti hari-hari biasanya, Anggie pergi ke kampus untuk melakukan konsultasi dengan dosen skripsinya. Meskipun Anggie sudah menjalin hubungan dengan seorang konsultan skripsi illegal, tapi dia masih belum menggunakan keahlian Mario untuk mengerjakan tugas akhirnya tersebut. Dia masih berkutat dengan berbagai permasalahan yang timbul dengan dosen pembimbingnya. 
“Manyun betul mukanya mbak…?” Ledek Mona teman Anggie yang sedang duduk disampingnya.
“Hemmm…revisi lagi.” Keluh Anggie.
“Oya..?” Tanya Mona sinis.
Anggie menyadari bahwa sahabat yang ada di depannya ini sedang menatapnya sinis.
“Iya..kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Heran Anggie.
“Ada hubungan apa lo sama Mario?” Tanya Mona blak-blakan.
Anggie tersenyum mendengar sahabatnya sedang penasaran.
“Ada deh..”
“Ihh…kok ada deh. Jawab tau..Lo nggak pacaran sama Mario kan?” Tebak Mona penasaran.
“Emang kenapa kalo aku pacaran sama dia? Nggak boleh?”  Goda Anggie.
“Jadi beneran lo pacaran sama Mario?” Kaget Mona.
Anggie hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ahhhh….beneran? Ihhhh….beruntung banged lo.” Seru Mona histeris.
“Emang kenapa? “
“Kenapa lagi. Cowok yang elo pacarin sekarang itu adalah cowok paling popular di kampus. Cewek yang suka sama dia itu buanyaaakkkk banged. “
“Termasuk kamu?” Ganggu Anggie, Mona hanya menganggukkan kepalanya.
“Tapi gw ihklas. Demi sahabat gw yang jomlo ini, jadi gw bakal relain pangeran impian gw.”
“ Makasih ya…”
“Tapi lo belum cerita, gimana lo bisa jadian sama dia?”
“Iya tar aja. Sekarang kamu mesti bantuin aku dulu.”
“Bantuin apa?”
“Cariin aku alamat Mario. Aku lagi ada urusan sama dia.”
“La lo kan ceweknya, kok nggak tahu.”
“Kita kan baru berapa hari jadian, mana aku tahu dia tingggal di mana.”
“Emhhh…bener juga. Gw juga  nggak tahu dia tinggal di mana.”
“Terus gimana dong?”
Bingung Anggie.
“Ehmm gw ada ide, gimana kalau kita tanya ke temen-temennya aja.”
“Temen?”
Mona menggangguk.
“Gw sih nggak kenal, tapi gw tahu dengan siapa biasanya dia kumpul.”
“Ya udah ayok kita ke sana.” Ajak Anggie memaksa Mona.
“Aduh tapi gw nggak bisa sekarang. Gw ada jadwal konsul.” Keluh Mona.
Anggie pun kecewa mendengar sahabatnya tak bisa mengantarnya. 
“Gini aja, kamu kasih tw aja nama mereka. Biar tar aku cari sendiri aja,” 
“Lo serius mw cari mereka sendiri?” Tanya Mona.
“Iya..”
Akhirnya tanpa pikir panjang Mona pun memberitahu Anggie.
“Gw sih g terlalu tahu nama mereka. Tapi salah satu dari mereka namanya, Miko. Mukanya ancur, rambutnya kribo. Gayanya enggak bangetlah pokoknya.” Jelas Mona dengan mimik muka jijik. Anggie tersenyum melihat ekspresi Mona saat mendeskripsikan sosok pria bernama Miko itu.
“Kayaknya kamu kenal banged sama cowok yang namanya Miko ini.” Ledek Anggie.
“Apa? Kenal. Euuuhhfffttt..  ogah banged.” Elak Mona.
Setelah merasa jelas dengan info yang diberikan Mona, Anggie pun segera menuju ke gedung fakultas Hukum, mencari teman-teman Mario. Beberapa kali dia bertanya kepada orang di sekitarnya, akhirnya dia menemukan seseorang yang menurut sumber bernama Miko. Tepat saat itu orang yang bernama Miko itu tengah duduk-duduk di taman bersama beberapa temannya. Yang tak lain adalah Han, dan Jimmy teman-teman Mario. Mereka memang tak seburuntung Mario yang telah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya.
“Permisi…” Sapa Anggie, di sela-sela perbincangan asyik mereka.
Jimmy, Han, dan Miko yang tak sadar ada seorang gadis datang menghampiri mereka pun segera menghentikan obrolan mereka. Dan mereka pun terkejut ketika mengetahui gadis yang menyapa mereka adalah Anggie, gadis popular di kampus. Anggie yang bingung tak ada respon balik dari ketiga pria dihadapannya itu pun, mengulang kembali salamnya.
“Permisi….”
Dan ketiga pria itu pun segera sadar, ada seorang yang gadis yang menunggu jawaban mereka.
“Iya…ada yang bisa kami bantu?” Tanya Han dengan sigap.
“Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Anggie, jurusan Hubungan International.” Kata Anggie memperkenalkan diri.
“Gw Jimmy.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Oh, saya Han.” Kata Han ikut-ikutan.
 “Gw Miko. “
Mereka pun berebutan untuk berkenalan dengan Anggie.
“Emhh..iya. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Kata Anggie.
“Kita juga seneng banged, bisa kenalan sama cewek secantik Anggie.” Gombal Jimmy.
“Terima kasih.” Anggie tersipu melihat tingkah teman-teman Mario yang aneh-aneh itu.
“Sebenarnya, kedatangan aku ke sini itu mau nanya sesuatu?”Jelas Anggie sungkan.
“Oh, iya tanya aja. Sok silahkeun.” Kata Miko sok sunda.
“Apa kalian kenal Mario?”
Mereka pun semakin bingung, karena yang di cari ternyata pada intinya hanya sosok yang bernama Mario, teman mereka yang paling banyak penggemarnya.
“Iya, ada apa ya lo cari temen kita Mario?” Tanya Han.
“Saya ada perlu sama Mario. Apa kalian tahu di mana alamat Mario?” Tanya Anggie langsung.
“Memangnya lo ada perlu apa, minta alamat Mario?” Kata Miko penasaran.
“Ohhh, gw ngerti. Lo mw pakai jasa Mario buat bikin TA ya?” Tebak Jimmy sok tahu.
Anggie tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
“Enggak bukan soal itu.” Jawab Anggie.
“Ahhh gpp lagi, nggak usah malu. Itu hal yang wajar kok kalo lo mau pakai pembimbing luar buat skripsi lo.” Kata Miko yang semakin sok tahu.
Anggie semakin geli dengan sikap teman-teman Mario yang lucu ini.
“Aduh, kalian kayaknya salah paham deh. Aku nanya alamat Mario nggak ada hubungannya sama konsultasi apalagi skripsi. Aku tanya karena aku mau jenguk adiknya yang lagi sakit. Mau tanya Mario, tapi kayaknya dia lagi repot.”
Ketiga pria dihadapan Anggie itu pun semakin terkejut, bagaimana bisa temannya Mario mengenal Anggie, dan hubungan mereka nampaknya sangat akrab hingga Anggie tahu kondisi adik Mario sedang sakit.
“Bentar-bentar. Lo serius, yang lo maksud itu Mario yang sama dengan Mario sahabat kita?” Ragu Miko.
Anggie mengangguk.”Sepertinya begitu.”
“Bukan Mario anak pejabat, atau Mario anak kedokteran mungkin.” Tambah Jimmy.
Lalu Han pun angkat bicara, dengan menjelek-jelekkan Mario.
“Mario temen kita itu, bukan cowok yang baik, dia itu bandit, bajingan, berengsek, suka main cewek. Lo yakin nyariin dia?” 
Tapi Anggie malah tertawa mendengar teman-temannya Mario menjelek-jelekkan Mario.
“Aku nggak salah kok, Mario yang aku cari itu Mario temen kalian, anak hukum lulusan terbaik tahun ini, dia pacarku.”
Dengan bangga Anggie menjelaskan pada Han. Miko dan Jimmy bahwa Mario adalah pacarnya. Dan ketiga teman Mario itu pun terbelalak kaget, sambil menelan air liurnya. Mereka terkejut, karena tanpa sepengetahuan mereka Mario diam-diam jadian dengan gadis impian mereka. Dalam hati mereka mengumpat Mario, dan berjanji akan memeberi Mario pelajaran karena merahasiakan hubungannya dengan Anggie.
“Bagaimana? Apa kalian bisa kasih aku alamat Mario?” tanya Anggie peanasaran.
“Iya, kita bisa kasih.” Kata Jimmy.
“Kita bertiga bakalan antar lo ke rumah Mario sekarang juga.” Tambah Han.
 “Serius? Apa nggak ngrepotin?” Tanya Anggie sungkan.
“Tentu saja nggak. Kebetulan ada bisnis yang harus kita lakuin sama Mario.”Jawab Miko.
Akhirnya Miko, Han dan Jimmy mengantar Anggie ke rumah Mario dengan mengendarai mobil Han. Sebelumnya mereka mampir di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga Mario. Mereka pun sampai di rumah Mario yang terletak di perkampungan yang cukup kumuh. Rumah bercat putih, yang cukup tua, kecil dan sederhana di situlah Mario, Ibu, dan kedua adiknya tinggal. Bagi seorang gadis dari kalangan atas macam Anggie, mungkin ini adalah pertama kalinya dia masuk ke perkampungan seperti ini. Gang sempit, rumah kecil-kecil yang berdempet-dempetan, jauh dari lingkungan Anggie yang serba mewah dan bagus. Tapi namanya cinta tak pernah mengkotak-kotak di lingkungan seperti apa dia tinggal, dan dari keluarga seperti apa dia dibesarkan. Cinta adalah ketika mata, telinga, hidung dan pikiran tak berfungsi secara normal, semua hal dijalankan dengan indra yang namanya perasaan. Itu kenapa sering dibilang cinta itu buta. 
“Permisi….” Teriak Jimmy mewakili teman-temannya.
Han, Miko, Jimmy dan Anggie berdiri di depan pintu rumah Mario, menunggu seseorang keluar dari dalam rumah. Setelah beberapa saat mereka menunggu, seseorang keluar dari dalam rumah. Dia adalah Marsya, adik  perempuan Mario.
“Hallo….Marsya cantik. Apa kabar?” Goda Jimmy.
Dengan tampang sedikit jutek dia merespon godaan Jimmy yang memang sejak lama menaruh hati pada Marsya.
“Kalian ngapain ke sini? Kak Mario nggak ada di rumah. Dia pergi.” Jelas Marsya.
Keempat orang tersebut pun memasang raut muka kecewa, mendengar Mario tak ada di tempat, terlebih Anggie dia sangat ingin menemui pacarnya yang sudah beberapa hari tak ditemuinya. Han, Miko, dan Jimmy yang menyadari Anggie sedang kecewa pun saling lirik. Marsya yang menyadari di hadapannya ada seorang wanita asing yang baru pertama dia lihat ini pun penasaran siapa gerangan wanita cantik di depannya ini.
“Dia siapa?” Tanya Marsya spontan.
“Oya, kenalkan. Anggie ini adik Mario, Marsya. Marsya kenalin ini kak Anggie pacar kakakmu.” Jelas Han.
Masya terlihat sangat terkejut, karena dia tidak mengetahui bahwa kakaknya ternyata sudah mempunyai seorang kekasih.
“Pacar?” 
“Hallo, Aku Anggie.” Sapa Anggie.
“Hallo juga, aku Marsya.”
“Senang kenalan sama kamu.”
“Saya juga kak. Ya udah ayo masuk, dulu.” Ajak Marsya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Mario, selepas Masrya mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
“Emang kakak lo ke mana,Sya?” Tanya Miko.
“Ke apotik nebus obat Nino.” Jawab Marsya.
“Ma….ada tamu.” Teriak Marsya memanggil mamanya.
Lalu mama Mario pun muncul dari dapur.
“Eh..ada teman-teman Mario.” Sapa mama Mario.
“Apa kabar tante?” Sapa Han, Miko dan Jimmy.
“Baik, kalian ke mana saja? Kok jarang main ke sini?”
“Kami lagi sibuk skripsi tante. Maklum belum lulus.” Kelakar Miko.
Mereka pun tertawa, mendengar gurauan Miko. Lalu pandangan mama Mario tertuju pada sosok asing yang ada di antara teman-teman Mario yang memang sudah akrab dengan keluarga Mario.
“Ini siapa? Kok sepertinya tante belum pernah ketemu sebelumnya?” Tanya mama Mario penasaran.
“Perkenalkan tante, ini Anggie teman kuliah kami. Calon mantu tante.” Jelas Jimmy.
Mama Mario agak terkejut dengan pejelasan Jimmy.
“Apa? Maksudnya? Ini pacar Mario?” Tanya Mama Mario memperjelas.
“Iya ma. Mama juga kaget kan? Kak Mario punya pacar nggak bilang-bilang sama kita.” Keluh Marsya.
“Iya tante, Mario itu emang harus dikasih pelajaran. Dia juga sama sekali nggak cerita sama kita kalo dia punya pacar. Kita juga tahunya baru tadi.” Imbuh Miko.
“Wahhh keterlaluan kakak tu. Padahal punya pacar cantik gini, pakai acara di umpetin ya Ma?” keluh Marsya.
“Nama kamu tadi siapa?” tanya Mama Mario lembut pada Anggie.
“ Perkenalkan saya Anggie, Tante.”
“Ohh..nama yang cantik. Secantik orangnya.” Puji mama Mario.
“Terima kasih tante.” Anggie nampak tersipu malu.
“Ohh..iya, tante kebetulan baru selesai masak. Kalian pasti belum sempat makan siang.bagaimana kalau kita makan bareng.” 
“Asyiikkk..” Seru Han, Jimmy dan Miko.
Mereka semua pun makan siang bersama, sembari ngobrol-ngobrol ringan. 
“Maaf makannya seadanya.” Rendah mama Mario.
“Mau masakannya apa aja, kalo Tante yang masak pasti enak.” Puji Han.
“Han ini bisa saja.” Kata mama Mario malu.
“Beneran tante, iyakan?” Kata Han meyakinkan.
“Bener banged tante. Eh, Anggie…Tante Mia itu, masakannya enak banged. Nggak kalah deh sama koki di rumah lo.” Imbuh Jimmy.
Anggie tersenyum, menanggapi ucapan Jimmy.
“Kalian ini terlalu berlebihan. Tante yakin, Mama Anggie juga pasti masaknya lebih jago. Iyakan sayank?” Elak mama Mario.
Anggie nampak diam mendengar ucapan mama Mario, wajahnya berubah sendu. Ucapan mama Mario membuat dia mengingat mamanya yang telah tiada. Dia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana rasa masakan yang dibuat oleh seorang ibu, karena ibunya meninggal sejak dia masih umur 8 tahun.
“Anggie lupa tante, gimana masakan Mama.”
Marsya dan mamanya bingung dengan sikap Anggie, sementara Han dan yang lain nampak canggung, karena mereka sudah mengetahui situasi Amggie yang sudah tidak memilik seorang ibu.
“Mama Anggie udah meninggal dari Anggie SD tante. Jadi Anggie udah lupa bagaimana rasanya masakan seorang mama.” Jelas Anggie, tetap sembari tersenyum meskipun hatinya sedikit pilu.
Mama Anggie merasa menyesal dengan ucapannya. 
“Ya Tuhan, maafin tante. Tante menyesal telah membuat kamu sedih.”
“Nggak papa tante. Anggie baik-baik saja kok. Tapi meski pun saya lupa masakan mama Anggie seperti apa, tapi Anggie yakin kalau mama masih ada, masakannya pasti kayak gini. Masakan seorang ibu.”
“Sayang…” Mama Mario menggenggam jemari tangan Anggie.
“Kapan saja kalau Anggie pingin makan masakan tante, Anggie datang aja. Nanti tante masakin spesial buat Anggie.” Hibur mama Mario.
“Makasih tante.” Dengan mata agak berkaca-kaca.
Setelah mereka makan, mereka ngobrol diruang keluarga, sembari menemani Nino bermain robot-robotan. Anggie nampak akrab dengan keluarga Mario, begitupun dengan keluarga Mario yang menyambut Anggie dengan ramah tamah. Tiba-tiba seseorang mengucap salam dari depan rumah.
“Aku pulang..”
Dan seseorang pun muncul dari balik pintu, yang ternyata adalah Mario. Mario nampak terkejut melihat keadaan rumahnya yang mendadak ramai di penuhi teman-temannya, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah melihat keberadaan Anggie di rumahnya.
“Anggie?” Bingung Mario.
“Hai…” Sapa Anggie ramah.
“Ohh..akhirnya lo pulang juga..penghianat.” Teriak Miko.
“Yahh…kami sudah nunggu lo dari tadi.” Tukas Jimmy.
“Kayaknya lo hutang penjelasan ke kita, Yo.” Tambah Han.
Mario tak menghiraukan perkataan teman-temannya yang nampak penasaran,tapi dia malah mendekati Anggie.
“Apa kau sudah lama di sini?” Tanya Mario.
Anggie mengangguk sembari tersenyum. Mario dan Anggie pun keluar rumah, mereka mengobrol sendiri di teras depan rumah.
“Apa kamu marah aku datang ke rumahmu?” Tanya Anggie lembut.
Mario tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Anggie.
“Kenapa aku harus marah? Aku bahagia, karena kekasihku berkunjung ke rumahku.”
Lalu Mario memalingkan wajahnya menatap langit yang mulai senja.
“Ini pasti pertama kalinya kamu datang ke lingkungan yang kumuh seperti ini?”
Anggie memfokuskan pandanganannya pada Mario. 
“Memang kenapa kalau ini pertama kalinya buatku? Menurutku tak ada yang aneh dengan tempat ini? Lingkungan ini cukup nyaman, keluarga yang hangat, dan mamamu dia sangat baik padaku. Jadi sepertinya aku akan sangat betah  jika tinggal di sini.” Gurau Anggie.
Mario tersenyum mendengar gurauan Anggie yang sangat jujur itu.
“Apa kamu mau tinggal di sini bersamaku?” Goda Mario.
Anggie dengan cepat menganggukkan kepanya dan langsung mengiyakan tawaran Mario meski pun dia tahu Mario hanya bercanda.
 “Ya..aku mau. Kau yang menawariku. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik kembali. Kelak aku akan menagihnya.”
Anggie nampak bersemangat menanggapi kalimat Mario, karena seperti itulah perasaan Anggie. Mario merasa lucu dengan sikap Anggie.
“Kamu bersemangat banged ngomongnya.”
Anggie merasa malu, dia hanya tersenyum melihat wajah Mario. Dia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.
 “Sepertinya kamu akan dapat masalah. Teman-temanmu sedang menunggu penjelasanmu.” Kata Anggie.
“Hemmm…sepertinya begitu. Wajah mereka seperti serigala yang siap menyantapkku.”
Anggie dan Mario pun tertawa. Mereka terus berbincang dengan wajah sangat bahagia. Sementara pada waktu yang bersamaan, dari dalam rumah Han, Jimmy dan Miko sedang memperhatikan sepasang kekasih yang sedang berpecaran di teras.
“Liat wajah si penghianat itu! Sangat bahagia.” Kata Miko dengan wajah sinis.
Lalu Jimmy menimpalinya.
“Merahasiakan berita sebesar itu dari sahabatnya sendiri. Itunkah yang dinamakan sahabat?’
“Selama ini kita selalu membicarakan tuan putri Anggie, dan dia seolah-olah tidak mengenalnya dan tidak peduli. Benar-benar kurang ajar.” Timpal Han.
Lalu tiba-tiba seseorang ikut menyahut dari belakang, yaitu Marsya.
“Kalian sedang apa?” 
Mereka bertiga terkejut.
“Marsya?” seru Han.
“Ohh,….aku tahu. Kalian sedang menguntit kakakku pacaran? Wahhh…benar-benar.”
Kata Marsya.
“Bukan…bukan seperti itu.” Kata Jimmy.
“Lalu apa? Sudah jelas-jelas kalian sedang mengintip kakakku, masih saja ngeles.”
Mereka pun terus saling beradu mulut, dan sangat berisik. Sebenarnya Han, Miko, dan Jimmy tidak benar-benar marah. Mereka hanya sedikit jengkel karena Mario merahasiakan hubungannya dengan Anggie. Mereka cukup mengenal bagaimana sikap Mario yang sangat dingin, cuek, dan kurang suka berbagi cerita kehidupannya dengan orang lain. Dan teman-teman Mario pun cukup tahu jalan cerita hidup Mario seperti apa, karena sejak SMA mereka  sudah berteman, dan selama itulah mereka selalu berada di samping Mario, bahkan di masa-masa sulitnya. Dan suasana sore  di rumah Mario sangat hangat, berbeda dari sore-sore biasanya. Penuh dengan kebahagiaan, keceriaan, dan kasih sayang. Sampai pukul delapan malam, akhirnya Anggie  dan ketiga teman Mario Han, Miko dan Jimmy pun pamit pulang. Mario mengantar Anggie pulang ke rumahnya. Hari yang sangat berkesan bagi Anggie, dan tak akan pernah terlupakan.
***
Waktu terus berjalan, hari ini adalah kenyataan yang sedang kita jalani, esok adalah misteri dan kemarin hanya akan menjadi masa lalu yang akan kita kenang atau kita lupakan. Cinta terus memeberikan energi untuk kita bisa melewati waktu demi waktu.
------------ 
Hari ini genap satu bulan aku dan Mario jadian. Kebahagiaan tak pernah berhenti Mario berikan padaku. Sejak Mario hadir dalam hidupku, semua berubah, setiap malam aku hanya bersemangat menunggu pagi cepat datang, agar aku bisa segera bertemu dengannya. Tak pernah sekali pun ku lewatkan hari-hariku tanpa memikirkan Mario. Saat bahagia aku bersamanya, saat aku kesulitan dia memberiku jalan, saat aku mulai menyerah dia membawakan harapan. Itulah arti Mario dalam duniaku. 
Waktu sudah menujukkan pukul 3 pagi, sudah berjam-jam aku berada di depan komputer, tapi tak satu pun ide yang berhasil aku dapatkan untuk ku masukkan dalam skripsiku. Tumpukan diktat tak juga mampu membantuku memecahkan masalah yang diberikan oleh professor Herman. Di tengah kebuntuan otakku, ku lihat handphone di atas mejaku, sekilas muncul pikiranku tentang Mario. “Sedang apa dia sekarang?” Ku ambil handphone ku dan tak perlu lagi pikir panjang aku segera menghubunginya.
“Hallo…?” Terdengar suara Mario dari sebrang telpon. 
Mendengar suara Mario, hatiku langsung bergetar.
“Halo…” Balasku.
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuhku.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Aku tersipu mendengar kalimat Mario, sembari tersenyum sendiri seolah Mario sedang ada di hadapanku.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.” Tanya Mario lagi.
Tebakan Mario selalu benar, dia selalu tahu bagaimana suasana hatiku.
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?” Gurauku.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Aku pun  tertawa setelah mendengar ucapan Mario.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?” 
“Emhh…Mungkin.” Sombongnya.
“Apa coba?” Tantangku.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluhku.
“Apa aja?”
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.” Jelasku.
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.” Kesalku.
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.” Komentar Mario.
“Baru muncul?” 
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Aku seperti tersihir, Mario memang cerdas, pantas saja semua orang meminta bantuan padanya untuk mengerjakan sekripsinya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…” 
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
Aku bingung dengan ucapan Mario.
“Heh..?”
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
Aku terkejut bagaimana bisa Mario bicara seperti itu, apa sebutuh itukah dia dengan uang, hingga dia memasang tarif juga padaku.
“Berapa yang harus ku bayar?”
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Sudah aku duga, Mario bukanlah orang seperti itu. aku sangat lega.
“Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..” 
Deg….Mario mengatakan I love you? Hatiku berdegub sangat kencang mendengar ungkapan cinta dari Mario.
“I love you too.”
Dia pun menutup sambungan telepon. 
Aku langsung meloncat kegirangan. 
“Aku harus  segera menyelesaikannya..” Gumamku.
Mario memang sangat berpengaruh dalam hidupku, dia mampu memberiku semangat di saat aku hampir putus asa. Ku lakukan sesuai apa yang diajarkan Mario tadi, ku baca kembali materi yang aku tulis. Dan setelah beberapa kali aku baca, ternyata benar banyak pertanyaan yang muncul. Segera aku cari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, agara tidak menjadi pertanyaan lagi. Hingga waktu pukul 5 pagi aku baru meneylesaikan pekerjaanku. Dan aku pun tertidur.
---------- 
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, mungkin sebagian orang istirahat atau bersenang-senang di tempat hiburan, tapi tidak untuk Mario, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di  cafe jam 1 malam. Dia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya, hingga telephone genggamnya berdering. Tertulis jenis di layar itu adalah panggilan dari Anggie. Dia pun menghentikan langkahnya, lalu bersandar di tembok pagar rumah orang, kemudian mengankatnya.
“Hallo…” Jawab Mario.
Suara Anggie dari seberang telephone pun menjawab.
“Halo…”
“Emhh…kamu belum tidur?”Imbuh Anggie, dengan suara agak berat.
“Belum…aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Mario.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan malam-malam seperti ini?”Timpal Anggie.
Mario tersenyum mendapati Anggie terdengar penasaran.
“Aku sedang berpikir, sedang apa kekasihku sekarang.”
Tak ada jawaban dari Anggie, Mario pun meneruskan pertanyaannya.
“ Dari suaramu, seperti sedang kesusahan.” 
“Kamu punya indera keenam? Atau ternyata kamu seorang peramal?”
Anggie berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.
“Emhh..anggap saja seperti itu. Aku juga tahu sekarang kamu pasti lagi ngadep laptop, dengan wajah cemberut.” Tebak Mario lagi.
Terdengar suara tawa kecil dari sebrang telephone.
“Apa kamu juga tahu apa warna baju yang sedang aku pakai sekarang?” goda Anggie.
“Emhh…Mungkin.”
“Apa coba?” Tantang Anggie menggoda. 
Tapi Mario tidak menggubris tantangan Anggie, dia pun menanyakan lagi apa kesulitan yang dialami Anggie lagi.
“Katakan padaku, masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mario kembali serius.
“Tidak ada. Aku hanya sedang lembur kerjain sekripsi, terus tiba-tiba aku ingat sama kamu.”
“Ohh..begitu. Memangnya apa masalahnya?”
“Entahlah…banyak banged. Sampai pusing aku.” Keluh.
“Apa aja?”
Mario terus memancing Anggie tanpa Anggie sadari.
“Dia bilang di bab 1 ku tidak deskriptif, tidak ada pendahuluan yang mampu menjelaskan permasalahan yang di angkat.” 
“Bab 1, pendahuluan. “
“Hemm…kenapa dia harus mempermasalahkan bab 1 sekarang. Kenapa nggak dari awal, pas aku udah sampai bab terakhir.” 
“Benar juga,..tapi mungkin saja ada sesuatu yang baru muncul ketika semua telah selesai.” 
“Baru muncul?” 
“Hem…” Jawab singkat.
Beberapa detik Mario diam, seperti sedang berpikir, kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
“Dari bab pertama sampai bab terakhir semua itu saling berhubungan, dan bab pertama adalah bab di mana semua hal yang akan kamu bahas di bab-bab selanjutnya kamu definisikan. Jadi apa yang kamu tulis itu bisa dikatakan baik, jika setelah orang membaca tidak timbul pertanyaan.”
Anggie tak menjawab sepatah katapun, sampai Mario melanjutkan lagi komentarnya.
“Untuk mengetahuinya, cobalah kamu membacanya sebagai seorang pembaca bukan seorang penulis, yang tidak tahu apa arti dari judul itu, alasan dan tujuan yang melatar belakangi si penulis mengambil topik itu, dan bagaimana memecahkan masalah-masalah yang timbul dari topik yang di bahas.”
“Aku mengerti…”  jawab Anggie pasti.
“Emhh baguslah…”
“Terima Kasih..Mario.”
“Emhhh…apa hanya ucapan terima kasih?”
 “Heh..?”
Mario nampak tersenyum mendengar Anggie terkejut.
“Anak-anak di kampus memberikan aku bayaran ketika aku bisa memecahkan masalah sekripsinya.”
“Jadi aku harus membayar?”
“Tentu saja. Jangan karena kamu pacarku, kamu tidak membayar. Bisnis tetap bisnis.”
 “Berapa yang harus ku bayar?”
“Besok jika bimbingannya sukses, kamu harus kencan denganku.”
Wajah Mario nampak sangat puas mengerjai Anggie.
 “Deal?” Tanya Mario.
“Deal…”
“Okeh…aku akan tagih janjimu. Besok selepas bimbingan segera temui aku di restoran. tapi kalo gagal, jangan harap bisa ketemu denganku besok.” Goda Mario dengan nada mengancam.
“Apa kamu lagi ngancem?”
“Aku tidak mengancam, hanya peringatan untuk si bawel kayak kamu.”
“Okeh, aku akan buktikan. Sampai ketemu besok.”
“Ehmm…aku tunggu kabar baik darimu. Semangat…”
“Ehmmm…”
“I love you..” 
Sebuah pernyataan cinta akhirnya dia ucapkan.
“I love you too.”
Mario pun menutup sambungan telepon, lalu tersenyum dan melanjutkan perjalanannya sampai ke rumah.
--------------
Kring…..Kring….Kring…
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, jam weaker di kamarku pun berdering. Dengan kepala agak pusing dan mata masih ngantuk, aku mulai membuka mataku. Menyadari aku sudah terlambat, aku segera bangkit dari tidurku.
“ Gawat, aku ada bimbingan jam sebelas.”
Dengan sempoyongan aku ambil langkah seribu. Mandi, make up, semuanya aku lakukan dengan singkat. Ku kemasi bahan sekripsiku, lalu segera masuk ke mobil yang sudah di siapkan oleh pak Min.
“Pak Min, tolong cepat ya, saya ada bimbingan jam 11.” Pintaku pada pak Min yang siap untuk meneyetir.
“ Baik, Non.”
Dengan wajah panik dan gelisah aku terus melihat jam tangan, sambil sesekali meminta pak Min untuk lebih cepat menyetir. Untung jalan sudah tidak begitu macet, jadi aku bisa lebih cepat sampai ke kampus. Ku lihat jam di tangan sudah pukul 12. Aku berlari dari parkiran menuju ruangan dosen pembimbingku, professor Helmi. Dari jauh ku lihat professor Helmi sedang berjalan meninggalkan ruangannya. Aku mempercepat langkahku, berharap professor Helmi masih berkenan memberiku waktu untuk konsultasi.
“Proff… permisi. Maaf saya terlambat.” Ucapku dengan nafas terengah-engah.
“Maaf saya banyak urusan. Saya tidak ada waktu untuk melayani mahasiswa tidak disiplin seperti anda.” Ketus Profesor Helmi sembari terus berjalan menuju lift.
Aku terus mengikuti langkah professor Helmi dengan terus meminta maaf dan juga kesempatan untuk bisa berkonsultasi.
“Saya tahu saya salah prof, tapi saya mengerjakan ini semalaman, saya mohon professor berkenan memberikan saya waktu sedikit saja, agar saya bisa meperlihatkan hasil kerja saya. saya mohon.
Tepat di depan lift dia berhenti.
“Aku tidak punya banyak waktu, 10 menit lagi saya ada kelas di Komunikasi.”Tegasnya.
Lemas sudah kakiku, sepertinya tak ada lagi kesempatan dar professor Helmi.
“Anda punya waktu dari sekarang sampai lift naik di lantai 4.”
Ternyata professor Helmi memeberiku kesempatan, meskipun hanya beberapa menit aku akan menggunakan waktu yang singkat itu. Tepat saat kami masuk ke dalam lift aku menyerahkan bahan sekripsiku kepada professor Helmi. Sembari professor Helmi membaca bahan sekripsiku aku menjelaskan beberapa point penting yang sudah ku perbaiki yang sebelumnya sempat di permasalahkan oleh professor Helmi. Ketika lift menunjukkan angka 4, kami pun keluar, dan waktu yang diberikan oleh professor pun habis. Sepertinya beliau sudah selesai membaca  bahan sekripsiku dan mengembalikannya kepadaku. Raut wajah professor Helmi sangat datar, sehingga tidak bisa menebak apakah beliau menerima atau tidak pekerjaanku.
“Sepertinya kamu sudah paham apa yang saya maksud.”
Mendengar kalimat professor Helmi aku agak ragu, apa maksud dari perkataan beliau.
“Maksudnya?” Tanyaku ragu.
“Lusa temui saya jam 1 di ruangan saya, dan bawa halaman pengesahan naskah sekripsi kamu.”
“Jadi saya di acc pak?” Seruku riang.
“Iya…”
“Terima kasih pak, terima kasih.”
“Saya tidak suka orang yang tidak disiplin. Jika kamu terlambat lagi, saya tidak akan mau membimbing anda lagi.”
“ Siap pak. Saya janji, besok saya akan tepat waktu.”
Setelah professor helmi pergi, aku meloncat kegirangan.
“Akhirnya berhasil, terima kasih Tuhan. Mario harus tahu.”
Aku ingat setelah ini aku ada janji berkencan dengan Mario, aku meminta pak Min mengantarku ke restoran tempat Mario bekerja dengan di antar pak Min. Setelah mengalami beberapa kali macet, akhirnya 2 jam kemudian kami sampai di lokasi. Sesampainya di sana aku melihat Mario sedang sibuk melayani pengunjungnya..
“Bagaimana aku bisa lupa, ini kan jamnya dia kerja.” Gumamku.
Sejenak aku terpaku melihat Mario yang mengenakan seragamnya sama seperti saat pertama kali kami bertemu, di tempat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di luar, agar tidak mengganggunya bekerja. Aku terus berdiri di depan restoran menunggu Mario, 1 jam, 2 jam, 3 jam sudah berlalu, sampai akhirnya pukul 9 malam. Ku lihat lampu restoran mulai mati. Meski pun kaki kram karena terlalu lama berdiri, memikirkan sebentar lagi Mario keluar aku kembali bersemangat. Dan setelah hampir satu jam, akhirnya pintu restoran terbuka dan beberapa orang keluar dari sana, ku lihat Mario ada di antaranya.  Mario dan teman-teman kerjanya saling mengucapkan salam perpisahan. 
“Mario…” Sapaku lirih.
Entah dia mendengar atau tidak, tapi dia terkejut ketika berpaling melihatku sudah berdiri di depan restoran.
“Anggie,…?”
Dia pun menghampiriku.
“Sejak kapan kamu di sini?” 
“Aku…” Ketika hendak melangkahkan kakiku, tiba-tiba pandanganku kabur. Dan entah apa yang terjadi aku tak tahu lagi.
Aku mulai membuka mataku, dengan pandangan yang masih kabur ku lihat sorot lampu sedikit-demi sedikit aku mulai membuka mataku. Ku lihat di sekelilingku, sebuah dinding-dinding putih, bau obat yang menyengat. Aku masih belum sadar di mana aku sekarang, sampai ku dengar suara seseorang memanggil namaku. Suara itu sangat familiar, dan ketika ku alihkan pandanganku ternyata itu adalah Mario. 
“Anggie? Kau sudah sadar?” Tanyanya cemas.
“Mario ?” Tanyaku bingung.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.” Jelasnya.
Aku tidak berkata apa-apa.
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.” Jawabku lirih.
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu berdiri sejak siang?” 
 “Aku minta maaf…” Sesalku.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Sambil terus menatapku dia memegang kedua tanganku.
“Nggak papa, aku yang bodoh, saking semangatnya mau ketemu kamu, aku lupa kalo kamu lagi kerja.”
Mario pun mencium keningku dengan lembut, dan memelukku dengan erat. Rasanya hangat dan nyaman berada dalam pelukannya, sampai tak mau melepaskannya.
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Aku hanya menggeleng. Entah apa aku sudah gila, tak ada lagi rasa lapar yang aku rasakan sekarang adalah perasaan bahagia, nyaman, dan berbunga-bunga berada di samping Mario.
Dia pun mengambil semangkuk bubur nasi dan menyuapkannya padaku. Hanya beberapa sendok yang berhasil masuk, karena rasanya masih mual. Setelah dokter menyatakan kondisku membaik, aku pun di perbolehkan untuk pulang. Mario mengantarku pulang, hingga tiba di depan pagar rumahku, kami pun berpamitan.
 “Terima kasih, ya.”Ucapku.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.” Ucapku.
“Hemmm..”
Aku pun membalikkan badanku, dan beranjak meninggalkan Mario, tapi belum sempat ku langkahkan kaki, tiba-tiba Mario merengkuh tanganku.
“Anggie…”
Dia menarik tanganku, hingga aku jatuh dalam pelukakkannya. Dia memelukku sangat erat, dan meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. Matanya terus melihat ke dalam mataku, wajahnya semakin dekat dengan wajahku, sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibirku. Jantungku seketika berdetak tak beraturan, darahku seketika mendidih. Dia terus mengecup bibirku, dan akhirnya kami pun saling berbalas. Untuk beberapa saat waktu seakan berhenti, menikmati gejolak hati yang bergelora. Perlahan kami melepaskan ciuman kami, dan waktu pun kembali. Berbeda dengan sikap Mario yang nampak tenang, aku merasa kikuk dan salah tingkah sendiri.
“Ehmm…aku masuk dulu.” Ucapku.
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.” 
Aku pun berbalik dan beranjak pergi dengan perasaan tak karuan.
Dan Mario masuk ke mobil setelah aku masuk ke dalam rumah lalu pergi. Jantungku masih saja berdegub kencang. Ciuman lembut Mario masih sangat terasa di bibirku, wajahnya terus terlintas dipikiranku. Mario, aku sangat mencintaimu.
------------- 
Waktu sudah menunjukkan pukul 12, inilah waktu Mario mulai bekerja di restoran. Meski pun hanya tidur 2 jam setelah dia menyelesaikan proyek skripsi mahasiswa sepulang dia kerja semalam, dia tetap harus kembali bekerja di restoran. Berbeda dengan Anggie yang sangat antusias dengan kencannya, Mario terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia lupa jika dia ada janji dengan Anggie, bahkan dia juga tak menyadari jika sedari tadi Anggie menunggunya di luar. Sementara Mario sedang sibuk di dalam, Anggie tetap berdiri menunggu Mario dengan sabarnya. Malam pun mulai menjelang, waktu menunjukkan pukul 8 malam, saatnya restoran tutup. Sempat terpikir oleh Mario saat meilhat jam di tangannya, bagaimana keadaan Anggie. Dia teringat bahwa mereka sepakat akan berkencan seusai Anggie bertemu dengan dosen pembimbingnya.
“Kenapa dia tidak muncul?” Gumam Mario
“Apa dia gagal?”
Dia pun segera berkemas. Tak ada jadwal kerja di café, dia pun berniat untuk pulang. Bersama dengan karyawan restoran lainnya, dia keluar dari restoran. Ketika tengah berjalan keluar dari pintu restoran, seeorang memanggilnya. Dia menoleh mencari arah sumber suara tersebut, sesosok wanita cantik mengenakan blus warna biru laut tengah berdiri di depan etalase restoran. Anggie, dialah wanita cantik.
“Mario….” Panggilnya lirih.
Wajahnya terlihat pucat.
 “Anggie,…?”
Mario mulai mendekati Anggie.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Mario heran.
“Aku…” 
Belum sempat Mario sampai Anggie sudah terjatuh di lantai. Mario pun berlari menghampiri Anggie, dan mendapati Anggie sudah tak sadarkan diri.
“Anggie, bangun…nggiiee…!! Anggie…”
Tanpa pikir panjang Mario menggendong Anggie dan membawanya ke rumah sakit. Jalan Jakarta yang macet malam itu, membuat Mario memutuskan untuk tetap membawa Anggie dalam gendongannya dan mencari rumah sakit terdekat. Untung saja 100 meter dari restoran tempat Mario bekerja, ada sebuah rumah sakit. Sesampainya di sana Anggie langsung ditangani oleh medis. Meski pun nampak tenang, tapi sepertinya Mario cukup cemas dengan keadaan Anggie, nampak saat dokter keluar dari ruang UGD dia langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Anggie.
“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” cemas Mario
“Anda keluarga pasien?” tanya dokter.
“Bukan, saya teman..nya.” Jawab Mario.
“Hemm…pasien menderita anemia.“ Jelas dokter.
“Anemia? Lalu bagaimana dia sekarang?”
“Sekarang sudah tidak apa-apa, kami sudah menanganinya. Hanya saja tubuh pasien kekurangan cairan dan tidak ada asupan nutrisi, jadi kondisinya lemah seperti itu. Lain kali tolong dijaga makanya, dan banyak-banyak minum air putih ya.” 
“Baik dok. Terima kasih.”
Selepas dokter pergi, Mario segera menemui Anggie yang masih tak sadarkan diri. Mario duduk di samping Anggie, lalu memegang jemari anggie yang lemah. Entah apa yang di pikirkan Mario saat itu, tak ada suara, tak ada kata, hanya diam dan terus menatap wajah Anggie. Waktu terus berjalan, tapi Mario tetap terjaga menemani Anggie, tanpa tidur sekali pun. Hingga hari berganti, Anggie pun  mulai tersadar, dan membuka matanya. 
 “Kamu sudah sadar?” Tanya Mario sembari tersenyum.
“Mario…?”
Wajah Anggie nampak kebingungan.
“Kamu tadi pingsan di depan restoran, jadi aku membawamu ke rumah sakit.” 
“ Kenapa kamu nggak bilang kamu udah datang, aku kan bisa ijin?” Tambah Mario.
“Kamu lagi kerja, aku nggak enak ganggunya.” 
“Tapi seenggaknya kamu bisa nunggu di dalam aja. Satpam restoran bilang kamu sejak siang di sana.”
Dia hanya mengangguk.
“Aku minta maaf…” 
Tak banyak yang dikatakan Anggie, hanya ucapan maaf yang ia lontarkan.
“Kamu nggak perlu kinta maaf, aku yang seharunya minta ma’af, aku yang salah. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu datang ke restoran.”
Mario pun mulai mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Anggie, lalu memeluknya dengan erat. 
“Ya udah. Sekarang kita makan yah. Kamu mau makan apa? mau sup?” Tanya Mario.
Dengan sabarnya Mario merawat Anggie, dia pun menyuapi Anggie dengan semangkuk bubur nasi. Mereka nampak sangat serasi layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Mario seperti energy bagi Anggie, senyum Anggie terlihat sangat bahagia jika bersama Mario.
Melihat kondisi Anggie sudah cukup baik dokter pun memperbolehkannya untuk pulang. Mario pun mengantar Anggie pulang ke rumahnya.
“Terima kasih, ya.” Ucap Anggie.
“Iya..”
“ Sampai jumpa.” 
“Hemmm..”
Mereka pun berpamitan, namun ketika Anggie hendak membalikkan badan, Mario merengkuh tangan Anggie.
 “Anggie…” 
Mario menarik tangan Anggie, dan membawanya jatuh di pelukannya. Lalu kedua tangan Mario di tempelkannya di pipi Anggie, wajahnya semakin mendekat ke wajah Anggie. Kedua mata mereka saling beradu satu sama lain, kemudian bibir mereka pun saling beradu, sangat mesra. Untuk beberapa saat dunia mereka terhenti, dan menikmati adegan tersebut. Hingga mereka mulai melepaskan ciuman tersebut, suasana pun menjadi canggung. Anggie pun mengakhiri kecanggungannya. Dia berpamitan dengan Mario.
 “Ehmm…aku masuk dulu.” 
“Emhh..aku juga mau pulang. Masukkalah..!” Pamitnya.
“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.” 
Dan mereka pun mengakhiri drama romantik mereka untuk pagi itu dengan pulang ke rumah mereka masing-masing.
------------- 
Tak ada yang tahu hari seindah ini akan terjadi pada Anggie, tak ada yang tahu pria sesempurna Mario akan hadir dalam hidup Anggie yang kelabu. Karena kemarin, hari ini, dan esok adalah tak akan ada yang tahu jika kita belum menjalaninya.